<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146</id><updated>2012-02-16T09:22:30.652-08:00</updated><title type='text'>Ahsan Hakim</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>46</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-7846597963425866668</id><published>2011-11-14T08:20:00.000-08:00</published><updated>2011-11-28T00:16:23.487-08:00</updated><title type='text'>HAM vs HSM</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siapapun yang mengklaim bahwa kepentingan manusia –menurut pendapatnya- tidak sesuai dengan apa yang disyariatkan Allah, maka sedikitpun ia tidak berada dalam agama ini dan tidak pula termasuk pemeluknya.”&lt;/span&gt; [Sayyid Quthb]&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-9PVK-EztQ-E/TsFAsvU6LLI/AAAAAAAAATQ/UmmUhdsmWf0/s1600/302444_1988666011251_1681353746_1333756_701434471_a.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 123px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-9PVK-EztQ-E/TsFAsvU6LLI/AAAAAAAAATQ/UmmUhdsmWf0/s200/302444_1988666011251_1681353746_1333756_701434471_a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674888142826122418" /&gt;&lt;/a&gt;Jika bahasa Sanskerta mengurai makna agama sebagai gabungan dari kata A dan Gama yang berarti “tidak kacau”, -terlepas dari benar tidaknya definisi tersebut- maka adakah saat ini aturan yang mengacaukan agama itu sendiri? Jawabannya, ada. Celakanya, konsep itu dekat dengan bahasa keseharian kita, bahkan mungkin sudah mendarah daging dengan pemahaman kita, sehingga ketika saya usik dengan tulisan ini, akan ada yang mengerut, mengerjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya maksudkan di atas adalah konsep Hak Asasi Manusia, atau yang peka di telinga kita dengan istilah HAM, sebuah konsep yang seringkali diacung-acungkan untuk membela hak kemanusiaan, yang tak jarang perannya dimaknai lebih tinggi daripada hak ketuhanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih membekas dalam ingatan kita, ketika ramai-ramai kelompok Liberal dengan gaya Macho alias &lt;span style="font-style:italic;"&gt;-sorry-&lt;/span&gt; “maju chochote” berada di garda depan untuk membela aliran-aliran menyimpang dalam Islam. Umumnya, dalam pembelaan itu mereka menjadikan otoritas pasal 18 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), untuk dijadikan bemper membebaskan penafsiran keagamaan. Alhasil, malaikat Jibril versi parodi yang digagas oleh Lia Eden pun dianggap berhak menjalankan dan menyebarkan ajarannya, begitu juga jemaat Ahmadiyah dan seterusnya. Bahkan tidak luput persoalan homoseksual dan lesbian, yang kemudian muncul mujtahid abal-abal mahasiswa Fakultas Syariah di Semarang dengan menerbitkan jurnal bertemakan: Indahnya Kawin Sesama Jenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia semacam itu, barangkali mengira Allah Swt kurang mengerti kepentingan manusia, sehingga ketika Allah membuat aturan, boleh jadi melanggar hak-hak makhluk yang diciptakan-Nya sendiri! Dan jika benar demikian, artinya mereka secara eksplisit telah menuduh lugu Allah Swt ketika melontarkan sebuah pertanyaan dalam kitab suci-Nya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan)…?”&lt;/span&gt; [Al-Mulk, 14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jika masih ada orang yang –terlebih mengaku Muslim- berseloroh mengapa Allah suka ikut campur dalam urusan pribadi seseorang, maka saya angkat tangan dengan orang macam ini. Saya nggak tanggung. Betulan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu dipahami, kisruh penerapan konsep Hak Asasi Manusia sejatinya tidak terlepas dari sejarah munculnya konsep tersebut. Maka yang harus ditelusuri pertama kali sebelum kita latah menggunakan istilah itu, adalah dengan mengetahui latar belakang kemunculannya, juga landasan aplikasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, usut punya usut, istilah Hak Asasi Manusia lahir melalui “jabang bayi” Revolusi Perancis, di mana antara para tokoh borjuis dan tokoh gereja pada saat itu berkoalisi untuk merampas hak-hak rakyat. Akibat penindasan panjang yang dialami masyarakat Eropa dari kedua kaum tersebut, muncullah perlawanan rakyat yang akhirnya berhasil memaksa para raja mengakui aturan tentang Hak Asasi Manusia. Hingga pada akhirnya ditetapkan deklarasi Internasional HAM pada 10 Desember 1948.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas dari sejarah itu, bisa dipahami bahwa umat Muslim sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan lahirnya konsep tersebut. Umat Muslim punya sejarah sendiri ketika dibebaskan hak asasinya sejak diutusnya Rasulullah Saw menyampaikan risalah Islam. Hal itu ditegaskan pada hari Jumat, 9 Dzulhijjah 10 H (6 Maret 632 M), saat Rasulullah Saw menyampaikan ‘khutbah perpisahan’ di hadapan ribuan jamaah haji di bukit Arafah. Hari itu merupakan monumen dalam sejarah pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi manusia.  Dalam khutbahnya, Nabi Muhammad Saw dengan tegas menolak rasisme apapun bentuknya, dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;superiority complex&lt;/span&gt; hingga diskriminasi dan perampasan hak orang lain. Beliau menyerukan kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan jauh sebelum Revolusi Perancis meneriakkan slogan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“liberte, egalite, fraternite”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu direnungkan adalah bahwa, selain manusia, Allah juga punya hak! Jika manusia –sebagai makhluk yang diciptakan- memiliki hak untuk dipenuhi kebutuhan fithrahnya, maka Allah –yang Maha Menciptakan- mempunyai hak untuk ditaati. Dan jangan ditanya, sudah barang tentu hak Allah lebih tinggi daripada hak manusia. So what, jika hak manusia dianggap lebih utama, memangnya siapa manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, sebagai manusia kita harus berlaku “fair”. Allah sudah memberikan kebebasan berekspresi kepada semua makhluk-Nya, dengan catatan, tidak menyalahi koridor yang telah ditetapkan-Nya. Hal ini wajar, sebab Dia-lah yang Maha Menciptakan, sebab Dia-lah yang Maha Mengetahui aturan yang haq yang akan memberikan maslahat kepada seluruh makhluk yang telah diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, istilah Hak Syar’i Manusia (HSM) akan lebih tepat digunakan tinimbang istilah Hak Asasi Manusia (HAM) –dalam kaitannya dengan konsep kebebasan seorang Muslim-. Jika istilah yang pertama dapat dengan jelas dipahami berlandaskan syara’, maka istilah yang kedua masih samar dimengerti pijakan dan parameternya, di samping juga harus dipahami sejarah kemunculannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janggal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya juga berpikir demikian. Aneh-aneh saja kesannya. Namun setelah saya renungkan; jika HSM dianggap sebagai semacam istilah bid’ah yang tertolak dalam Islam, maka HAM tidak hanya bid’ah yang tertolak, tetapi juga terbuang di jamban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini mari kutunjukkan padamu istilah De-Islamization of Language yang digagas oleh Prof. Naquib Al-Attas. Beliau mengatakan, jika umat Muslim dirusak dari sisi bahasanya, maka akan kacau pula pemahamannya. Dan benar, selain HAM di atas, banyak umat Muslim saat ini yang mulai fasih menyetir istilah-istilah “impor” lainnya semisal Demokrasi, Pluralisme, Emansipasi, sampai klasifikasi Islam Ekslusif-Inklusif, atau Radikal-Moderat, meski tak jarang mereka sendiri tidak mengerti latar belakang dan seluk beluk istilah-istilah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya, ada yang kemudian menciptakan definisi baru –dari istilah asing tersebut- dengan definisi yang telah diislam-islamkan, dengan dicomotkan berbagai dalil yang disambung-sambungkan (baca: dipaksakan) di tengah definisi aslinya yang terus eksis dan digulirkan. Sehingga satu istilah dengan bercabang definisi ini, ketika disoroti kesalahannya, argumen mereka mirip dengan argumen maling yang, ketika akan diringkus, berusaha mengelak dengan berkata, “Definisi Anda tentang ‘maling’ itu keliru!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, di penghujung tulisan ini, akan saya sertakan sebuah kutipan yang merupakan penutup salah satu bab dalam buku Ma’alim fie ath-Thariq karya Sayyid Quthb, sebagai penjelas serta bahan renungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simaklah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kepentingan kamanusiaan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;human interest, mashlahatul-basyar&lt;/span&gt;) adalah hal yang seharusnya membentuk realitas mereka sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sekali lagi, kita kembali pada pertanyaan yang dimunculkan Islam dan kemudian dijawabnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah kalian yang lebih tahu ataukah Allah?&lt;br /&gt;Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui!&lt;/span&gt; [Al-Baqarah, 216]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepentingan manusia sebenarnya telah tercakup dalam syariat Allah, sebagimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya dan disampaikan Rasulullah Saw dalam Sunnahnya. Seandainya suatu ketika manusia beranggapan bahwa kepentingan mereka tidak sesuai dengan apa yang telah disyariatkan Allah bagi mereka, maka di sini ada dua kemungkinan. Pertama, mereka memahaminya secara keliru karena sebatas apa yang tampak secara lahir, sebagaimana firman Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka. Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.”&lt;/span&gt; [An-Najm, 23-25]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kedua, mereka termasuk kaum kafir. Karena, siapapun yang mengklaim bahwa kepentingan manusia –menurut pendapatnya- tidak sesuai dengan apa yang disyariatkan Allah, maka sedikit pun ia tidak berada dalam agama ini dan tidak pula termasuk pemeluknya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallahu a’lam bish-Shawab.&lt;/span&gt; []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-7846597963425866668?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/7846597963425866668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2011/11/hsm-hak-syari-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7846597963425866668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7846597963425866668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2011/11/hsm-hak-syari-manusia.html' title='HAM vs HSM'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-9PVK-EztQ-E/TsFAsvU6LLI/AAAAAAAAATQ/UmmUhdsmWf0/s72-c/302444_1988666011251_1681353746_1333756_701434471_a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-8510237365361773279</id><published>2011-10-12T00:06:00.000-07:00</published><updated>2011-10-12T00:14:58.897-07:00</updated><title type='text'>HUBBUL WATHAN MINASY-SYAITHAN</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;    &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nasionalisme!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Adalah tempat tinggal yang kita bela&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nasionalisme!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Untuk negara ini adalah pertanyaan&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nasionalisme!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Untuk negara ini menuju kehancuran&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nasionalisme!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Untuk bangsa kami menuju kehancuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[KOIL, Dunia Dalam Fantasi]&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hubbul wathaan minal-iimaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa ungkapan itu masih terngiang di kepala ketika berapi-api saya menghafalnya di sebuah kelas tua Madrasah Ibtidaiyah. Ini perkataan Nabi Muhammad saw., kata Ibu guru saya, yang menandakan bahwa kecintaan seseorang terhadap tanah air merupakan salah satu bukti keimanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergemuruhlah saya, berkobarlah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah Ibu guru saya –semoga Allah memperpanjang umur dan melindunginya-, menyampaikan pelajaran PPKN itu dengan tulusnya. Namun belakangan saya menjadi mengerti, bahwa ternyata ungkapan yang disebut-sebut sebagai hadits nabi itu, palsu belaka. Itu artinya, Ibu guru saya –dan tentu pula banyak guru-guru yang lainnya-, secara tidak sadar telah diperalat oleh segerombolan setan golongan manusia untuk menyebar hal yang dusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sampai saat ini, siapapun tahu bagaimana kondisi umat Muhammad saw: Maraknya penyiksaan, perampasan, penyesatan, pemberangusan, serta pemerkosaan dan pembunuhan. Semua itu bisa ditemukan keberadaannya di Afghanistan, Cechnya, Iraq, Palestina, Kashmir, Bosnia, Filipina, dan entah di mana lagi di pelosok dunia yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka inilah iman! Inilah ”hubbul wathan minal-iman” ketika permasalahan umat Muslim di negara lain adalah urusan bangsa mereka sendiri, yang tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan negara kita. Inilah ”hubbul wathan minal iman”, ketika negara dengan patriotisnya membela kehormatan model bohai Manohara atas perlakuan pangeran Kelantan –yang notabene suaminya-, sementara jauh-jauh hari kehormatan Muslimah yang diperkosa [bergilir-belasan-kali-sehari] di Abu Ghraib hanya dipandang sebelah mata. Inilah ”hubbul wathan minal iman”, ketika berkobar-kobar supporter bola mendukung timnas PSSI yang dipecundangi Malaysia di final Piala Asia, namun di saat yang sama tak pernah terbesit dalam jiwa mereka untuk mendukung para Mujahidin yang didamprat habis-habisan oleh pasukan Amerika, dan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah ”hubbul wathan minal iman” saudara-saudara, ketika tentara Angkatan Laut membekuk nelayan Malaysia yang nyelonong dan nyolong ikan teri di perairan nusantara, namun di saat yang sama membiarkan tanah kaum muslimin di Palestina dirampok dan dijarah oleh Israel dengan brutalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman, saudara. Inilah iman...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebelum kita dikatakan tidak beriman oleh orang-orang yang mengaku paling beriman dengan nasionalismenya, ada baiknya kita mengerti dulu apa itu nasionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme, atau yang sering didefinisikan sebagai suatu ikatan untuk mempersatukan sekelompok manusia berdasarkan kesamaan identitas sebagai sebuah bangsa. Dari definisi ini, term “bangsa” dalam praktiknya telah memiliki makna luas bahkan terkadang bersifat imajiner. Sebagaimana dalam wacana politik mutakhir, yang menyebutkan bahwa pengertian “bangsa” ternyata lebih bersifat imajinatif (Benedict Anderson, 1999). Hal ini disebabkan karena kesamaan “bangsa” kadang bisa bermakna kesamaan ras, sejarah, budaya, bahasa dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja penduduk pesisir timur Sumatera, yang sebetulnya tidak hanya lebih dekat secara fisik dengan penduduk di semenanjung Malaysia sebelah barat, tetapi juga mereka adalah satu suku, sehingga bisa saling memahami adat dan bahasa masing-masing. Namun kemudian mereka “berimajinasi” sebagai dua bangsa yang berbeda, dan menganggap bahwa mereka merupakan bangsa asing satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah tetapi gilanya, penduduk Sumatera yang tidak ada sangkut pautnya dengan embah buyut masyarakat Maluku dan Papua, ternyata imajinasi mereka berbicara bahwa mereka adalah satu bangsa. Maka di sinilah letak absurdnya pemahaman nasionalisme, di mana ‘suatu-kesamaan’ bisa menjadi bangsa yang berbeda, sementara ‘ketidak-singkronan’ dapat tergolong menjadi satu bangsa yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kemudian dapat disimpulkan bahwa, nasionalisme merupakan “bentuk ide kabur dari makna-makna yang kongkrit”, yang kebangkitan dan berkobarnya hanya bersifat insidental, memorial, dan penampakannya pun hanya berupa sikap sentimental bahkan emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akar nasionalisme di dunia Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang sejarah umat Islam, kaum muslimin tak pernah sebelumnya mengenal paham nasionalisme. Hingga kemudian pada abad 17, lahir upaya imperialis untuk memecah belah negara Khilafah dengan cara melancarkan serangan pemikiran, melalui para misionaris yang didirikan sepanjang abad 17, 18, dan 19, yang sebagian besarnya adalah dari Inggris, Perancis, dan Amerika. Tak cukup dengan itu, mereka juga membuat rekayasa-rekayasa politik rahasia untuk menyebarkan paham nasionalisme dan patriotisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sepanjang usaha itu pula, mereka menuai hasil ‘gatot kaca’, alias &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gagal total kakean cangkem&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barulah pada tahun 1857, penjajah mulai memetik kesuksesan tatkala berdiri Masyarakat Ilmiah Syiria (Syrian Scientific Society) yang menyerukan nasionalisme Arab. Sebuah sekolah misionaris terkemuka, Al-Madrasah Al-Wataniyah, pun didirikan di Syiria oleh seorang Kristen Arab (Maronit), Butros Al-Bustani. Nama sekolah ini menyimbolkan esensi misi Al-Bustani, yakni paham patriotisme (cinta tanah air, hubb al-wathan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah serupa terjadi di Mesir, ketika Rifa’ah Badawi Rafi’ At Tahtawi (w. 1873 M) mempropagandakan patriotisme dan sekularisme. Setelah itu, berdirilah beberapa partai politik yang berbasis paham nasionalisme, misalnya partai Turki Muda (Turkiya Al-Fata) di Istanbul. Partai ini didirikan untuk mengarahkan gerak para nasionalis Turki. Kaum misionaris kemudian memiliki kekuatan riil di belakang partai-partai politik ini dan menjadikannya sebagai sarana untuk menghancurkan Khilafah (Syaikh Afif Az-Zain, 1993). [www.learnerscientist.wordpress.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang kemerosotan Khilafah Utsmaniyah, kaum kafir telah berhimpun bersama, dimulai dengan mengadakan perjanjian Sykes-Picot pada tahun 1916, yakni ketika Inggris dan Perancis merencanakan untuk membagi-bagi wilayah kekuasaan Khilafah. Kemudian barulah pada 1923 dalam Perjanjian Versailles dan Lausanne yang dipelopori oleh si pemabok dan penggila seks akut, Mustafa Kemal at-Taturk, rencana itu mulai diimplementasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah saudara, Khilafah yang menjelang akhir hayatnya disebut-sebut sebagai “the sick man” oleh Tsar Nicholas I (Rusia), pada akhirnya pun modiar! Menjadi negeri-negeri ringkih dan "busung lapar" sebab dipecah belah menjadi 55 negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka inikah iman? Inikah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hubbul wathan minal iman&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal dalam praktiknya nasionalisme telah membuat tumpul fungsi sebuah dalil, “Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara.” [al-Hujurat, 13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam pun berbicara bagaimana umat seharusnya terikat dalam ikatan aqidah atau keimanan, bukan ikatan kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak tergolong umatku orang yang menyerukan ashabiyah (fanatisme golongan, termasuk nasionalisme).” [HR. Abu Dawud]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tentang kesatuan umat, secara tegas dan lugas Rasulullah saw. sudah menyampaikan, “Sesiapa yang datang kepada kalian, sedangkan urusan kalian terhimpun pada satu orang laki-laki (Khalifah), kemudian dia hendak memecah belah kesatuan kalian dan mencerai-beraikan jamaah kalian, maka bunuhlah dia!” [HR. Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum cukup, maka dalam Piagam Madinah (Watsiqah Al-Madinah) pun disebutkan, “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah kitab (perjanjian) dari Muhammad Nabi SAW antara orang-orang mu`min dan muslim dari golongan Quraisy dan Yatsrib…: ‘Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu (ummah wahidah), yang berbeda dengan orang-orang lain …” [Sirah Ibnu Hisyam, Juz II hal. 119] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, jika terdapat lebih dari satu pemimpin bagi umat Islam, maka lekatkanlah penglihatan kalian dalam hadits berikut, “Jika dibai’at dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” [HR. Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Kawan, di penghujung tulisan ini, sebelum nantinya terjadi kesalah fahaman yang berujung fatal, maka satu hal yang ingin saya sampaikan. Ungkapan kontroversial yang saya ciptakan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hubbul wathan minasy-syaithan&lt;/span&gt;, -yang boleh jadi akan dituduh bid’ah-ekstrem super-sesat oleh seseorang-, bukan kemudian saya maksudkan untuk mengharamkan mencintai tanah kelahiran. Karena nyatanya, nabi Muhammad saw. juga merasa berat hati meninggalkan tanah kelahirannya, Makkah, saat beliau berhijrah menuju kota Madinah. Hanya saja, ketika dalil palsu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hubbul wathan minal iman &lt;/span&gt;ini dipergunakan sebagai bemper untuk mengelabui umat Islam, maka percayalah, itulah setan. Dan bila Anda punya nyali, maka pada saat itu meludahlah ke arah kiri sembari berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hubbul wathan minasy-syaithan!&lt;/span&gt; []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-8510237365361773279?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/8510237365361773279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2011/10/hubbul-wathan-minasy-syaithan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/8510237365361773279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/8510237365361773279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2011/10/hubbul-wathan-minasy-syaithan.html' title='HUBBUL WATHAN MINASY-SYAITHAN'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-6877788762726085791</id><published>2011-10-04T19:29:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T08:37:53.773-07:00</updated><title type='text'>InspirAction! (for all who want to be writer)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-KovON8XVe_I/TphXM1KtQdI/AAAAAAAAATE/UKbyO7JPM6Y/s1600/pena.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 196px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-KovON8XVe_I/TphXM1KtQdI/AAAAAAAAATE/UKbyO7JPM6Y/s200/pena.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5663372409360433618" /&gt;&lt;/a&gt;Konon, masa-masa Arab jahiliyah dahulu telah merebak budaya jahiliyah. Yah, bagaimana tidak disebut jahiliyah, namanya juga zaman jahiliyah. Hehehe, ada-ada saja. Maksudnya, selain pada zaman itu masyarakat memang “hobi” menyembah bongkahan-bongkahan berhala, “gila” mengubur bayi-bayi perempuan mereka serta “gandrung” minum minuman keras dan memainkan wanita, sampai pula hal yang remeh-temeh dengan menganggap bahwa menulis merupakan aktivitas yang mampu merendahkan derajat dan wibawa manusia. Bayangkan saja, kurang lebih mitos umum pada waktu itu, orang yang menulis diyakini punya otak dengkul alias pikun, lalu dicap goblok. Karenanya, mau tidak mau mereka kebanyakan mengandalkan hafalan-hafalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun barangkali wajar, sebab umumnya masyarakat Arab –khususnya pada masa itu- memang memiliki daya ingat yang canggih. Terbukti ketika awal-awal Islam saja misalnya, para Sahabat dengan sangat mudah menghafal apapun yang disampaikan oleh Rasulullah, mulai dari Al-Qur’an hingga Hadits-hadits beliau saw..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, menghafal memang akan lebih tampak intelektual. Terkesan lebih mengesankan daripada dengan membuat catatan-catatan. Namun, ada namunnya. Seperti misalnya, katakanlah para penghafal ilmu pengetahuan sedang diundang menghadiri sebuah konferensi yang kebetulan diadakan di stadion Old Trafford. Mendadak, arak-arakan supporter Hooligan yang sedang merayakan pesta kemenangan timnas Inggris atas lawan beratnya, PSSI, melempar-lemparkan bom atom di sekitar tribun tamu undangan konferensi. Blar! Tak pelak bergudang-gudang ilmu yang tersimpan dalam otak menjadi musnah dan punah seiring dengan tewasnya para si empunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pula yang menjadi sejarah bagaimana Umar bin Khaththab r.a merasa risau karena banyaknya kaum muslimin yang hafal Al-Qur’an, gugur di medan pertempuran. Yakni ketika terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar r.a pada perang Ridda. Karena dilanda kekhawatiran yang teramat sangat itulah, Umar bin Khaththab lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur'an yang tersebar di antara para Sahabat. Zaid bin Tsabit r.a yang ditunjuk sebagai koordinator pelaksana tugas tersebut, setelah beliau merampungkan menyusun Al-Qur’an dalam satu mushaf, kemudian hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpannya hingga beliau wafat, sebelum kemudian mushaf tersebut berpindah tangan kepada Umar bin Kaththab yang menjabat sebagai Khalifah penerusnya. Selanjutnya, mushaf dipegang oleh anaknya, Hafsah, yang juga istri Nabi Muhammad saw., sebelum akhirnya Al-Qur’an distandarkan penulisannya dalam mushaf Utsmani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian secuplik sejarah sebagai pengantar sekaligus penekanan bahwa menulis itu betul-betul perlu! Diperlukan untuk mengikat ilmu, sebagaimana ungkapan Ali bin Abi Thalib r.a, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha, Mas, masalahnya saya merasa nggak punya ilmu, lalu apanya yang diikat? Hmm, ikat apa saja, asal jangan mengikat lehermu. Itu mah bunuh diri namanya! Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begini saudara-saudara, karena tulisan ini dibuat eksklusif bagi siapapun yang menyadari akan wajib dan pentingnya dakwah, maka saya hanya akan melontarkan satu jawaban saja: Jangan mati suri! Sebab dengan modal kesadaran (baca: hidayah) justru merupakan tonggak, merupakan ‘batu lompatan’ untuk menggapai ilmu yang seluas samudera. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Memiliki imajinasi saja tidaklah cukup. Anda harus dapat benar-benar masuk menembus ke dalamnya, merasai seluruh isinya.”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Stephen King]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Aktivis dakwah, jangan omdo!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali judul di atas terkesan radikal, frontal dan bengal. Tapi tenang saja, saya tidak akan seliar itu menuduh aktivis dakwah hanya melakukan omong kosong tanpa melakukan “kerja”, dalam arti yang sebenarnya. Sebab kerja ternyata bukan hanya gerak tangan dan kaki, tapi juga gerak bibir! Waw, gerak bibir? Kamu jangan keburu horni membaca istilah itu! Gerak bibir di sini dimaksudkan sebagai penyampaian secara lisan, sebut saja pekerjaan guru dan penceramah. Lha, yang kerja dengan tangan dan kaki, maka cukup terwakili oleh kuli bangunan. Hahaha, saya bergurau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada ‘omdo’. Yang dimaksud omdo di sini memang singkatan dari ‘omong doang’, dalam arti, melakukan gerak dakwah hanya pada ranah retorika bicara. Padahal faktanya, ada begitu banyak lahan dakwah yang belum terurus dengan baik dan maksimal. Salah satunya, menulis. Lahan subur yang dulu sempat digarap sangat baik oleh para Ulama’ pada zaman keemasan, ternyata kini beralih didominasi oleh orang-orang yang tidak memiliki orientasi dakwah Islam, bahkan kemudian dimanfaatkan secara massif oleh para pembenci kebenaran: Orientalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak manuskrip-manuskrip karya para Ulama’ terdahulu misalnya, dirampas oleh kafir Barat, dipelajari dan dituangkan kembali ke dalam tulisan-tulisan dengan cara mengutip dan memelintir kebenaran substansinya. Hal ini dilakukan karena mereka yakin, bahwa tulisan-tulisan Ulama’ itu “bernyawa”, lebih berbahaya dari keberadaan penulisnya sebab tuangan ilmu dalam bentuk tulisan tidak akan lapuk oleh dimensi tempat dan waktu. Ia akan senantiasa menggasing mengokohkan keyakinan dan pemahaman, untuk kemudian menjadi baju zirah sekaligus meriam jika dipertahankan keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh pada beberapa dekade terakhir saat ini, Islam dan kaum Muslimin diberangus oleh mbahnya teroris Israel dan Amerika. Dan lagi-lagi sayangnya, ia dimulai dengan cara membuat rekayasa opini publik, baik itu lewat media elektronik maupun media cetak dan online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa yang didengungkan oleh Tony Blair di Washington Institute for Near East Policy - New York dengan istilah “revolution in thinking in the fight against Islam”, ia menyerukan ide melawan “narasi“ kaum Muslimin untuk membius pemahaman masyarakat dunia, “menina-bobokkan” umat Muslim dari aktivitas yang disebutnya ekstrim dan teror (baca: Jihad). Kiranya seruan tersebut menyerupai ide Deradikalisasi di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sayangnya, kebanyakan dari para aktivis dakwah baru bisa menyangkal melalui lisan belaka. Yang tentu sangkalan itu mudah menguap di udara, itupun belum lagi jika kita merasa letih dan bosan sehingga membuat kita berhenti untuk menyampaikan. Dengan demikian, hendaknya ada keseimbangan antara dakwah lisan dengan dakwah tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Finally, the main point,&lt;/span&gt; menulis adalah satu dari sekian uslub dakwah paling efektif untuk memberikan pemahaman kepada umat. Selain bahwa tulisan akan dapat dibaca oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun, ia juga dapat menjadi amal jariyah yang terus mengucur, insya Allah, sebagaimana karya-karya Ulama’ terdahulu yang masih terus memotivasi, mengobarkan ruh serta memancarkan cahaya ilmu. Dibaca dan dimanfaatkan oleh generasi kini, hingga saat ini. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Saya pikir, hal terbaik menjadi seorang penulis adalah kita dapat mereka-reka segala sesuatu sekaligus mengatakan kebenaran pada saat yang sama.”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Kyoko Mori]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dari mana seharusnya memulai menulis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sarankan, menulislah mulai dari paragraf pertama. Sebab jika dimulai dari paragraf terakhir, besar kemungkinan akan mengakibatkan otakmu juling. Hahaha, saya bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya setelah diprovokasi, seseorang mudah menggebu-gebu ingin memulai menumpahkan apapun yang ada dibenaknya ke dalam bentuk tulisan. Hanya saja, seringkali semangat tersebut kemudian mandeg gara-gara dihantui sebuah ‘pertanyaan setan’, “Bagaimana caranya? Saya kan belum menguasai teknis menulis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka solusi paling mujarab untuk mengatasi problem itu sebenarnya cukup simple. Adalah Gertrude Stein, penulis Amerika yang mempelopori perkembangan sastra modernis ini, ketika ia diminta untuk memberikan petuah sakti kepada para penulis pemula, alih-alih ia memberikan teori-teori menulis yang njlimet dan ruwet, ia malah cukup merapal sebuah mantra: “Menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahaha, kamu boleh terpingkal-pingkal membaca petuah gila itu. Tetapi memang benar adanya, sebab adakalanya untuk mengatasi sesuatu yang kita anggap momok, maka cukup dibutuhkan sikap ‘nekat’ untuk berhadapan dengan momok itu sendiri. Maka, tulis saja apapun yang bisa ditulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu terpaku dengan membanding-bandingkan kualitas tulisanmu dengan karya-karya penulis yang sudah melejit namanya seperti karya-karya analisis politik-nya Samuel Huntington dan novel-novel Thriller-nya Dan Brown. Tak perlu berhasrat mencocok-cocokkan tulisan pertamamu dengan masterpiece-nya Habiburrahman El-Shirazi atau Andrea Hirata. Sebab, jawabannya sudah jelas: Pasti njomplang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, jika kamu perfectionist, sok sempurna, ini akan menyulitkanmu dan seringkali ujung-ujungnya akan membawa putus asa. Karena sebetulnya, proses memulai menulis itu juga berarti mencoba memaafkan tulisan pertamamu yang, amit-amit amburadul dan membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nih, saya kasih tahu nih: Penulis itu, seseorang yang ketika bayi ia belajar melangkah dan berbicara. Penulis itu adalah Ibnu Hajar Al-Atsqolani yang memahami bahwa tetes-demi-tetes air dapat melubangi batu cadas. Nah tetapi, jika kamu tetap ngotot menjadikan karya-karya penulis tersohor itu sebagai tolok ukur, baiklah. Hanya saja, cukup jadikan ia sebagai motivator atau ‘guru’, bukan dijadikan semacam ‘rival’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap paling realistis bagi penulis pemula adalah seperti yang dikatakan oleh Kuntowijoyo. Ia bersaran, jika seseorang ingin menjadi penulis, maka cukup mulai saja menulis, baru selanjutnya lanjutkan menulis, kemudian ulangi lagi menulis. Enak toh? Mantep toh? Tuangkan apa saja yang kita mau dan jangan sekali-kali memperhatikan terlebih dulu EYD serta segala macam tetek bengek aturan menulis. Itu saja intinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk memulainya, tulis hal-hal yang dekat dengan kita. Entah itu berupa perasaan yang sedang dialami, atau segala permasalahan yang sedang mencuat di sekitar. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membuat catatan atau bahkan buku harian. Dengan demikian, kebiasaan seperti itu dapat berfungsi agar seseorang dapat melatih kepekaan dalam menggunakan pilihan kata yang dituliskan. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Terkadang, kata yang paling sederhana adalah yang paling indah, juga paling efektif.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Robert Cormier]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Inspirasi dan eksplorasi ide menulis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali di sini letak biang keladinya. Seringkali saya mendapat keluhan tentang bagaimana caranya memunculkan ide menulis, sebab, ketika seseorang kehilangan inspirasi, biasanya berakibat pada berhentinya aktivitas menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hendaknya hal itu tidak dijadikan beban. Mencari inspirasi sebenarnya tak sesulit seperti yang kita bayangkan. Karenanya, kamu tak perlu melakukan ritual-ritual bid’ah untuk memunculkan inspirasi, tak perlu bertapa sembari menjalankan puasa-puasa sesat dan melurung sesaji. Sebab inspirasi dapat diperoleh dari apapun yang ada di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memunculkan inspirasi tidak seperti jelangkung yang datang tak dijemput pulang tak diantar, ia bisa diraih dengan cara diciptakan, bahkan dengan cara melihat hal-hal yang paling sederhana. Inspirasi bahkan dapat muncul di segala tempat seperti misalnya pegunungan, taman, hutan, bahkan juga…jamban!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang dapat ditulis yang beberapa di antaranya adalah segala sesuatu yang menarik perhatian kita: hal-hal umum yang berkesan, sesuatu unik yang jarang ditemukan, sampai kemudian fenomena-fenomena masyarakat dan isu-isu politik yang sedang berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal sekarang masalahnya, seringkali ketika kita sudah mulai menuliskan ide yang ada di kepala, ternyata di tengah-tengah jalan mengalami deadlock, terkunci mati untuk mengembangkan. Dalam hal ini, Joan Didion membuat diagnosa, “Yang menyebabkan kalimat pertama begitu sulit adalah karena Anda terpaku padanya.” Sedangkan selebihnya, lanjutnya, “Semua yang lain akan mengalir dari kalimat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk satu hal yang jarang disadari adalah, sikap tergesa-gesa untuk mengedit naskah atau draft pertama sebelum beres ide tertuang seluruhnya. Sebab seringkali sesudah menyibukkan diri mengedit kalimat-kalimat sebelumnya, kemudian otak yang sebelumnya berjubel ide cemerlang mendadak buyar seperti kawanan rusa yang tiba-tiba mengendus keberadaan singa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka benarlah apa kata John Steinbeck. Ia berpetuah, “Menulislah dengan bebas dan secepat mungkin, dan tuangkan semuanya ke atas kertas.” Kemudian tak lupa ia mewanti-wanti dengan mengeluarkan ‘fatwa’ garis keras, “Jangan sekali-kali melakukan koreksi atau menulis ulang sebelum semuanya habis Anda tuliskan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa seorang penulis ditekankan untuk menghindari pantangan mengedit sebelum naskah selesai? Sebab, dapat dipastikan akan membuat stamina menulis banyak terkuras di tengah jalan. Napas keburu ngos-ngosan sebelum mencapai garis finish, lalu membuyarkan ide yang sebelumnya ingin semuanya dikeluarkan. Maka bukan tidak mungkin, ia akan tewas di tengah jalan. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun..&lt;br /&gt;That’s it! Menulislah seperti serigala buas, menulislah seperti kencang larinya copet, menulislah seperti pelaku illegal logging yang membabat kayu di hutan-hutan Kalimantan, atau kalau boleh saya sebut perumpamaan paling ekstrim, menulislah seperti larinya bencong-bencong yang terkena razia Satpol PP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, sesudah naskahmu tuntas, barulah review dan edit tulisanmu yang –masya Allah- kacau balau itu. Hahaha, don’t take it personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini akan saya paparkan beberapa ramuan untuk mengasah memunculkan dan mengembangkan ide menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perbanyak membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan katakan kamu kurang (tidak) suka membaca lantas mengimpikan jadi penulis papan atas. Itu ngimpi! Ngimpi dalam arti yang sebenarnya. Saya hanya ingin sampaikan kepadamu seperti ini: jika kamu saja tidak bisa menghargai tulisan orang lain (dengan membacanya), lantas bagaimana orang lain kamu harapkan untuk menghargai tulisanmu? Tapi yang pasti, dan tak bisa dipungkiri, bahwa membaca merupakan salah satu hal yang menjadi “harga mati” untuk menambah wawasan dan mengasah intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sering interaksi dan sharing/berdiskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah pentingnya, diskusi akan menambah pula banyak wawasan. Bahkan kelebihannya, dengan sharing atau diskusi, kita dapat mengkomunikasikan, membandingkan, mengklarifikasikan bahkan memperdebatkan pengetahuan secara langsung. Begitupun dengan interaksi atau silaturrahim, ia bahkan dapat memperpanjang umur dan meluaskan rizqi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengikuti perkembangan isu-isu mutahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi ini penting. Fungsinya, agar otak kita tidak seperti museum jaman pra-sejarah, tidak seperti manusia pedalaman yang masih pakai koteka, agar otak kita tidak gagap oleh perkembangan informasi. Ada banyak media yang dapat memudahkan kita untuk membuntuti perkembangan informasi mulai dari elektronik, cetak, hingga online.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Menghadiri forum-forum ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini penting juga. Banyak wawasan intelektual yang akan kita dapat dari forum ini. Seperti misalnya seminar, talk show, bedah buku, sampai pula halqah atau liqa’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menjadi peneliti kecil-kecilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ini baru penting namanya. Hahaha, perasaan bosen banget dari tadi bilang penting mulu. Well, resep ini akan menjadikan tulisanmu lebih berbobot sebab, menulis memang tidak saja mengasah keterampilan menggunakan kata-kata, tapi juga harus lihai dalam akurasi data. Jadi tidak hanya piawai memainkan dan mengolah kata saja, tetapi juga memiliki referensi dan informasi yang berbobot di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Jadikan blog sebagai hobi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lain fasilitas ini sebagai sarana untuk memacu kita terus berkarya. Udah itu aja nggak usah panjang-panjang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Lebih bagus dengan mengikuti lomba-lomba menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab ia dapat memompa semangat untuk bersaing menciptakan karya yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, apa pula ini hubungannya? Hmm, pasti ada. Sekurang-kurangnya, dengan beribadah maka akan dapat menyegarkan dan menyucikan hati kita. Maka dengan kondisi itu akan mudah memunculkan inspirasi. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;That’s all.&lt;/span&gt; []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Saya suka menulis waktu saya merasa kesal; itu seperti bersin yang melegakan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[D.H. Lawrence]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menulis adalah candu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya setelah sekali-dua kali berhasil menulis, seseorang akan mengalami rasa ketagihan. Betul! Bahkan jika tanpa benar-benar dikontrol, menulis bisa menjadi satu aktivitas yang bikin mabok. Terlebih jika tulisan-tulisannya berhasil menarik banyak perhatian dan pujian, atau kemudian berhasil memenangkan perlombaan dan juga nangkring di percetakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hal itu jangan dijadikan tujuan. Anggap saja sebagai ‘efek’ dari sebuah usaha keras, selebihnya, tetap bidikkan niat hanya kepada Allah swt..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman, satu hal yang harus disadari benar, bahwa penting pula mengkondisikan pembaca kita sebagai orang yang memiliki kecerdasan tinggi. Mengasumsikan bahwa pembaca kita bukanlah manusia idiot yang akan terus membaca tulisan-tulisan sampah. Pembaca tentu akan terus membaca tulisan-tulisan yang memiliki daya tarik dan daya bobot, bukan sekadar membaca rangkaian kalimat yang terbilang asal lagi abal-abal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di bagian ini saya tidak bermaksud membuat mentalmu back down setelah sebelumnya memberikan sedikit pengantar pencerahan. Tidak, tidak. Saya tidak searogan itu. Tak lain dan tak bukan bagian ini hanya untuk memberikan sedikit sundutan rokok agar kita segera menjingkat meng-upgrade kualitas tulisan kita. Sebab jika tidak, stagnasi gaya penulisan yang membosankan cepat atau lambat dapat membunuh penulisnya sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, cara terbaik dalam melakukan perbaikan adalah dengan me-review kembali tulisan-tulisan kita. Lantas tanyakan pada dirimu sendiri, “Adakah sisi unik dan menarik dalam gaya tulisan saya? Apakah masih terasa datar dan mengandung bius tidur bagi pembaca? Lebih jauh, apakah tulisan saya sudah mampu menciptakan efek kejut, nuansa slow motions, dan juga menawarkan umpan balik dari pembaca?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu yang pernah membaca novelnya Dan Brown pasti akan merasakan ketegangan serta situasi mencekam pada bagian-bagian tertentu. Narasinya memunculkan efek pias dan mengejutkan, dan kamu akan dibawa pula pada kondisi paling muak dan menjengkelkan. Di ranah lokal ada seperti trilogi The Road to The Empire karya Sinta Yudisia, yang di dalamnya bukan saja memuat scene cerita yang begitu filmis, juga bagaimana dengan piawai ia mengangkat eksotisme budaya dan gambaran tanah Mongolia yang terasa begitu nyata, selain bahwa horoisme ceritanya dibalut dengan rangkaian kata-kata yang sangat megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau yang tak asing terdengar di telinga, adalah Habiburrahman El-Shirazi yang mampu menenggelamkan pembaca dalam romantisme sastranya. Membalut cerita dengan kehidupan Islami yang biasanya selalu dikuti dengan penggambaran Negeri yang diangkatnya. Lalu Andrea Hirata, yang piawai menyampaikan kritik sosial dengan menggunakan latar belakang kisah kehidupan. Dengan kriatif ia mampu menyuguhkan cerita-cerita konyol yang terkadang kekocakannya justru menertawakan peristiwa-peristiwa yang sebetulnya memiriskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei! Itu semua kan contoh-contoh karya non-fiksi. Bagaimana dengan karya fiksi?&lt;br /&gt;Hmm, ada Sayyid Quthb yang membalut intelektualnya dengan sastra yang indah dan membuncah. Karya-karya yang bertutur lembut seperti halnya Dr. Aidh Al-Qarni yang di wilayah lokal menyusul seperti Salim A Fillah. Iwan Januar dan Oleh Sholihin yang ber-genre tulisan-tulisan remaja, yang kreatif dan inovatif ada Mr. “Right” Ippho Santosa, hingga yang bergaya tegas, lugas dan bernas semacam Husain Matla dan Imam Samudra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada banyak tipe gaya penulisan yang lain, yang tentunya sesuai dengan karakter dan selera penulisnya masing-masing. Namun jika dengan itu dinilai teramat menyulitkan bahkan terlalu bertele-tele, maka kita bisa menulis karya fiksi yang lebih formal dengan memuat keluasan ilmu sebagai daya kekuatan di dalamnya. Ini bisa diambil contoh seperti karya-karya besar Ulama’, cendekiawan, dan aktivis pergerakan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah bagaimana kita bisa menemukan gaya penulisan yang sesuai dengan kita? Maka dengarkan lah khotbah William Zinsser ini baik-baik. “Jangan pernah ragu meniru penulis lain. Setiap seniman yang tengah mengasah keterampilannya membutuhkan model. Pada akhirnya, Anda akan menemukan gaya sendiri dan menanggalkan kulit penulis yang Anda tiru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu saya terangkan bagaimana maksud khotbah itu. Meminjam istilah Ulumul-Qur’an, kalimat itu merupakan teks muhkamat yang berfaedah qath’i dalalah. Tapi sebelum saya melantur lebih jauh, alangkah lebih baik jika saya memberikan keterangan tambahan mengenai “rukun” alias hal wajib untuk meniru gaya penulisan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya syarat untuk itu, adalah dengan hobi membaca. Sebab dengan demikian akan menumbuhkan inspirasi gaya penulisan kita. Namun hal yang perlu dicatat, digaris-bawahi, dan distabilo tebal-tebal, dalam hal ini saya tidak menyuruh kamu untuk menjadi taqlid buta alias plagiat alias bebek. Kita tidak mungkin bisa menirukan 100% gaya orang lain, maka tetap saja becoming ourselves. Hanya saja, kita tetap belajar kepada siapapun. Selanjutnya kita punya jurus ATM, yaitu jurus pengentas kantong kering di bulan gajian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahaha, tidak. ATM maksudnya Amati, Tiru, dan Modifikasi. Selanjutnya, jika kamu mampu disiplin untuk menjaga kemampuan dan stamina menulis, maka kamu adalah benar-benar penulis. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda agal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya.”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Michael Crichton]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bukan aktivis dakwah namanya bila miskin ide.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya saya sudah terlanjur menulis bagaimana cara menciptakan ide atau inspirasi. Karena seharusnya saya lebih dulu sadar, bahwa aktivis dakwah bukanlah karakter manusia yang statis, mereka selalu bergerak (muharrik), dengan demikian mereka tidak mungkin fakir inspirasi. Tapi tak mengapa, anggap saja bonus dari saya.&lt;br /&gt;Artinya bahwa modal –menjadi aktivis dakwah- ini sebenarnya sudah cukup untuk memulai menuangkan gagasan dalam tulisan. Hanya tinggal melakukan direct-action menulis. Sebab sadar atau tidak sebetulnya kita sudah kaya akan wawasan ilmu dan pengetahuan –betapapun tidak begitu mendalam-, tinggal bagaimana kita menuliskan sambil mengeksplorasi keilmuan kita, sambil melacak pengetahuan yang mendukung dari segi validitas dan kompleksitas informasi. Dan tentunya ini butuh sedikit usaha ekstra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yakinlah, seorang penulis itu, pasti akan selangkah lebih faham ketimbang orang yang posisinya hanya sebagai pembaca. Maka dapat saya pastikan bahwa salah satu cara paling efektif untuk meng-upgrade tsaqofah kita adalah dengan menulis. Sebab dengannya menjadikan kita lebih serius untuk menggali keakuratan dan keluasan wawasan. Kecuali, jika kita memang berniat menulis asal njeplak seperti komentar-komentar liar di forum-forum pertemanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu satu kelebihan pula bagi seseorang yang mengenal Ideologi, mengenal perjuangan Syariah dan Khilafah. Orang yang melibatkan diri di dalamnya “mustahil” akan kehabisan ide. Coba bayangkan, selalu saja orang yang sesudah menancap Ideologi dalam dirinya, perkara apapun bisa dibawanya kepada tema Ideologi. Ekstrim-ekstrimnya, andai kepalanya dipenggal oleh orang kafir sekalipun, maka yang keluar adalah darah bertuliskan Ideologi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban sampah –kapitalisme- saat ini terlalu banyak kasus yang bisa diseret kepada solusi Syariah dan Khilafah. Mulai dari kufurnya sistem demokrasi, tentang sumberdaya alam, kemiskinan, perzinaan, pergaulan, pornografi, korupsi, belum lagi kasus-kasus pemberangusan, penyesatan, pengerdilan, dan bahkan perkara sendal jepit pun bisa sampai kepada Syariah dan Khilafah. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Amazing, isn’t it&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini pula posisi mereka untuk mempropagandakan –secara besar-besaran- pemahaman yang menghasilkan ruh, menghasilkan naluri “gharizah at-tadayyun” di tengah-tengah maraknya karya yang hanya membangkitkan “gharizah an-nau’” yang seringkali mengotori isi hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kapan lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya menggarap lahan subur yang belum maksimal terurus ini: menulis. Dengan ambisi mengukir peradaban dan sejarah dengan pena, sebagaimana Sayyid Quthb yang terabadikan lehernya dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ma’allim fie at-Thariq&lt;/span&gt;. Dengan harapan mengemis ridha Allah ‘azza wa jalla. Wallahu a’lam bish-showab. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Sejarah Islam ditulis dengan dua warna; hitam tinta para Ulama’ dan merah darah para Syuhada.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Syaikh Abdullah Azzam rahimahullah]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-6877788762726085791?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/6877788762726085791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2011/10/inspiraction-for-all-who-want-to-be.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/6877788762726085791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/6877788762726085791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2011/10/inspiraction-for-all-who-want-to-be.html' title='InspirAction! (for all who want to be writer)'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-KovON8XVe_I/TphXM1KtQdI/AAAAAAAAATE/UKbyO7JPM6Y/s72-c/pena.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-1815920747297810134</id><published>2011-07-18T07:33:00.000-07:00</published><updated>2011-07-18T07:37:29.371-07:00</updated><title type='text'>TESIS INDEHOY</title><content type='html'>Menarik dan layak dibaca, saya kira, sehingga saya bela-belain menggoyang gergajikan jari-jari saya untuk mengetik dan meringkas tesis ini untuk dibajak dan disebarluaskan (tapi saya sudah telpon yang punya loh. Ohohoh). Sebuah tesis yang ditulis oleh Muhammad Dimyati, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya yang mengambil konsentrasi jurusan Pemikiran Islam. Deskripsinya sistematis, kritis komparatif, serta ‘apa adanya’ sehingga komparasi dalam penelitian ini terkesan tampak mengesampingkan sikap keberpihakan ataupun tendensi. Itu komentar saya. Selamat membaca. Ohohoh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TAHAPAN-TAHAPAN BERDIRINYA KHILAFAH (Studi Komparasi Pemikiran Hasan Al-Banna Dan Taqiyuddin An-Nabhani)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-iAtHsqzQrQc/TiRFBuWQHUI/AAAAAAAAASw/yPU-MuM9wkg/s1600/269853_1718464616385_1681353746_1124204_7298078_a.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 116px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-iAtHsqzQrQc/TiRFBuWQHUI/AAAAAAAAASw/yPU-MuM9wkg/s320/269853_1718464616385_1681353746_1124204_7298078_a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630701330043510082" /&gt;&lt;/a&gt;Di sepanjang sejarah Islam, bentuk Negara Khilafah dengan segala variannya menjadi pilihan paling ideal, paling tidak bagi kepentingan umat Islam. Dari segi wilayah yang dikuasai, Islam dengan sitem Khilafah telah berhasil menjadi sebuah imperium terluas sepanjang sejarah kekuasaan manusia, membentang luas mulai dari Spanyol, Eropa, semenanjung Arab, dan sebagian Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat dinasti Uthmaniyah berkuasa, umat Islam, di bawah dinasti ini, mengalami kamajuan di berbagai bidang, wilayah Negara yang dikuasai sangat luas dan begitu cepat serta diikuti oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan yang lain. Dalam bidang militer dan ketentaraan, kekuatan militer kekhilafahan diorganisir dengan baik dan teratur ketika terjadi kontak senjata dengan Eropa. Dalam tubuh militer kekhilafahan, bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Jenissari atau Inkishariyah. Pasukan inilah yang dapat mengubah kekhilafahan Uthmani menjadi mesin perang yang paling kuat, dan memberikan dorongan amat besar dalam penaklukan negeri-negeri non-Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping Jenissari, ada lagi prajurit dan tentara kaum feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini disebut tentara atau kelompok militer Thawijah. Angkatan laut pun dibenahi, karena ia mempunyai peranan yang besar dalam perjalanan ekspansi Turki Utsmani. Pada abad ke 16, angkatan laut Turki Uthmani mencapai puncak kejayaannya. Kekuatan militer Turki Uthmani yang tangguh itu dengan cepat dapat menguasai wilayah yang amat luas baik di Asia, Afrika, maupun Eropa. Faktor utama yang mendorong kemajuan di lapangan militer ini adalah tabiat bangsa Turki itu sendiri yang bersifat militer, disiplin tinggi, dan patuh terhadap peraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan ekspansi tersebut dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam mengelola wilayah yang sangat luas, sultan-sultan Turki Uthmani senantiasa bertindak dengan tegas. Dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai penguasa tertinggi, dibantu oleh shadr al-a’zam (perdana menteri), yang membawahi pasha (gubernur). Gubernur mengepalai daerah tingkat I. Di bawahnya terdapat beberapa orang al-zanaziq atau al-’alawiyah (bupati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Uthmani lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran. Sementara dalam bidang ilmu pengetahuan, mereka kelihatan tidak menonjol. Karena itulah, di dalam khazanah intelektual Islam, kita tidak menemukan ilmuan terkemuka dari Turki Uthmani. Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah, seperti Masjid al-Muhammadi atau Masjid Jami’ Sultan Muhammad al-Fatih, Masjid Agung Sulaiman, dan Masjid Abi Ayyub al-Anshari. Masjid-masjid tersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yang indah. Salah satu masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah masjid yang asalnya gereja Aya Sopia. Hiasan kaligrafi itu dijadikan penutup gambaran-gambaran kristiani yang ada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lingkup keagamaan, masyarakat Turki mempunyai tradisi di mana agama memiliki peranan yang besar dalam lapangan sosial dan politik. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama, dan kekhilafahan sendiri sangat terikat dengan syari’at sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Karena itu, ulama mempunyai tempat tersendiri dan berperan besar dalam kekhilafahan dan masyarakat. Mufti, sebagai pejabat urusan agama tertinggi, berwenang memberi fatwa resmi terhadap problem keagamaan yang dihadapi masyarakat. Tanpa legitimasi Mufti, keputusan hukum kekhilafahan bisa tidak berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Khilafah ini, tarekat juga mengalami kemajuan. Tarekat yang paling berkembang ialah tarekat Bektasyi dan tarekat Maulawi. Kedua tarekat ini banyak dianut oleh kalangan sipil dan militer. Tarekat Bektasyi mempunyai pengaruh yang amat dominan di kalangan tentara Jenissari, sehingga mereka sering disebut Tentara Bektasyi, sementara tarekat Maulawi mendapat dukungan dari penguasa dalam mengimbangi Jenissari Bektasyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak lain, kajian-kajian ilmu keagamaan seperti fiqh, ilmu kalam, tafsir, dan hadith boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Akibat kelesuan di bidang ilmu keagamaan dan fanatik yang berlebihan, maka ijtihad tidak berkembang. Ulama hanya suka menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan) dan hashiyah (semacam catatan) terhadap karya-karya masa klasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kemudian, di era modern, apalagi setelah dihapuskannya sistem Khilafah oleh Mustafa Kemal pada tahun 1924 yang kemudian diganti dengan negara Turki seperti sekarang ini, sistem politik yang dianggap ideal lebih bervariatif dan bukan hanya Khilafah. Di antara sistem yang digunakan adalah sistem demokrasi, khususnya demokrasi liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernisasi yang bercirikan mendominasinya paham sekulerisme, yaitu pemisahan agama dari lembaga-lembaga sosial-politik, dan memandang agama hanya sebagai masalah individual, diyakini mengakibatkan peranan agama dalam masyarakat menjadi sangat terbatas. Ramalan ini tampaknya benar-benar terjadi dan menimpa agama-agama di Barat, khususnya agama Kristen dan Katolik, tetapi tidak demikian dengan agama Islam. Islam memiliki daya tahan yang cukup dalam berdialektika dengan modernitas meskipun tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam, terutama pada abad XX, sedang menghadapi tantangan yang cukup besar dalam bidang politik dan sosial. Sebagian besar negara-negara Muslim sedang dalam perjuangan membebaskan diri dari kolonialisme Barat, pertikaian Arab-Israel, dan persoalan-persoalan modernisasi. Modernisasi dalam bidang politik adalah muncul dan dominasinya konsep nation-state. Konsep nation-state ditegakkan atas dasar semangat nasionalisme. Ide nasionalisme pertama kali diperkenalkan oleh Ernest Renan, seorang pemikir Perancis, diciptakan untuk menggerogoti kekuasaan Turki Uthmani yang membentang dari Asia sampai Eropa dan Afrika. Pada saat itu Turki masih merupakan ancaman buat negara-negara Barat. Mereka memunculkan teori ini agar satu demi satu bangsa-bangsa Islam yang terhimpun di bawahnya melepaskan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam merespon konsep nation-state ini, umat Islam (pemikir/intelektual) terpecah ke dalam dua model pemikiran. Pertama, respon konformis, yaitu menerima konsep nation-state, baik secara sadar atau terpaksa, sebagai suatu proses yang dialami dan harus ditempuh untuk membentuk identitas nasional dan memberikan loyalitas politik nasional. Kelompok ini berhaluan agak lunak. Mereka berpandangan bahwa sistem politik apapun bentuknya bisa dipakai asal sesuai dengan sosio-kultural masyarakat dan membawa pada kehidupan yang lebih baik. Sistem Khilafah yang pernah dipakai oleh umat Islam bukanlah merupakan harga mati. Islam tidak mengkhususkan bentuk pemerintahan tertentu (khilafah), karenanya Islam membolehkan kaum muslimin untuk menciptakan pemerintahan yang disepakati. Lebih jauh, kelompok ini berpendapat bahwa Islam adalah agama moral, Nabi Muhammad diutus kepada bangsa Arab untuk memperbaiki moral mereka. Tugas utama Nabi adalah menyampaikan risalah kenabian yang mengandung ajaran-ajaran moral. Ketika Nabi membangun sebuah komunitas di Madinah, ia tidak pernah menyatakan penerusnya untuk membuat satu sistem politik tertentu. Peralihan tampuk kepemimpinan dari Nabi kepada Abu Bakar, Umar, Uthman, sampai kepada Ali bin Abi Thalib adalah peralihan kepemimpinan melalui kesepakatan dan ijtihad politik tertentu bagi pemeluknya. Khilafah berasal dari ijtihad dan pendapat yang terbaik dari para pemegang kekuasaan dalam sistem tersebut. Karenanya, sistem ini tidak bisa disebut sebagai sistem ”Islami” dengan pengertian bahwa model politik dan segala implikasinya yang diterapkan dalam kelembagaan Khilafah berasal dari Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, respon non-konformis, yaitu menolak sebagian atau keseluruhan konsep nation-state. Biasanya kelompok ini mengajukan konsep negara Islam untuk menggantikan tawaran konsep nation-state, seperti yang dilakukan oleh Hizb at-Tahrir dan Ikhwan al-Muslimin, yaitu dengan mengajukan konsep Khilafah. Kelompok ini berpandangan bahwa menggunakan sistem Khilafah adalah sebuah kewajiban, mengangkat seorang khalifah adalah kewajiban yang ditetapkan berdasarkan al-Qur’an, hadith, dan ijma’. Di dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan nabi-Nya agar menjalankan pemerintahan di tengah-tengah kaum muslim dengan apa-apa yang telah diturunkan kepadanya (QS. Al-Ma’idah [5] : 48). Seruan kepada Nabi adalah seruan untuk umatnya selama tidak ada dalil yang mengkhususkan bagi beliau saja. Dalam hal ini, tidak ada dalil yang dimaksud sehingga seruan tersebut ditujukan bagi seluruh kaum muslim untuk mendirikan pemerintahan. Mengangkat seorang khalifah berarti mendirikan pemerintahan dan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kelompok ini, hal pokok dari konsep negara Islam (khilafah) adalah dijadikan syari’at Islam sumber hukum tertinggi, lebih lanjut, syari’at Islam mesti membutuhkan bantuan kekuasaan untuk tujuan implementasinya, dan adalah mustahil menerapkan hukum Islam, melindungi Islam dan pengikutnya, menjaga wilayah teritorialnya, dan melaksanakan semua kewajiban yang diperintahkan tanpa kehadiran Negara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan al-Banna dan Taqiyuddin an-Nabhani adalah di antara tokoh-tokoh yang mendukung konsep negara Islam. Sejak dihapuskannya Daulah Uthmaniyah oleh Kemal at-Taturk pada tahun 1924, dua tokoh ini secara intens, sewat karya-karya yang ditulis dan usaha yang nyata, berusaha untuk mewujudkan kembali Khilafah Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang berupaya memberikan gambaran secara utuh, sistematis, dan kritis komparatif dalam mengungkap sebuah konsep. Perbandingan yang dilakukan dalam tulisan ini bukanlah membandingkan dua konsep secara tipoligi dan berhadap-hadapan, karena pijakan dan penekanan yang dilakukan berbeda. Membandingkan dua konsep dilakukan dengan memakai filsafat analisis dengan menggunakan pendekatan Wittgenstein yang ”membiarkan sesuatu dengan apa adanya”. Dan juga menggunakan content analysis untuk mempertajam maksud dan inti data hingga secara langsung memberikan ringkasan padat tentang sebauah konsep pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan al-Banna membagi tahapan berdirinya Khilafah Islamiyah ke dalam tujuh tahapan yaitu: 1) Memperbaiki diri sendiri (islah al-nafs), 2) Membentuk keluarga muslim (takwin bayt al-muslim), 3) Membimbing masyarakat (irshad al-mujtama’), 4) Memerdekakan tanah air (tahrir al-wathan), 5) Membenahi pemerintah (islah al-hukumah), 6) Mengembalikan eksistensi kenegaraan bagi umat Islam (i’adat al-kayan al-dawl li al-ummah al-islamiyah), 7) Kepeloporan internasional (ustadhiyat al-’alam). Sedangkan Taqiyuddin an-Nabhani membaginya ke dalam tiga tahapan, yaitu: Tahap pembinaan dan pengkaderan (marhalat at-tathqif), 2) Tahap berinteraksi dengan masyarakat (marhalat tafa’ul ma’a al-ummah), 3) Tahap pengambil alihan kekuasaan (marhalat istilam al-hukm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;III&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persamaan pemikiran di antara dua tokoh ini terlihat pada tahapan-tahapan berdirinya Khilafah yang diusung oleh keduanya, yang dimulai dari elemen yang paling kecil (individu) dan terus berkembang kepada elemen yang paling besar (negara, masyarakat internasional). Menurut Hasan al-Banna, tahapan awal (tahap pertama dan kedua) berdirinya Khilafah Islamiyah adalah perbaikan terhadap pribadi orang muslim (anggota partai) lewat media pendidikan baik secara formal maupun informal yang diharapkan tiap individu menjadi orang yang kuat fisiknya, kokoh aqidahnya, benar ibadahnya, melakukan mujahadah terhadap diri sendiri, penuh perhatian akan waktu, rapi urusannya, dan bermanfaat bagi orang lain. Pemikiran ini bersinggungan (sejalan) dengan pemikiran Taqiyuddin an-Nabhani walaupun ia menggunakan istilah yang berbeda yaitu istilah kaderisasi yang merupakan tahap pertama berdirinya Khilafah Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan kedua dan ketiga pemikiran Hasan al-Banna bersinggungan (sejalan) dengan tahapan kedua yang diusung Taqiyuddin an-Nabhani, yaitu interaksi dengan masyarakat. Setelah pembinaan dan kaderisasi dirasa cukup, secara terus-menerus anggota partai berinterakasi dengan masyarakat umum. Dalam tahapan ini, masyarakat diperkenalkan dengan ideologi partai sampai ideologi partai menjadi ideologi mereka. Tahapan keempat sampai ketujuh dari pemikiran al-Banna bisa dikatakan sama dengan tahap ketiga pemikiran an-Nabhani, yaitu pengambil alihan kekuasaan, di mana setelah ideologi masyarakat selaras dengan ideologi partai tibalah saatnya partai –dengan dukungan penuh dari masyarakat- mengambil alih kekuasaan dari penguasa yang tidak sehaluan dengan ideologi partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persamaan pemikiran antara dua tokoh ini dapat dimengerti dan dimaklumi karena adanya kesamaan dan cara perpikir serta prinsip yang dimiliki oleh dua tokoh tersebut. Baik al-Banna maupun an-Nabhani berpandangan bahwa untuk mengatasi persoalan yang dihadapi umat Islam adalah dengan kembali kepada ajaran-ajaran Islam secara murni. Islam telah menyediakan kehidupannya, termasuk di dalamnya adalah persoalan ritual keagamaan (ibadah), politik, ekonomi, pendidikan, sosial budaya. Ketika mayoritas umat Islam sudah tertanam nilai-nilai Islam di dalam jiwanya, maka dengan mudah Daulah Islamiyah sebagai solusi akhir (dalam bidang politik/pemerintahan) dengan mudah akan ditegakkan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesamaan kedua tokoh tersebut juga terletak pada obyek dari tahapan-tahapan berdirinya Khilafah, di mana obyeknya adalah anggota partai. An-Nabhani menulis pemikirannya di buku at-Takat al-Hizbi. Di buku ini ia menuliskan bagaimana cara pembentukan partai yang benar, partai yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Ia mengkritik partai-partai yang sudah ada (Pan Arabisme/Islamisme) sebagai partai yang bertumpu pada retorika saja. Oleh karenanya, an-Nabhani merumuskan bagaimana pembentukan partai yang benar, apa saja yang harus dilakukan oleh anggota setelah partai terbentuk. Buku tersebut ditujukan kepada anggota Hizb at-Tahrir, partai yang didirikan an-Nabhani sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan al-Banna menuliskan pemikirannya di karyanya yang berjudul Risalat at-Ta’lim yang merupakan bagian dari buku Majmu’at ar-Rasa’il. Buku ini, oleh al-Banna ditujukan kepada anggota Ikhwan al-Muslimin. Buku ini berisi 10 hal (al-Banna menggunakan istilah rukun bai’at) yang harus dipenuhi oleh kader Ikhwan, yaitu: pemahaman, keikhlasan, keteguhan, totalitas, persaudaraan, dan kepercayaan. Tahapan-tahapan berdirinya Khilafah merupakan operasional kerja rukun amal yang harus dilakukan oleh anggota Ikhwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun perbedaan pokok dan mendasar di antara dua tokoh tersebut menyangkut dua hal, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Metode perjuangan yang ditempuh keduanya. Dalam mengambil alih kekuasaan, an-Nabhani cenderung menggunakan metode revolusioner. Metode ini tidak membolehkan partai bergabung ke dalam pemerintahan yang tidak menerapkan hukum Islam, baik secara parsial maupun keseluruhan. Partai harus mengambil alih pemerintahan secara total dan menjadikannya sebagai metode untuk menerapkan ideologi partai secara keseluruhan. Hal ini berbeda dengan metode yang ditempuh al-Banna yang masih bisa menerima sistem pemerintahan yang ada, di mana organisasi/partai (Ikhwan al-Muslimin) yang didirikan al-Banna pernah beberapa kali ikut pemilu di Mesir sebagai perwujudan sikap akomodatif terhadap penguasa. Hal ini terjadi disebabkan pandangan dan prinsip dari al-Banna sendiri yang lebih condong kepada penggunaan cara formal-struktural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Konsep Daulah Islamiyah. Menurut an-Nabhani, Daulah Islamiyah ataupun khilafah adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. An-Nabhani menolak berbagai macam bentuk pemerintahan modern terutama ide-ide yang berasal dari Barat semacam nasionalisme. An-Nabhani menginginkan bentuk dan struktur pemerintahan seperti apa yang telah digunakan di masa al-Khulafa’ ar-Rasyidun. Sedangkan al-Banna berpandangan lebih lunak, di mana bentuk pemerintahan yang dipakai tidak harus berbentuk Daulah Islamiyah ataupun khilafah. Bentuk pemerintahan apapun bisa diterima asal sesuai dengan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah umum dalam sistem pemerintahan Islam. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-1815920747297810134?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/1815920747297810134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2011/07/tesis-indehoy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/1815920747297810134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/1815920747297810134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2011/07/tesis-indehoy.html' title='TESIS INDEHOY'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-iAtHsqzQrQc/TiRFBuWQHUI/AAAAAAAAASw/yPU-MuM9wkg/s72-c/269853_1718464616385_1681353746_1124204_7298078_a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-1272798780907223327</id><published>2011-04-01T02:39:00.000-07:00</published><updated>2011-04-01T02:40:18.129-07:00</updated><title type='text'>DAMN!</title><content type='html'>Sebisa mungkin aku akan bersikap lembut, tapi jika dengan itu aku dikatakan lugu, maka sah-sah saja aku mengatakan dia tak punya adab. Namun dalam lain hal aku akan bersikap menentang, dan jika dengan itu aku dikatakan arogan, maka apa salahnya aku mengatakan dia naif? Aku tak peduli apa katamu, Kawan. Dengar itu! Kecuali jika hanya untuk motivasi dan perbaikan. Damn!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-1272798780907223327?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/1272798780907223327/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2011/04/damn.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/1272798780907223327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/1272798780907223327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2011/04/damn.html' title='DAMN!'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-1372040351425201960</id><published>2011-03-17T22:54:00.000-07:00</published><updated>2011-03-17T22:56:20.674-07:00</updated><title type='text'>TANGIS</title><content type='html'>Bukan aku mendengki kepada seseorang yang baik agamanya, keilmuannya, namun ia memilih berjuang di jalan sana. Aku mengenal banyak kawan yang penghafal Al-Qur'an, pakar tafsir, hadits, sampai ushul fiqh. Namun tak jarang aku menangisi mereka. Aku hanya tak rela mereka merelakan diri dalam kekotoran yang, dengan atas nama 'kalimat bijak' itu sampai saat ini Islam dan kaum Muslimin dihinakan: Demokrasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-1372040351425201960?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/1372040351425201960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2011/03/tangis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/1372040351425201960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/1372040351425201960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2011/03/tangis.html' title='TANGIS'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-3001797549038849124</id><published>2011-02-08T20:15:00.000-08:00</published><updated>2011-02-08T20:48:08.228-08:00</updated><title type='text'>IMAM ZARATHUSTRA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TVIcVDbYgVI/AAAAAAAAAR8/CHEYjKqUEg8/s1600/Picture1m.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 166px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TVIcVDbYgVI/AAAAAAAAAR8/CHEYjKqUEg8/s320/Picture1m.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571546837033714002" /&gt;&lt;/a&gt;Di atas mimbar jalanan nan terik, debu-debu aspal menampar wajahnya yang mulai memerah. Terlihat matanya nyalang menembus pagar kawat berduri, nafasnya memburu kecongkakan rezim yang tak tahu diri. Maka jelas seluruh energi itu wujud manifestasi dari ”kepalan tangan kiri” yang diangkatnya tinggi-tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Inilah jalan perjuangan kita, Kawan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, ia memang haus darah. Maka buaslah puluhan Mahasiswa yang berada dalam komandonya. Karena saat itu adalah hari perayaan mereka ketika satu persatu kepala polisi anti huru-hara muncrat. Ketika batang perbatang lengan para penghalang patah. Di hadapan pagar betis barisan manusia, di tengah desingan tembakan peringatan dan kepulan gas air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan tahukah kalian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tahukah kalian, perjuangan ini untuk sebuah hak yang telah lama ditikam. Untuk sebuah kata suci yang telah dibredel, tercabik-cabik oleh sistem dalam kekuasaan hipokrit yang penuh kepentingan: Keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, dengan segenap  keperkasaan intelektualnya, memuji dirinya dengan nama pena, nama kebesarannya: Imam Zarathustra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bro!,” dari arah belakang ia memukul akrab bahuku dengan buku lusuhnya yang bergambar kepala manusia berkumis setebal serabut kelapa: Nietzsche. ”Ada waktu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Untuk apa?”, tanyaku. Ia memang kawan akrabku, kawan sefakultas. Partner diskusi yang jika sudah dimabok intelektual, maka adzan pun dianggapnya semacam auman suara pengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Begini.” Ia mengambil posisi dan menyandarkan pantatnya di depan meja dosen secara elegan. ”Nggak tahu nih ya, entah sudah gila apa gue,” sambil menjepit lintingan rokok tangannya menggaruk-garuk kepala, jelas bukan karena korengnya gatal, ”terang aja, gue suka sama temenmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Heh? Bentar, bentar.” Aku merapat, meyakinkan kalau kupingku masih berfungsi dengan baik, ”Suka temen gue? Yang bener lo? Temen yang mana? Hahaha, gila lo ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, manusiawi lah.. Itu, temenmu, siapa sih namanya, Aura? Itu, ikhwit sebutannya kan? Yang seorganisasi sama kamu itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelagat dan kikuknya membuat tawaku mulai asik. Jarang-jarang ketemu aktivis rasis mengidap virus melankolis. ”Ikhwit? Akhwat kalii.. Ya, namanya Aura. Aura Madina. Yang pake kaca-mata itu, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmm, ya, ya, Akhwat. Sudah gue duga, tawamu mesti bau karbit,” gerutunya. Sementara tawaku yang sedari tadi tertahan masih menyisakan seberkas senyum dikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi begini.” Ia melompat ringan mengambil duduk di atas bangku, masih di bangku dosen. ”Begini, Bro. Sory aja, biar gue ancur begini, terus terang aja gue eneg lihat sapi-sapi tank top macam sekeliling kita itu, sumpah,” selorohnya sembari tangannya menunjuk mahasiswi berpakaian ketat yang berlalu lalang di luar. ”Gue ngerasa adem aja kalo lihat cewek-cewek berpakaian besar seperti teman-temanmu itu. Kesannya mereka bisa menghargai dirinya, kehormatannya. Jujur aja, kalo punya istri gue inginnya seperti itu. Kan perasaan kita bisa tenang tuh? Nah, kira-kira bisa nggak gue pacaran dulu sama Aura?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jreng! Jreng! Belum habis sisa tawaku kali ini sudah disuguhi dagelan baru. Meledaklah kembali seperti knalpot yang terpingkal-pingkal menertawakan harga BBM. Pikir-pikir, akhwat mana yang mau diajaknya pacaran? Bisa-bisa dilempar panci biar tahu rasa! Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi terlebih dulu kuberi tahu padamu, Kawan. Yang disukai kawanku ini, Aura, adalah seorang Akhwat yang ada di LDK (Lembaga Dakwah Kampus) di kampus kami. Akhwat berparas putih yang sudah masyhur kecantikannya di kampus kami. Kini ia Mahasiswi tingkat tiga akhir, semester 5. Dan boleh jadi demi menjaga kecantikannya, maka sekitar sebulan yang lalu ia mulai memakai cadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan Asrama Ikhwan, nama Aura seringkali kudengar menjadi bahan pembicaraan. Biasanya saat-saat kumpul santai atau menjelang tidur malam. Termasuk aku? Bwahaha, tidak mungkin, tidak mungkin. Aku cukup tahu diri, aku bukan levelnya Aura. Lagi pula, aktivis dakwah macam apa kalau otaknya dijadikan sebagai kolektor Akhwat? Aktivis dakwah model apa kalau mulutnya hanya untuk menggosip partner lawan jenis? Itulah mengapa, setiap kali ada yang datang dengan berlebai-lebai ria, buru-buru aku *kill*! Bagiku, selama bukan mahram, sikap lebay para aktivis pantas diperlakukan secara sadis! Hahaha. Lha, kini muncul si begundal kawanku ini yang bermaksud ta’arufan sama Aura. Ampuunn...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi gimana?” Imam mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, nggak bisa dong. Perempuan macam teman-teman gue maunya langsung dinikah. Tapi menurut gue sih, sory-sory aja ya, bukan bermaksud apa-apa, emang lo punya modal apa mau nembak Aura? Lagian kalau kita muslim, tentu kita tahu bahwa Allah akan memasangkan seseorang menurut kesamaannya, yang setara dengannya, sebagaimana yang telah disebutkan dalam QS. An-Nur ayat 26. Nah, lo Muslim bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam buru-buru mengeluarkan dompet kulitnya, mencabut KTP dan membantingnya di depanku seperti ketika ia membanting kartu domino. Jelas-jelas ia sedang meyakinkanku bahwa di KTP-nya tercatat beragama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nah, baguslah itu. Tapi tak cukup hanya dengan itu. Karena apa jadinya jika seorang aktivis dakwah yang taat agamanya ketemu dengan orang sepertimu. Hahaha. Yah, setidaknya rubah dulu pemikiranmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar perkataanku, ekspresinya datar. Terdiam sesaat, kemudian ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Beri gue waktu, tapi sepertinya itu bisa diatur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari masih setinggi tonggak ketika aku melangkah menuju rumah kost-nya. Pintunya tertutup, namun terdengar dari dalam suara musik bertempo cepat. Seseorang yang tak terbiasa mendengar musik seperti itu mungkin akan berkelakar dapat membuat kuping berdarah, gendang telinga pecah. Sama sekali aku tak mengenal musik itu. Tapi setelah dipersilahkan masuk dan kulihat koleksi musiknya, kulihat beberapa di antaranya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Runcid, The Used, RATM, Rufio, Alone at Last&lt;/span&gt; dan entah apa lagi yang semacamnya yang kebanyakan darinya mengajak mabok sampai mampus, bahkan berbau seruan untuk membenci agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Musikmu nggak asik.” Aku menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kuduga, senyumnya aduhai. Mengesankan kalau dirinya sedang berkata: ’tahu apa kau bocah, tuh pampersmu diganti. Bau tahu!’. Dan memang, belum selesai aku membatin mulutnya sudah keluar asap kretek,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Memang selera kupingmu apa? Jangan ngomong kalo suka nasyid seperti knalpot pilek itu. Hahaha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terang saja, selorohnya sedikit membuat alarm survivalku berbunyi. Tapi karena memang sudah biasa, artinya bahwa setiap kali dia bicara sering mengandung unsur ajakan untuk ’perang’, maka kusikapi saja dengan diam. Diam, bukan berarti sama-sekali-diam, tapi aku tetap memikirkan bagaimana caranya agar secara diam-diam aku memberinya semacam pelajaran, hahah. Yah, sedikit sentilan mungkin, agar dia tidak terus-terusan merasa di atas awan. Mungkin itu satu kelemahanku, aku tak mudah ikhlas jika ada seseorang yang stagnan dengan kecongkakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kebetulan saat ini aku membawa laptop. Maka pelan-pelan kuambilnya dari tas tanselku. Kunyalakan, sejenak kemudian kugelar lembar ’explore’, lalu mengarahkan kursor tepat ke arah folder musik. Dan dalam hitungan detik, maka pecahlah cadas berjudul M.O.G.S.A.W (Mesenger of God Shallallahu ’alayhi wa Sallam) Purgatory.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;blockquote&gt;The M.O.G.. I can feel all..&lt;br /&gt;    Your Existance innersoul..&lt;br /&gt;    Can I be one of your love to serve you..&lt;br /&gt;    I’ll give my life.. All my life..&lt;br /&gt;    I’m yours,&lt;br /&gt;    Your martir!!&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buset,” lirihnya, “asik juga.” Kepalanya manggut-manggut bak dosen pembimbing skripsi lagi menemukan mood-nya. Atau seperti calon anggota legislatif sedang mendengar curhat pedagang pasar saat kampanye. Gayanya memang selangit, seolah-olah penikmat kretek sedang menilai rasa cengkeh di kebun tomat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi seperti ini sedikit banyak menguntungkanku. Aku dapat membuatnya respec lewat sesuatu yang lebih dekat dengannya. Hanya merupakan cara, ketika aku mendekatinya dengan karakter yang sesuai dengan dirinya. Maka kukenalkan juga dia dengan gebrakan musik Tengkorak, Band Underground dengan vocalis Ombat yang suaranya terdengar seperti kumur-kumur. Hingga sampai mengalun pula syair-syair Thufail Al-Ghifari dalam musik rap-nya yang kemudian membuat dirinya merasa seperti ditonjok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanasan pagi itu setidaknya membuat dirinya cukup panas. Dan aku pun cukup puas, hahaha. Tapi tidak berhenti di situ!, namanya juga pemanasan, maka agenda selanjutnya adalah mengotak-atik pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah bagaimana supaya dia mampu melepas ‘kitab sucinya’, Thus Spoke Zarathutstra. Meski ia tak pernah menafikkan Al-Quran, katanya, tapi membacanya ia tak merasakan seperti halnya ketika ia merasakan kecantikan Thus Spoke Zarathustra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku katakan padanya, “Sebaiknya pertimbangkan lagi anggapanmu itu. Mungkin kamu tak merasakan indahnya Al-Qur’an karena kamu tidak faham bahasa Arab?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah ya..,” nyengir saja ekspresinya, “kalau itu jawabannya, gue pikir akan menjadi semakin indah kalo Thus Spoke Zarathustra gue baca dari bahasa aslinya, bahasa Jerman.” Jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memang sudah terlanjur gila dengan Nietzsche, sang ’pembunuh’ tuhan yang dulunya mati dalam keadaan gila itu. Aku tahu ia hanya berusaha untuk jujur. Dan dengan itu aku memberikan apresiasi kepadanya. Diskusi berjalan cukup melelahkan, bahkan untuk masalah ketuhanan saja memakan waktu yang teramat panjang. Beberapa hari aku rutin berdiskusi dengannya. Di kost, di kampus, atau bahkan di teras Masjid. Dari diskusi-diskusi alot dengannya itu, hingga pada akhirnya aku membuat satu kesimpulan, yaitu bahwa ketertarikannya dengan ’pikiran-pikiran nakal’ Nietzsche itu, pada saat itu aku yakin keadaan mentalnya memang pas, alias cocok dengan kejiwaan Nietzsche. Hal itu kemudian dibenarkan olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendukung kesadaran awalnya itu, suatu peristiwa kuingatkan padanya. Sekitar tiga bulan yang lalu kira-kira, ketika ia kubujuk Sholat Tarawih di Masjid, seusai itu ia lantas berseru kepadaku, ”Ih, ngeri imamnya. Suaranya bagus banget! Sampe banyak yang nangis sesenggukan gitu. Kok bisa ya?” takjubnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku bertanya kepadanya, ”Lha, kamu ikut nangis nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia jawab, ”Hahaha, boro-boro nangis. Ngantuk gua! Hahaha. Emang Ayat tentang apaan, sampai bisa nangis-nangis gitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jawab, ”tentang Hisab.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu tertunda sesaat ketika mukanya pucat mendengar jawaban singkatku, persis pucatnya ketika saat ini ia kuingatkan kejadian itu. Satu hal, mungkin, yang menjadikannya tersadar: Ingat mati. Namun titik poin yang ingin kusampaikan padanya adalah bagaimana imam Masjid beserta sebagian makmum Sholat Tarawih waktu itu bisa sampai menangis bahkan dengan sesenggukan? Jawabnya, mereka mampu merenungkan ayat-ayat itu. Mereka mampu menghunjamkan setiap makna Al-Qur’an ke dalam ruh mereka, ke dalam relung jiwa-hidup mereka. ”Sedangkan kamu,” tunjukku, ”tidak. Kamu masih sekedar menjiwai igauan Nietzsche.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bungkam. Sama sekali tak terdengar balasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam dan heningnya itu kemudian lamat-lamat mengundang angin lembut untuk datang berhembus, lalu dengan tenang dan elegan menghampiri wajahnya, memejamkan matanya, meniup dan melambai-lambaikan rambut sebahunya. Seakan hembusan angin itu perlahan-lahan sedang mengelupas hijab dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kemudian, mengakhiri perjumpaan itu aku meminjaminya buku untuk dipelajari dan direnungkan. Kuberinya buku bersampul putih, yang di mukanya bertuliskan teks warna merah menyala: Peraturan Hidup Dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bab pertama,” kataku padanya, ”Jalan Menuju Iman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya seiring dengan rutinitas diskusi wacana serta membahas buku putih itu, ia mulai tampak berubah. Yang membuatku geleng-geleng setengah tak percaya, saat ini, ia tak pernah telat untuk datang Sholat berjamaah di Masjid! Padahal sebelumnya jangankan masuk Masjid untuk Sholat, malah bisa ditebak keperluannya ke Masjid biasanya hanya untuk dua perkara: Kalau nggak cuci muka, pasti sedang produksi senjata pemusnah masal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu ia juga minta kepadaku diajari membaca Al-Qur’an dengan tartil, di samping ia juga meminta folder Murottal di laptopku. Tiga Murottal yang paling ia suka, katanya, Hany al-Rifa’i, Musyari Rasyid Al-Afasy, dan si kecil Muhammad Thoha Al-Junayd, yang katanya sering membuat matanya berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti selesai sudah. Tamatlah sudah Zarathustra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun secara tiba-tiba, ia merangsek pelan-pelan kepadaku, agak  menggelikan gelagatnya. Dilihat dari nada bicaranya, berarti ia sedang menagih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lha terus gimana, Aura Madina gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu polos, sepolos lahirnya kembali ia dalam pemikirannya kini. Aku kesulitan menahan tawa, ternyata di balik sangar penampilannya itu sekian lama, tak diduga tak dinyana ia berhati Hello Kitty. Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tak berselang lama setelahnya, seperti sebuah rem cakram, sesuatu itu telah membuat tawaku benar-benar berhenti mendadak. Pikiran itu muncul, kekhawatiran itu timbul, hingga akhirnya membuatku cemas, lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Untuk apa dia berubah? Jangan-jangan... Ya, jangan-jangan, ia salah dalam tujuan. Ah, terlalu cepat aku merasa ’puas’ padanya. Aku lupa mengingatkannya tentang satu hal: Ikhlas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdua. Aku menemani Imam datang ke rumah Aura. Cukup jauh, enam jam untuk sampai di kotanya. Di liburan akhir semester ini, lewat teman-teman se-asramanya dipastikan bahwa Aura mudik dan berada di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam, terlepas dari kekhawatiranku tentang apa yang ada dalam hatinya, aku menganggap Imam Hambali bukan lagi Imam Zarathustra, yang kini prinsip hidupnya secadas ”doa” orang tuanya saat memberinya nama dengan mengambil teladan nama Imam Ahmad bin Hambal. Seorang Ulama’ Mujahid, yang tak bergeser sedikitpun dengan gertakan serta siksaan sang Muktazilah Khalifah Al-Makmun dalam mempertahankan kebenaran keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini bersamanya aku duduk menghadap keluarga yang sama sekali asing, untuk suatu hal yang asing pula, yang sama sekali belum pernah aku saksikan sebelumnya: Khitbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, di saat kami berdua diserang kebekuan, Imam mengangkat wajahnya, untuk kemudian memberanikan diri menyampaikan maksud kedatangannya meski dengan susunan bahasa yang agak kacau dan belepotan. Padahal sesaat sebelumnya ia tahu bahwa Ibu Aura adalah guru Bahasa Indonesia di salah satu sekolah SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebagai orang tua,” Ibu Aura menjawab, ”selagi itu yang terbaik, kami merestui. Namun bagaimanapun hal ini saya kembalikan kepada yang bersangkutan, Nak Imam, karena dialah yang berhak menentukan jawaban. Nah, saya tanyakan dulu ke Aura-nya. Bagaimana, Aura?” Sang Ibu beralih kepada anaknya yang duduk menunduk di samping kirinya, yang sedari tadi tetap anggun dengan cadarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu sekian detik lamanya untuk kemudian Aura membuka bicara. Suaranya tipis, lembut, namun sedikit tergetar saat ia menyampaikan jawaban, ”Dengan mengharap ridha Allah. Bismillah, afwan, Akhi. Bukan bermaksud ana ingin menyakiti dan mengecewakan jauh-jauh kedatangan antum, atau, bukan berarti di mata ana antum kurang baik, terlebih-lebih kurang shalih. Namun Allah telah memberikan ana hati. Dan tentulah antum faham apa yang ana maksud dengan hati. Artinya, saat ini antum datang berdua, dan jika kemudian Akhi Fauzan memiliki urusan yang serupa, maka ana telah menyiapkan jawaban untuk mengiyakan. Afwan jiddan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tidak, aku malah terjingkat. Tersengat dalam diam. Tiba-tiba saja jantungku perlahan-lahan berdetak semakin cepat dan berat. Apa-apaan ini? Aura menyebut nama Fauzan? Benarkah Fauzan? Bukankah itu namaku? Ah, tidak, aku salah dengar. Tidak, Aura harus bisa menjelaskan. Dan di saat sebelum aku berhasil mengajukan pertanyaan kepadanya, suara lirih Imam terlebih dulu membungkam mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Allahu Akbar!”, serunya, lirih. Lalu ia menepuk pundakku sembari tersenyum ajaib, ”Bro, selamat. Aku harap semua mahar yang aku siapkan, termasuk Tafsir Asy-Syahid Sayyid Quthb Fii Dzilaalil Qur’an, bersedia antum pergunakan. Sedangkan aku,” kerdip matanya menyela waktu, ”izinkan aku menjadi saksi pernikahan kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadar deras air mataku. Tumpah seluruhnya meski dengan kuat-kuat berusaha aku pejamkan. Dadaku tersendat-sendat, karena tepat pada saat itu aku merasa malu serta kerdil di dekatnya. Bahkan rapuh, runtuh dalam rangkulnya. Imam Zarathustra, waktu lalu mungkin aku dapat meraba menilainya, namun kini ia membuatku bungkam tanpa kata. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-3001797549038849124?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/3001797549038849124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2011/02/di-atas-mimbar-jalanan-nan-terik-debu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/3001797549038849124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/3001797549038849124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2011/02/di-atas-mimbar-jalanan-nan-terik-debu.html' title='IMAM ZARATHUSTRA'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TVIcVDbYgVI/AAAAAAAAAR8/CHEYjKqUEg8/s72-c/Picture1m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-8264107213799225764</id><published>2010-10-30T09:02:00.000-07:00</published><updated>2010-10-30T09:56:32.429-07:00</updated><title type='text'>WISDOM</title><content type='html'>Terkadang tipis bedanya antara &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bijaksana&lt;/span&gt; dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Skeptis&lt;/span&gt;, itu artinya ia telah mengabaikan Prinsip. Nah, ketika sudah memegang Prinsip, giliran &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fanatik&lt;/span&gt; yang mudah ambil peran, ia rawan membabi buta tanpa bisa menaruh toleransi ragam perbedaan. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 30 Okt 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-8264107213799225764?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/8264107213799225764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/10/wisdom.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/8264107213799225764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/8264107213799225764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/10/wisdom.html' title='WISDOM'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-112582127942565681</id><published>2010-10-22T06:13:00.000-07:00</published><updated>2010-10-27T21:47:44.806-07:00</updated><title type='text'>KARENA AKU BUKAN CLEOPATRA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TMGQLkqeCPI/AAAAAAAAARI/FLoAc37NKf4/s1600/akhwat.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TMGQLkqeCPI/AAAAAAAAARI/FLoAc37NKf4/s200/akhwat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530860345882446066" /&gt;&lt;/a&gt;Tentu hanya sebatas yang kutahu, semenjak aku mengenalnya di SMA ketika itu. Maka inilah awalnya. Berawal ketika ia menjadi ketua OSIS-ku yang dikenal cukup baik agamanya, aku dan dia sama-sama dicalonkan sebagai kandidat ketua Rohis di sekolah. Teman-teman anggota memenangkan suaraku, sebenarnya. Selisih tipis, hampir tak ada beda. Namun atas pertimbangan lain, oleh sebab aku perempuan tentunya, maka lagi-lagi ia harus menjadi ketuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah awalnya. Aku tak tahu persis bagaimana kejadiannya, tiba-tiba saja teman-teman menjodoh-jodohkan dia denganku. Kesalahanku, mungkin, karena aku selalu menjadi sekretarisnya, baik di OSIS, di kegiatan Rohis, sampai di kelas 2 IPA yang sama. Inilah yang mengharuskan kami terlihat sering menjalin komunikasi, meski mereka pun mengerti keperluan kami hanya untuk koordinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tibalah saatnya selesai jam sekolah, satu peristiwa menjengkelkan yang sekaligus, astaghfirullah, sempat membuat hatiku berkembang. Aku ’dijebak’ oleh teman-temanku di saat sebelum Kajian Rutin mingguan di Musholla-sekolah akan dilaksanakan. Tiba-tiba aku disuruhnya mereka untuk segera ke Musholla, ada yang mau dibicarakan dengan ketua, katanya. Tentu hal serupa disampaikan pula kepada ketuaku itu. Apesnya, tidak ada yang mau menemaniku untuk menemuinya. Maka berdualah aku dan dia di dalam, dan kami sama-sama bingung karena saling tak merasa ada keperluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat saja kejadiannya, tiba-tiba teman-teman sudah berada di pintu sambil berdehem dan tertawa, kudengar dalam satu komando mereka menggoda ke arah duduk kami berdua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Firdaus, Nadia, selamat ya.. Ehm, ehm..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas-jelas aku dongkol dibuatnya. Namun entah dari mana setan itu datangnya, tanpa sadar aku dan dia saling mencuri-curi lirik. Tak terhitung detik rasanya, tetapi arah pandang kami bertemu dalam satu waktu, dan seketika itu pula suasana ’aneh’ membawa kami sama-sama berpaling sambil tersenyum tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ukhti, afwan, untuk masalah tempat sudah clear,” kelak ucapnya kepadaku ketika ia menjadi ketua Rohis di kampus. Aku dan dia kembali satu almamater. Dan lagi-lagi aku menjadi sekretarisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dewasa usia di antara kami tentu membuat kami semakin menjaga diri satu sama lain, tentang pergaulan antar ikhwan dan akhwat. Lagi pula kami semakin mengerti karena seringnya menghadiri kajian Islami, juga posisi kami sebagai musyrif atau murobbi untuk membimbing adik-adik mahasiswa dan mahasiswi. Maka jelaslah aku khawatir akan mengotori dakwah ini, lebih bahayanya lagi jika kami terkena ancaman ayat ’kaburo maqtan ’indaLlahi’. Ya, kebencian besar di sisi Allah, mengatakan apa yang tidak kita kerjakan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika hanya ada keperluan yang menyangkut organisasi kami menjalin komunikasi. Itupun dengan konteks yang terbatasi. Lantas dengan begitu apa kemudian menjadi aman? Untuk menjaga diri mungkin iya, tapi untuk memastikan benar-benar aman, kurasa tidak. Bagaimanapun kuakui di antara kami memang ada hati, aku tak mungkin membohongi diri terkait perasaan ini. Dan bukankah perasaan semacam itu memang bagian dari naluri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah, aku memang tidak ada niat sama sekali untuk menampakkan perasaan ini kepadanya, lebih-lebih dengan aktivitas-aktivitas yang tak syar’i. Bagaimanapun aku harus tahu diri karena di antara kami memang bukan mahram. Tetapi masya Allah, bahkan untuk komunikasi hal yang wajar pun, baik lewat SMS, lebih-lebih saat bertemu langsung, rasa-rasanya selalu ada yang berdesir dalam hati. Ada sesuatu yang menghembus, ada yang menghidupkan degub halus. Ah yaa, ampuni kekhilafan hamba yang lemah ini, ya Allah, yang tiada daya menepis rasa syubhat ini. Kulafadz berkali-kali kalimat istighfar setiap kali peristiwa itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah sekian lama cobaan itu bisa aku lalui, hingga tak terasa aku sudah semester tujuh. Namun ada yang mengejutkan menjelang akhir semester ini. Tiba-tiba, tiada angin tiada hujan, Firdaus menghubungiku. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, katanya di seberang sana. Ketika itu dia meneleponku. Dari kesan bicaranya aku sudah menyimpan firasat, dan benarlah ia menyampaikan satu kalimat yang cukup singkat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bersediakah Anti menikah dengan ana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuh kan, aku malah tak bisa menjawab kalimat itu, meski di awal aku sudah mengira bahwa ia akan menyampaikan hal itu. Lama aku terbungkam, maka dengan suara terserak kusuruhnya saja datang ke waliku jika ia benar-benar menginginkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu setelah itu ia memang datang ke waliku. Kepada kedua orang tuaku ia menyampaikan maksudnya. Ibu mempertanyakan kesediaanku. Aku yang duduk berada di samping Ibu hanya bisa menunduk diam. Maka Ibu mengusap pipiku, dan hangat dirasa air mataku di tangannya. Kemudian beliau beralih kepada Firdaus,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nadia bersedia. Insya Allah kami sebagai orang tua merestui. Maunya Nak Firdaus kapan akad nikah dilangsungkan?”, tanya Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada raut yang berbeda di wajah Firdaus, ”Maaf sebelumnya, Bu, Bapak, sudah saya bicarakan sebelumnya dengan keluarga, dan mereka mengizinkan setelah lulus kuliah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg! Setelah lulus kuliah? Itu artinya harus menunggu satu semester lagi! Bagaimana mungkin menunggu selama itu? Maka barulah aku beranikan bersuara,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Afwan, Akhi, bukankah waktu senggang yang terlalu lama itu kurang baik? Sekali lagi afwan, bukan ana ingin terburu-buru, tetapi jarak menunggu yang terlalu lama memang sangat rentan dengan godaan setan. Antum mestilah sudah faham, bahwa tabiat setan selalu berusaha mencegah jalan yang halal.” Aku berkata tanpa berani menatapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Insya Allah,” jawabnya, ”Insya Allah tidak akan menjadi masalah, selama dalam waktu itu kita bisa menjaga diri. Tidak ada komunikasi, kecuali jika ada sesuatu yang teramat penting dan syar’i. Kita sama-sama menyelesaikan studi kita, sambil kita mempersiapkan diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempersiapkan diri? Apa maksudnya? Apa ia datang ke sini dengan tanpa persiapan diri, atau baru berproses menyiapkan diri, hingga orang tuanya pun belum memberikan kepercayaan dan baru mengizinkan setelah kuliah selesai? Aku hanya khawatir, apa yang ia lakukan saat ini hanya kenekadan saja ketika dirinya dilanda kekhawatiran kehilangan seseorang. Ah, tetapi wallahu a’lam, orang tuaku memang cenderung sependapat dengan Firdaus. Maka aku iyakan saja. Sebab penjelasanku mungkin dirasa terlalu berat, atau dianggap tidak seperti orang kebanyakan dengan memunculkan kesan sikap terburu-buru? Wajar, mungkin, karena kedua orang tuaku memang kurang pemahaman tentang hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saksikanlah, di sini tempatnya ketika kami membuat perjanjian dan kesepakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, waktu berjalan sesuai koridornya. Beberapa waktu setelah aku dikhitbah membuat kehidupan kuliahku kembali normal seperti biasanya. Tak ada yang istimewa. Lagi pula di semester akhir ini aku harus fokus menyelesaikan tugas skripsi, sibuk dengan penelitian-penelitian. Sementara di sela-sela itu adik-adik mahasiswi di asrama seringkali menggodaku, tentang apa lagi kalau tidak masalah khitbahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya itu salah satu yang aku khawatirkan, ketika di senggang waktu antara khitbah dan akad nikah yang terlalu lama akan menimbulkan fitnah. Tentu bukan hanya itu, ada kekhawatiran-kekhawatiran lain yang terus saja menghantui. Entah tentang apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhir bulan ke empat semester ini aku sudah merampungkan semua tugas-tugas kuliahku. Alhamdulillah, Cum laude. Hanya tinggal menunggu wisuda. Dan aku bisa berpaling pada persiapan pernikahanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka di waktu yang terasa melegakan ini, aku memberanikan diri untuk menghubungi Firdaus. Aku kirim SMS untuknya, kumulai dengan menanyakan kabar dirinya, penyelesaian skripsinya, kemudian tentang persiapan pernikahan kita. Alhamdulillah, baik, katanya. Ia juga menyampaikan bahwa dirinya mendapat nilai sangat memuaskan. Namun di saat kubaca SMS yang selanjutnya, ada kalimat yang membuat air mataku tumpah seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;blockquote&gt;...Dengan menyebut nama Allah, atas ketidak-berdayaan ini, kerena Dialah yang Maha membolak-balikkan hati. Afwan sebelumnya, bukan maksud ana untuk menyakiti, karena ana yakin Anti juga sudah sama-sama memahami, bahwa selama seseorang itu belum dilaksanakan akad, itu artinya masih memungkinkan bagi mereka untuk menentukan pilihan kembali. Maka dari itu, ana mohon kepada Anti untuk memberikan waktu bagi ana untuk melakukan istikharah. Afwan wa Syukron.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berderai aku membaca kalimat itu, lunglai seketika aku membacanya hingga ponsel hampir-hampir lepas dan terjatuh dari genggamanku. Ternyata di tengah jalan ia menemukan ketertarikan kembali pada seorang akhwat lain kampus. Aku ingin menangis menjerit, tapi tak mungkin aku lakukan karena berada dalam asrama bersama adik-adik mahasiswi. Aku hanya duduk tersungkur di sudut kamar sambil memeluk lutut, dan kutelungkupkan mukaku di pelukan untuk melampiaskan semua rasa hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benarlah, perkataan maaf itu berbuah keputusan terpilihnya akhwat itu. Firdaus pun memintaku untuk menyampaikan permohonan maaf kepada kedua orang tuaku, meski pada akhirnya aku tak berani menyampaikan pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari aku hanya bisa meratapi diri, menangis tersendat dalam sujud di saat tenggelam oleh gelapnya malam hari, dan sehari-hari pun aku menjadi lebih suka menyendiri. Maka di waktu tahajjud ini, setelah melakukan sholat beberapa rakaat kubuka laptop untuk menghibur diri. Kubuka e-mail, dan kudapat satu inbox baru. Dari teman sebangkuku waktu SMA dulu, Abigai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Assalamu’alaikum, Ukhti, gimana kabarnya? Lama gak ketemu, rinduuu rasanya. Hehehe. Jangan kaget lho, ana sekarang sudah ngaji juga. Gak mau kalah dong sama Anti yang lebih dulu berkerudung lebar itu. Hehehe. Alhamdulillah, akhirnya ana sadar juga ya? :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, denger-denger Cum laude nih? Hm, senangnyaa.. Traktiran dong? Hehe.. Alhamdulillah, kebetulan nilaiku juga cukup memuaskan, meski dari dulu ana tidak bisa mengejar kepandaian Anti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti, afwan sebelumnya, ada sesuatu yang hendak ana sampaikan. Afwan juga karena ana baru mengetahui ceritanya lewat teman ana yang sekampus sama Anti, tapi ana kira ini belum terlalu terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firdaus, ketika itu dia menyatakan khitbahnya pada ana setelah dia mengetahui bahwa ana sudah berubah. Ana tak tahu kalau hal itu dilakukannya setelah dia melakukan istikharah. Yang mengejutkan, ternyata sebelumnya dia sudah ada status mengkhitbah seseorang, yaitu Anti, teman yang pernah sebangku dengan ana sendiri, yang sudah ana anggap saudara sendiri. Di sinilah ana merasa sangat bersalah telah menerima khitbahnya. Karena itu, ana memilih untuk mengundurkan diri dari khitbahnya, dan ana sudah sampaikan hal ini kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana lebih mengharap cinta kepada Allah ketimbang sekedar cinta dari manusia, bahwa ana lebih takut melakukan hal yang diharamkan Allah dengan melampaui hak saudaranya. Sekalipun Firdaus pada akhirnya membatalkan khitbahnya pada Anti, tetapi ana tahu bahwa ia sudah membuat kesepakatan dan janji. Maaf atas kekhilafan saudaramu ini, Ukhti. Sama sekali ana tidak ada maksud membuat Anti menghadapi masalah sepelik ini. Ini benar-benar terjadi tanpa kesengajaan. Maka seketika kemarin ana sampaikan kepada Firdaus untuk tetap dalam janjinya kepada Anti. Dan untuk selanjutnya, ana serahkan kepada Anti, karena semuanya tergantung hak Anti sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin cukup sekian dari apa yang ana perlu sampaikan. Sekali lagi ana minta maaf atas segala khilaf, dan terima kasih atas perhatian dan keikhlasannya. Wassalamu’alaikum.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar merasa lega sesudah membaca e-mail itu. Bukan karena Abigai, teman sebangkuku, saudaraku itu, membatalkan ikatannya dengan Firdaus, namun lebih kepada kabar gembira bahwa ia sudah benar-benar berubah. Tak sabar melihat kecantikannya ketika ia memakai kerudung lebar. Dulu di SMA dia tak pernah mau kusuruh memakai kerudung, ia lebih suka menjulurkan rambut panjangnya yang terurai indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasa dia adalah perempuan yang paling cantik di sekolah kami dulu. Bukan hanya aku yang berkata seperti itu, tetapi hampir semua mengakui kecantikannya. Meski terkadang teman-teman menilai bahwa kemiripan antara aku dan Abigai seperti saudara kandung, tapi tetap saja, ia lebih cantik, lebih tinggi, dan lebih putih kulitnya dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Firdaus, pagi itu dia mengirimkan SMS kepadaku. Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Abigai, bahwa ia memang berniat untuk ’kembali’ kepadaku. Aku, yang berhati perempuan, sama sekali belum bisa melupakan peristiwa itu. Apa yang ada dalam pikirnya, tanyaku. Kalau benar kembalinya hanya untuk mengasihi diriku, maka aku tak pernah berharap untuk dikasihinya. Bukan aku seorang pendendam, tetapi aku, yang berhati perempuan, memang tak mudah untuk menerima sikap itu. Maafnya memang berusaha kumaafkan, tapi satu hal yang tak bisa lagi kulakukan. Maka kupersilahkan dirinya untuk mencari yang lebih dari yang ia pinta. Dariku, untaian maafku, karena aku bukan Cleopatra. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Keseluruhan isi cerpen ini fiktif belaka, namun terinspirasi dari kisah nyata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-112582127942565681?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/112582127942565681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/10/karena-aku-bukan-cleopatra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/112582127942565681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/112582127942565681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/10/karena-aku-bukan-cleopatra.html' title='KARENA AKU BUKAN CLEOPATRA'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TMGQLkqeCPI/AAAAAAAAARI/FLoAc37NKf4/s72-c/akhwat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-7349692411733049859</id><published>2010-10-18T16:31:00.000-07:00</published><updated>2010-10-18T17:45:33.530-07:00</updated><title type='text'>Hunuslah pedang Ali dan Aisyah di tempat yang pantas [Sebuah Instrospeksi 16:125]</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TLzZ3frrKeI/AAAAAAAAAQ4/NZG3VfVP9AY/s1600/Picture1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TLzZ3frrKeI/AAAAAAAAAQ4/NZG3VfVP9AY/s320/Picture1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529533989924841954" /&gt;&lt;/a&gt;Barangkali saja namanya manusia, aktivis dakwah pun terkadang masih menyimpan sifat membuta. Ia begitu tempramental. Hingga terkadang tipis bedanya antara berargumentasi dengan mempertahankan gengsi dan emosi (al-baqa'). Padahal jika demikian, bukankah 'mundur untuk menang' adalah pilihan yang harus dilakukan? Bukan ia kalah, tetapi menghindari 'unsur setan' mestinya sebuah kemestian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada hal yang terlupakan ketika kita mengedepankan otot-otot perdebatan -jika tidak dikatakan pertikaian-. Boleh jadi benar kita mempertahankan kebenaran, tetapi jika terselip kepentingan ’keperkasaan intelektual’, hingga kemudian mengakibatkan putus tali persaudaraan, bukankah dengan itu kita justru melakukan hal yang diharamkan? Ironisnya, jika keharaman itu hanya diakibatkan oleh perkara-perkara cabang, atau berupa kesalah-fahaman definisi yang masih mereka pegang. Dan na’udzubillah, jika kekisruhan itu dimunculkan atas nama ta’ashub pergerakan. Maka dimana letak tolok ukur amal (miqyasul ’amal) yang kita punya? Maka dimana kita menyembunyikan kaidah yang mengatakan bahwa menghindari kerusakan itu lebih utama dari pada mengambil kemaslahatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saatnya kita memang perlu untuk meninggikan suara, tetapi, tetap pada saatnya. Sulit rasanya jika sejak awal kita berangkat dari kebencian. Bukan lah kita akan mendapat kebenaran, tetapi selalu saja pembenaran. Saya sendiri pernah berkata dalam hati: Lebih baik saya tak hafal dalil! Jika dengannya hanya sebagai bekal untuk menyakiti. Bukankah dakwah ini karena kita cinta, hingga menyampaikannya pun harus dengan cinta. ”Katakanlah kebenaran walau pahit!”, tetapi apa harus dengan meninggalkan luka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama ini bukan untuk gagah-gagahan, Kawan. Maka seberapa toleran kita pada yang lemah? Seberapa sabarkah kita memposisikan diri sebagai ’pencerah’? Tancapkanlah dalam hati, bahwa semua aktivitas membentak, mengumpat atas nama dakwah, pada hakekatnya hanya menunjukkan bahwa diri kita lebih menguasai. Bahkan di saat yang sama, ia menunjukkan terbatasnya asa, sikap yang tergesa-gesa, atau rapuhnya jiwa kita, bahkan ia pun menunjukkan seberapa kemampuan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegaslah jika memang harus tegas, keraslah kalau memang harus keras, tetapi semua itu harus dilandaskan atas argumentasi, bukan sekedar emosi sampai-sampai mengumbar aib tiap-tiap pribadi. Atau sesumbar dengan kebaikan-kebaikan diri. Atau pembantaian mental berupa cibiran dan hinaan yang ditujukan kepada saudara Muslim sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ingatlah, Kawan, ingat! Siapa yang bergembira di balik sana di saat pedang Ali dan Aisyah -radhiyallahu ’anhum- berkelebat satu sama lain? Ah, tak perlulah aku jawab pertanyaan itu di sini. Kitapun sama-sama tahu siapa musuh sesungguhnya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, sengaja kubuat tulisan ini sebagai instrospeksi diri pribadi, namun barangkali akan terpakai pula oleh kawan sesama peniti jalan ini. Karena lagi-lagi, khawatirnya, kita yang mengerti konsep Gharizah Al-Baqa’ malah justru terjebak dengan Baqa’ sendiri. Khawatirnya, ilmu yang kita miliki belum cukup didukung dengan keikhlasan hati. Khawatirnya, ’kaburo maqtan ’indaLlahi..’. Khawatirnya, wal-’Iyadzubillah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sekiranya ada yang ’tersamar’, akhiri perkataan dengan istighfar. Dan jika hal itu pernah menimpamu dariku, maka tak segan-segan kukatakan padamu: Terimalah maafku, Kawan. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-7349692411733049859?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/7349692411733049859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/10/hunuslah-pedang-ali-dan-aisyah-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7349692411733049859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7349692411733049859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/10/hunuslah-pedang-ali-dan-aisyah-di.html' title='Hunuslah pedang Ali dan Aisyah di tempat yang pantas [Sebuah Instrospeksi 16:125]'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TLzZ3frrKeI/AAAAAAAAAQ4/NZG3VfVP9AY/s72-c/Picture1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-1362766219461279430</id><published>2010-10-06T21:07:00.000-07:00</published><updated>2010-10-06T23:39:22.179-07:00</updated><title type='text'>Diiringi dentuman M.O.G.S.A.W - Purgarory</title><content type='html'>Mimpi. Entah kenapa, mengingat mimpi itu, kerinduanku seringkali membuncah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, nyatalah aku masih kecil. Ada sesuatu yang tak biasa saat itu, seseorang berbadan tegap berjalan menuju rumahku. Ia berjubah putih. Dan seingatku, ia memancarkan semacam aura cahaya putih. Benar-benar putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian duduklah ia di teras, searah rumahku menghadap ke barat. Maka tahulah aku bahwa ia sedang menunggu seseorang. Yang mengejutkan, Ibu kemudian datang dan berkata kepadaku, ”Nak, keluar sana. Ditunggu Muhammad.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disebut Ibuku itu, memang Muhammad, seseorang yang telah diabadikan namanya dalam kitab suci Al-Qur’an. Seseorang yang dibetulkan sorbannya oleh Abu Bakar ketika dalam tangis ia berdoa dalam Badar, seraya dihibur untuk dikuatkan. Seseorang yang harus kucinta bahkan melebihi orang yang melahirkanku sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi itu, kurang lebih satu dekade yang lalu. Namun hingga saat inipun masih tergambar jelas dalam benakku. Dan itulah mengapa, peristiwa itu seringkali membuat dadaku penuh sesak rasa rindu untuk bertemu. Rasa rindu yang seakan mau membelesak tak tertampung dalam dadaku. Rasa rindu yang mampu membanting kemalasan iman yang berusaha menyelimutiku. Allahumma shalli ’alaa Muhammad wa aali Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin pasti ada yang pernah berfikiran sama sepertiku, mungkin Kamu. Iseng-iseng muncul pikiran ”usil”: Andai dulu dilahirkan di zaman Rasulullah. Ah, betapa bahagianya. Aku membayangkan bisa bertemu Rasulullah, bersahabat dengan Rasulullah, bersenda gurau dengan Rasulullah, kemudian berjuang mati-matian berdakwah dan berjihad bersama Rasulullah. Pokoknya indah banget. Yah, namanya juga bayangan usil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tapi, apa iya semudah itu bayangannya? Bagaimana kalau kita justru direkrut dan dikader oleh Abu Jahal? Atau, bagaimana kalau kita tergoda iming-iming kafir Quraisy dengan wanita-wanita bohay, penari seksi (katakanlah artis pada masa itu), musik-musik jahiliyah (sebut saja Band terkenal pada zamannya yang suka membawakan lagu-lagu cinta penuh sahwat), lalu mendapat tawaran jabatan (singkat kata jadi anggota partai, lalu diangkat menjadi anggota Dewan), kemudian minuman lezat dan memabukkan. Nah, bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya kita akan lebih bersyukur hidup saat ini yang kemudian dipertemukan hidayah. Karena jika dihidupkan pada zaman Rasulullah, belum tentu hidayah itu turun kepada kita. Bukan semata-mata karena masih sedikit yang menyampaikan Islam, tetapi pada masa itu, makian, ancaman, siksaan, dan pemboikotan sangat gencar ditimpakan kepada penganut jalan kenabian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya itu, bahasa Iman pada waktu itu memang mutlak dituntut ketimbang sekadar mengandalkan ’rasionalitas’ semata-mata, di samping propaganda-propaganda miring tentang khabar kenabian dan wahyu yang telah diturunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu peristiwa yang menuntut bahasa keimanan itu, Isra’ Mi’raj, misalnya. Ia begitu ’tidak masuk akal’ untuk ukuran ilmuan yang hanya mengandalkan rumus-rumus fisika, mengingat pada masa itu belum ada BJ. Habibie yang faham pembuatan pesawat. Maka perdebatan pun tak dapat dihindarkan. Dan bagi Abu Bakar, manusia yang tak retak Imannya itu, beliau berkata, ”Benar sekali engkau, wahai Rasulullah. Aku bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasulullah saw..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menyahutlah Rasulullah, ”Sedang engkau, Abu Bakar, Ash-Shiddiq, orang jujur yang membuktikan ucapannya dengan perbuatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya begitu tertarik mengkaji peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw.. Lagi-lagi kalau boleh usil, kejadian itu saya sebut sebagai: Peristiwa unik. Dan yang lebih menggairahkan lagi ketika saya membacanya dalam Sirah Nabawiyah-nya Syaikh Rawwas Qal-ahji. Beliau tak hanya memuat cerita, tetapi juga menyingkap unsur politis yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatalah Isra’ Mi’raj sesungguhnya merupakan ujian dari Allah kepada manusia, sehingga dengannya berimanlah orang-orang yang beriman, dan berdustalah orang-orang yang berdusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penetapan waktunya, perstiwa itu terjadi setahun sebelum diproklamirkan berdirinya Negara Islam. Di sinilah pentingnya, mengingat peristiwa itu melahirkan goncangan dan kegiatan yang tidak biasa di kota Makkah, yang kemudian menghasilkan perdebatan di semua komunitas. Menariknya, secara tak sadar, perdebatan yang berlangsung itu semuanya terfokus pada issue Ideologi yang diturunkan kepada Rasulullah saw.. Semuanya disibukkan berbicara tetang Islam, baik bagi yang merasa terkesan maupun yang merasa terancam. Dengan demikian, kondisi perpolitikan pada waktu itu disibukkan dengan pembahasan mengenai Ideologi Islam. Hanya saja, saya kurang tahu apakah pada masa itu orang-orang ’terpelajar’ ada yang membikin seminar mengenai ”Tantangan dan ancaman Islam”. Ah, saya yakin ada, tetapi tidak harus bernama forum seminar. Dan terpikirkah olehmu bagaimana respon Quraisy terhadap ide Islam pada masa itu? Melihat dari gelagatnya, saya yakin mereka tak segan-segan akan berkata: U-to-pis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sambil melihat masa itu saya berkaca pada keadaan sekarang. Manusia-manusia saat ini banyak disibukkan dengan issue Syariat Islam. Yang sini tertarik dengan Syariat Islam, yang situ menggembosi. Yang di sini merasa simpati, yang di sana terus memberangus dan memerangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain hal, dengung Daulah Islam (Khilafah) semakin menjadi-jadi. Seperti biasa, mulai dari yang terkesan sampai yang merasa terancam. Mulai dari aktivis Islam sampai kepada NIC (National Intelelligence Council’s).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sibuk membuat prediksi, NIC memperkirakan 2020, sementara negaranya striker enerjik Van Persie kabarnya sudah merencanakan hubungan diplomatik dengan Negara Khilafah. Sementara itu, bagi aktivis Islam yang faham hadits sudah barang tentu meyakini, karena dalam rentetan khabar –sampai tersebut sebagai mutawatir bil ma’na- Allah menyampaikan janji. Alih-alih sibuk dengan prediksi, mereka malah sudah mengancang-ancang kota Roma untuk segera disinggahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kiranya tepat terdapat persamaan ibrah antara dampak peristiwa Isra’ Mi’raj dengan kejadian saat ini, yakni sama-sama merupakan ujian bagi umat manusia, sekaligus sama-sama menimbulkan perdebatan sebagai ”kampanye gratis” menuju kegemilangan pada akhirnya. Dalam kaitannya dengan tegaknya Syariat Islam dalam bingkai Khilafah, mereka akan memilih jalan mereka sendiri-sendiri: Ada yang dengan senang hati mereka memilih sebagai pemain, ada yang rela hati hanya sebagai penonton, dan bahkan ada yang memilih sebagai penentang. Maka agungkanlah jalan kalian masing-masing. Cepat atau lambat, senyum lebar akan menandakan di antara kita siapa yang menjadi pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerinduan, Surabaya 07 Oktober 2010&lt;br /&gt;Ahsan Hakim.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-1362766219461279430?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/1362766219461279430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/10/diiringi-dentuman-mogsaw-purgarory.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/1362766219461279430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/1362766219461279430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/10/diiringi-dentuman-mogsaw-purgarory.html' title='Diiringi dentuman M.O.G.S.A.W - Purgarory'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-639631625088905453</id><published>2010-09-15T22:10:00.000-07:00</published><updated>2010-09-15T22:17:18.944-07:00</updated><title type='text'>CUMA CANTIK, BUAT APA?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TJGngviboSI/AAAAAAAAAQo/I2CfQDj8Vq8/s1600/Picture1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 138px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TJGngviboSI/AAAAAAAAAQo/I2CfQDj8Vq8/s200/Picture1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5517375199464104226" /&gt;&lt;/a&gt;Wah, belum apa-apa judulnya sudah menggebrak begini. Bikin suasana mendadak panas nih. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat muda muslim, banyak di antara teman-teman kita yang dikaruniai wajah cantik, lekuk tubuh yang aduhai, kulit seputih salju, bibir merah merekah dan sebagainya, tapi jarang sekali mereka mensyukurinya. Ada sih yang mengaku-ngaku mensyukuri karunia itu, tapi dengan cara memamerkan privasinya di tempat-tempat umum. Di sisi lain, tidak sedikit dari kaum Adam yang menikmati ‘pemandangan’ itu lalu dengan serta merta membuat klaim bahwa perbuatannya itu dalam rangka mengagumi dan menghayati ciptaan Allah SWT yang bahenol dan indehoy. Waduh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By the way, sebelumnya mohon maaf, karena saya dalam kondisi nggak stabil ini nulisnya, alias sambil marah-marah! Hm, gimana nggak marah coba, karunia Allah –berupa kecantikan- yang telah diberikan ternyata banyak yang disalah-gunakan. Aturan Allah yang diberikan kepada kita malah disepelekan. Bukannya taat malah bikin pelanggaran! Bukankah ini namanya penghinaan? Bukankah ini akan dapat merusak citra Islam?? Bukankah ini akan merugikan saudaranya yang seiman?? Hayo, jawab!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman, sebenarnya saya menulis judul ini bukan berarti saya nanti tidak menginginkan istri cantik dan malah mencari istri yang berwajah robot, bukan! Hanya saja kalau kecantikan seseorang itu justru akan mengantarkannya ke Neraka, buat apa? Apa untungnya? Rugi dong kalau kecantikan yang mereka punya hanya untuk modal berbuat dosa. Kan nggak lucu wajah cantik yang semestinya bernilai ibadah [dengan cara mensyukuri, menjaga, dan diperuntukkan bagi orang yang halal –suami-], malah menjadi “tiket” untuk masuk neraka. Itulah makanya, gara-gara banyak orang cantik di dunia ini yang besar kemungkinan masuk neraka, teman ngerumpi saya pernah nyeletuk, “Saya nanti mau masuk neraka aja ahh..” Saya Tanya, kenapa? Dia jawab, “Lha, enak dong nanti di neraka banyak orang cantiknya.” Hahaha, dasar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri malah beranggapan, cantik itu boleh jadi cobaan. Bisa kamu lihat, berapa banyak wanita di jagad raya ini yang terkena cobaan kecantikan. Agar dibilang cantik, dia riya’. Agar tampak cantik, dia tabarruj. Makanya sekarang banyak cewek yang kalo pergi jjs pasti bawa tas kan? Coba tebak isinya apaan? Tidak salah lagi, peralatan perang! (Wuih, serem bener?). Iya, biar rambut selalu rapi, selalu sedia sisir (ini karena tidak berkerudung toh?). Biar wajah nggak kelihatan kucel en kumel plus mengkilap, tenang aja, udah ada kertas minyak en sabun wangi plus oil control moisturizernya. Bedak super mahal tak tanggung-tanggung siap menjadi dempul. Biar kelihatan manis dan lucu sedia juga pemerah. Pewarna alis, karena alis yang asli sudah dikerok abis. Bibir juga nggak boleh kelihatan kering, so lipgloss pun jadi super penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ketinggalan soal kulit. Ini jelas menjadi tuntutan berat bagi para wanita. Karena kulit wanita diidentikkan dengan kulit halus, lembut dan putih. Yang namanya kulit bersisik, kasar, kering, item, masyaAllah amit-amit! Makanya banyak wanita yang menggelontorkan duit untuk beli soklin pemutih, eh, sabun pemutih. Semuanya harus nampak putih: wajah ingin putih, kulit juga putih, gigi putih, rambut juga putih. Pokoknya semua produk kosmetik yang iklannya ba-bi-bu bisa memutihkan kulit, segera dikoleksi. Padahal, mestinya sebelum membeli kosmetik pemutih, jangan hanya karena tertarik model iklan yang memang dari sononya sudah putih dan cantik itu. Kita harus kritis dong! Apakah pemutih itu sudah lulus uji coba program pemutihan kulit warga Afrika? Kalo tidak putih lantas apa jaminannya? Nah, kalo perlu kamu juga kudu tanya, apakah selesai memakai produk kosmetik itu lalu cowok-cowok dijamin bakal jatuh cinta? Walah! Hh, padahal kalo dipikir-pikir, buat apa juga assesories segitu banyak dan mahalnya kalo hanya untuk keperluan pamer kecantikan? Lebih dari itu, untuk menebarkan dosa dengan mengumbar aurat sebagai “barang jajanan”! Astaghfirullah, astaghfirullah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gilanya lagi, terkadang ada wanita yang dalam aksi-aksinya Cuma modal tampang doang! Sibuk permak tampilan, sementara otak melorot ke dengkul malah kurang diperhatikan. Hm, harap jangan salah faham, ini bukan bermaksud penghinaan, tapi sebuah kejujuran yang ditulis dari beberapa fakta di lapangan (Watauw! Yang kesindir harap tahan air mata ya? Hehehe). Makanya bagi yang laki-laki jangan Cuma terpesona dengan “casing luar” alias tampang belaka. Ingat pesan engkong kita: Lihat Bibit, Bebet, dan Bobotnya. Lebih jelas lagi Rasulullah SAW memberikan kriteria,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wanita dinikahi karena empat perkara: Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena Agamanya. Maka nikahilah yang memiliki Agama, niscaya kamu akan selamat.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup, karena Agama. Nah, sekarang kalau ada yang bertanya, saya sendiri pilih kriteria yang mana? Maka saya jawab: Empat-empatnya! Hahaha, dilarang protes!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Perhiasan terindah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saudara penulis, ini yang dibahas kok cuma yang cantik aja, kapan giliran yang jelek? Hahaha, sabar, sabar. Setidaknya saya punya tiga alasan kenapa saya hanya membahas yang cantik. Pertama, karena saya laki-laki. Kedua, berhubung artikel ini saya yang nulis, ya suka-suka saya. Ketiga, saya berpendapat bahwa semua wanita adalah cantik. Yah, ini karena tidak mungkin ada wanita yang ganteng kan? Ah, yang benar saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kamu ingat satu judul lagunya Mulan Jameela; “Makhluk Tuhan paling seksi”, yang kemudian ditafsirkan oleh Ahmad Dhani bahwa kata “seksi” yang dimaksud adalah sesuatu yang mempunyai nilai daya tarik, maka sebetulnya perempuan dalam pandangan Islam lebih dari sekedar definisi itu. Menurut rekomendasi Al-Quran, perempuan menduduki peringkat tertinggi keindahan-keindahan yang diinginkan manusia. Allah SWT berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dijadikan indah (pandangan) manusia apa-apa yang diingini yaitu: Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah lading” (QS. Ali-Imran:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW, ketika bicara soal perempuan, maka yang Beliau katakan adalah,&lt;br /&gt;“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak pelak lagi, perempuan adalah perhiasan dunia. Tak tanggung-tanggung, yang terindah! Kita sepakat itu. Cuma, kalo sudah mendapat label semacam itu lalu mau diapain? Diumbar? Gratis? Cuci gudang? Beli satu dapat dua? Bagi lelaki keong racun mungkin disambutnya sebagai anugrah, namun bagi kita-kita yang sudah ngaji, serasa ketiban musibah! Iya dong, gimana nggak dianggap musibah, lha iman kita yang jadi taruhannya! Siapa yang bertanggung jawab kalo raport keimanan kita merosot bin melorot? Okelah mereka boleh menyalahkan kitanya yang suka jelalatan (ini bagi yang jelalatan), tapi hati-hati cing!, orang yang suka mancing-mancing berbuat dosa itu termasuk absensi pertama masuk neraka! Sekali lagi, neraka! Catat itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, biar aja deh banyak orang cantik yang terkena budaya barat. Emang begitu kok, agaknya akan banyak wanita cantik yang bakalan terkena adzab Ilahi. Hiii, na’udzubillah min dzalik, ya?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Hakikat cantik yang sesungguhnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lengkap dengan software keindahannya. Namun terkadang, banyak wanita yang tidak memahami bagaimana memelihara kecantikan yang telah dikaruniakan, sehingga tidak sedikit di antara saudara-saudara kita yang terjurumus karena kecantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap wanita terlahir dengan segenap potensi keindahan yang melekat pada dirinya, tentu dengan kadar yang berbeda-beda. Setiap kadar potensi tersebut adalah amanah yang harus dijaga. Dan yang terpenting, bagaimana memaknai dan mengelola potensi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan, bukanlah semata tubuh dan wajah. Ada sebentuk kecantikan yang wajib dimilki wanita. Kecantikan yang pasti bisa diraih oleh semua wanita, jika ia ikhlas berusaha. Itulah kecantikan sejati yang merupakan kecantikan sesungguhnya. Apalah artinya keindahan rupa dan raga tanpa disertai kecantikan pekerti dan jiwa. Cantik jiwa dan raga, adalah kecantikan seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan secara fisik seringkali menjadi standar penilaian seseorang. Padahal, hati dan amallah yang menjadi ukuran. Bentuk fisik seseorang tidak akan mempengaruhi nilai seseorang di sisi Allah. Maha suci Allah, yang tidak membeda-bedakan wujud ciptaan-Nya. Raga seseorang hanyalah media, yang hendaknya digunakan untuk melakukan ketaatan, dengan meluruskan hati dan jiwa, serta melaksanakan amal ibadah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-639631625088905453?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/639631625088905453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/09/wah-belum-apa-apa-judulnya-sudah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/639631625088905453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/639631625088905453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/09/wah-belum-apa-apa-judulnya-sudah.html' title='CUMA CANTIK, BUAT APA?'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TJGngviboSI/AAAAAAAAAQo/I2CfQDj8Vq8/s72-c/Picture1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-2586598083389751173</id><published>2010-08-02T22:10:00.000-07:00</published><updated>2010-08-04T00:50:28.754-07:00</updated><title type='text'>PLURALITAS BUKAN PLURALISME</title><content type='html'>Di tengah skripsi mulai tak terlihat seksi saya menulis artikel ini. Di tengah kisruh wacana pluralisme telah digulirkan kembali. Saking gemasnya, maka tanpa berpikir panjang saya ’lempar’ saja tumpukan print-out skripsi, dan jadilah saya menyempatkan waktu untuk mendamprat pemahaman yang selama ini dipelintir-pelintir hingga tidak jelas lagi untuk diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak bisa dipungkiri, kita ini, terjebak pada ranah intelektual. Hingga tidak sadar kita saat ini telah dicoba diombang-ambingkan seputar wilayah definisi. Bagi mereka yang ikhlas menggali kebenaran, mereka akan ’legowo’ menerima Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sandaran argumentasi. Namun bagi mereka yang bebal, yang merasa mapan berada pada ”zona nyaman”, lebih-lebih yang sarat dengan kepentingan, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah seolah-olah hanya difungsikan sebagai ”tafsir” dan diperalat untuk mendukung definisi abal-abal yang telah diadopsi. Maka, kita termasuk golongan yang mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya mohon maaf jika tulisan saya ini terkesan agak norak dan tidak begitu rapi. Memang sengaja saya tulis dengan tempo agak cepat agar skripsi saya segera tertangani kembali. Baiklah, saya kira basa-basi ini tidak begitu penting bagi Anda. Maaf, saya semakin ngelantur jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana pluralisme dalam beberapa waktu lalu memang baru banyak disuarakan oleh ’pion-pion’ lokal, namun kemudian beberapa ’pentolan’ luar pun mulai turun gunung dan angkat bicara. Sebut saja Franz Magnis Suseno, rohaniawan Jesuit kelahiran Eckersdorf-Jerman sekaligus guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya ini berusaha mengaburkan definisi pluralisme agama dengan cara menceraikannya dengan paham relativisme dan mencoba menggiring pemahaman sebagai makna toleransi. Seperti yang ditulisnya dalam salah satu harian ibukota, ”Hanya seorang pluralis sejati yang toleran.” Pernyataan ini seolah-olah menyiratkan bahwa yang tidak pluralis berarti tidak toleran. (Lihat, Dr. Syamduddin Arif, Orientalis &amp; Diabolisme Pemikiran, 80).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buntut-buntutnya, tidak jarang kalangan yang mengatas-namakan dirinya kaum intelektual Muslim yang terkenal kritis terhadap ulama’-ulama’ Islam dengan mudahnya menenggak pemahaman semacam ulama’ pendeta tersebut tanpa terlebih dulu dipamah dan dikunyah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa terdapat bermacam-macam agama di muka bumi ini adalah fakta yang tidak terlelakkan. Namun masalahnya, bagaimana seharusnya penyikapan terhadap pluralitas itu dilakukan. Dalam pemahaman Islam, seorang Muslim harus selalu dituntut keseimbangan dan kewajaran dalam beraqidah, beribadah, dan bermu’amalah. Umat Muslim diwajibkan berjihad, tetapi di sisi lain juga diperintahkan untuk menebar kedamaian. Saling menghormati dan toleransi kepada pemeluk agama lain diharuskan, namun dakwah kepada mereka juga diwajibkan. Kepada non-muslim yang ’lurus’ (ahli dzimmah) wajib diberikan perlindungan, tetapi bagi mereka yang berkhianat dan justru memusuhi Islam dan kaum Muslimin maka mereka harus diberikan ’kejutan’. Inilah aturan mainnya, sehingga ’peaceful coexistence’ akan dapat terwujud. Dan jika hal ini dilanggar maka bola salju konflik akan terus bergulir dan menjadi sulit untuk dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pluralisme, tidak akan terlepas dari paham relativisme. Sekilas memang terkesan ’baik’, apalagi tujuannya dikatakan untuk menemukan ’common platform’ demi terwujudnya kerukunan antar umat beragama. Tapi lihatlah, mereka bahkan tidak nyadar kalau dirinya nyasar, mereka berpendapat bahwa semua agama adalah sama benarnya, tidak diperkenankan memonopoli kebenaran agama tertentu. Mereka beranggapan semua agama mewakili kebenaran yang sama, meskipun ’porsi’ dan ’resepnya’ berbeda. Maka mengerucutlah pada paham inklusivisme, yang mengatakan bahwa semuanya menjanjikan keselamatan, karena jalan menuju Tuhan itu bermacam-macam. Itu artinya, agama Anda bukan satu-satunya jalan keselamatan. Alhasil, menganggap penganut agama lain akan masuk ke dalam api neraka seolah-olah telah ’diharamkan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang model begitu itu, oleh Dr. Syamsuddin Arif dikatakan ”lugu karena memegang pisau bukan pada gagangnya, tetapi badannya”. Bagaimana tidak dikatakan lugu, katakanlah orang Kristen mengaku benar dengan agamanya dan menyalahkan agama yang lainnya, silakan. Biarlah orang Kristen berkeyakinan bahwa mereka akan masuk surganya Kristen sementara umat Muslim akan masuk nerakanya Kristen, no problem. Tapi sebaliknya biarlah kita umat Muslim berkeyakinan akan masuk Surganya Islam, sementara orang-orang Kristen akan masuk Nerakanya Islam. Beres! Lalu mengapa harus dengan melakukan akrobat intelektual? Padahal kalau hanya berhasrat ingin dikatakan ’bijak’, ada ungkapan lain yang masih bisa digali: Okelah semua agama itu baik, tapi tidak semuanya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan selanjutnya yang sering didengung-dengungkan adalah kekhawatiran jika suatu negara diberlakukan Syariat Islam, maka toleransi ditakutkan akan terhapus dari peredaran. Secara tidak langsung, kekhawatiran tersebut sebenarnya diam-diam telah menyiratkan tuduhan bahwa Islam adalah agama bar-bar lagi otoritarian yang tidak mengenal istilah toleran. Tapi tak mengapa, kita harus mengedepankan ’husnudzon’ bahwa orang-orang semacam itu masih belum faham. Karenanya, kita harus main perasaan. Dan tentunya, dakwah jangan sekali-kali diremehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ketika negara memberlakukan Syariat Islam, justru non-muslim akan diberikan ’kebebasan’. Artinya, tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam. Demikian seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. dalam Daulah Islam. Allah SWT berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak ada paksaan dalam agama” [QS. Al-Baqarah: 256]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan, silakan mereka setia seiya sekata dengan agamanya, karena Islam pun telah mempersilahkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku” [QS. Al-Kafiruun: 6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan bila perlu, ketika mereka berada dalam Daulah Islam, mereka bisa mengusulkan semacam ”perda” untuk memberlakukan sangsi bagi jemaatnya yang membelot dari ritual ibadahnya, yang di saat hari minggu tidak berangkat ke gereja malah justru ke pantai untuk melakukan ritual gendaan (pacaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, dalam masalah keyakinan Islam telah memberikan kelonggaran. Allah SWT berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” [QS. Yunus: 99]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, Islam memberikan kelonggaran dalam masalah keyakinan. Ketika umat kristen mempunyai keyakinan bahwa babi adalah ”halal”, maka babi boleh mereka makan. Meski kemudian mereka harus mengecek ulang ”kehalalan” babi dalam PL Imamat 11:7. Lalu dalam hal berpakaian, tidak kemudian mereka dipaksa meyakini wajibnya perintah memakai jilbab dan kerudung apalagi cadar, hanya saja mereka diperintahkan untuk saling mengerti dan menghormati ”adab kesopanan” dalam berpakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dalam hal mu’amalah (hukum), mereka dituntut untuk tunduk kepada Syariat Islam. Sangat wajar kenapa demikian, Islam telah mengatur segala urusan sedangkan dalam agama mereka tidak. Aturan dalam Islam itu sangat kompleks [QS.Al-Maidah: 5], dan telah terbukti dalam sejarahnya membuahkan keadilan pada aspek kehidupan. Maka tidak ada yang perlu dirisaukan, karena Rasulullah pun pernah berkata bahwa, sesiapa yang menyakiti Dzimmi, maka sama halnya menyakiti diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, muncul persoalan. Bagaimana dengan Ahmadiyah? Bukankah mereka juga butuh kebebasan berkeyakinan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, dengan pertanyaan itu sebenarnya dirimu telah mengingatkanku pada peristiwa beberapa hari yang lalu. Saya kena tilang di depan kantor polisi Lamongan sepulang dari Surabaya gara-gara kaca spion saya hilang satu. Apes! Tapi bukan itu masalahnya yang ingin saya bicarakan. Saya hanya mengajak Anda berandai-andai, jika ada polisi gadungan berseragam lengkap, petentang-petenteng dan  mengaku-ngaku dari kepolisian, lalu Anda kena tilang di jalan, maka apa yang Anda lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu jika ada yang mengaku Islam, tetapi Islam gadungan karena tidak meyakini Nabi Muhammad saw. yang terakhir sebagai seorang utusan, maka ini namanya perbedaan ataukah penyesatan? Maka, proporsionallah dalam berbicara konsep toleran, juga dalam melakukan pembelaan, jangan kemudian justru terperangkap dalam lingkaran setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dari saya, salam perdamaian! []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-2586598083389751173?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/2586598083389751173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/08/pluralitas-bukan-pluralisme.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/2586598083389751173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/2586598083389751173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/08/pluralitas-bukan-pluralisme.html' title='PLURALITAS BUKAN PLURALISME'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-7947404089931591486</id><published>2010-07-18T09:29:00.000-07:00</published><updated>2010-07-18T09:34:11.493-07:00</updated><title type='text'>KETIKA CINTA BERTASBIH 3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TEMs2vhj4CI/AAAAAAAAAQA/QK9D1RcyTfQ/s1600/DF.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 189px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TEMs2vhj4CI/AAAAAAAAAQA/QK9D1RcyTfQ/s200/DF.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495285289303924770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MEMBUNUH AZZAM (Bab terakhir yang tidak termuat dalam Novel KCB)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, Azzam, memang mempunyai pendirian yang tidak bisa diganggu-gugat. Pagi ini, sehari setelah pernikahannya, dia harus meninggalkan Pesantren Wangen dan berpamitan pulang ke Sraten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, kenapa harus buru-buru pulang sekarang?”, rajuk Anna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, kan sudah saya bilang saya harus membantu Husna membuat bakso.” Azzam menatapnya penuh cinta, “tidak lama kok, sesegera mungkin saya akan kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Husna kan bisa membuat bakso sendiri Mas, atau bisa juga meminta bantu adiknya, Lia, jadi Mas Azzam tidak harus pulang sekarang kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Dik, saya kasihan Husna kalau harus mengerjakannya sendiri, sementara si Lia belum bisa membantu. Lha Lia masih ingusan begitu! Kamu tidak tahu sih Dik, Lia itu anaknya suka mencret-mencret!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa? Mencret? Jorok sekali ya, seperti Kakaknya. Hehehe” Canda Anna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.. biar jorok tapi kan lulusan Al-Azhar. Sembilan tahun pula, hebat kan? Hiks hiks hiks.” Keduanya tertawa geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tidak menjadi rahasia umum, pengantin baru mestilah ada kesan istimewa, suasana yang berbeda. Pagi-pagi seperti ini misalnya, satu obrolan kecil bisa dibumbui dengan canda yang mengundang senyum dan tawa. Maka tidak heran jika sebelumnya para pujangga menyebutnya surga dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik,” Azzam melanjutkan, “lha terus piye? Diizinkan pulang nggak? Kasihan si Husna, besok itu ada pesanan banyak Dik, bakso lontong untuk kondangan sunatan. Bumbu-bumbunya di sana sudah mau habis, jadi saya juga harus belanja dulu. Saya harus beli tepung, daging, mie, bawang, dan oli.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh? Oli buat apa?” Anna heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masya Allah, oli kok buat apa, ya buat sepeda motor saya! Sudah setengah tahun tidak saya ganti olinya. Makanya bunyi knalpotnya jadi serak-serak basah. Wis, pokoknya begitu ya, saya harus pulang sekarang! Titik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah, Tafaddhal. Kulepas dirimu Kasih ...” puitis Anna, “kalo nyasar balik lagi ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo... syairnya wong edan!” Batin Azzam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bah, saya mau pamit pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, Nak Azzam baru sehari menikah kok sudah mau pulang?” Kyai Luthfi membetulkan kaca matanya, “memangnya ada apa? Jangan-jangan kamu kena HIV seperti si Furqon itu ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Abah ada-ada saja. Ada urusan penting di rumah Bah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Urusan apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Membuat pentol.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spontan Kyai Luthfi tertawa, “Lha urusan pentol saja kok dibilang penting Zam. Padahal ba’da sholat asar nanti seharusnya kamu mengisi kajian Al-Hikam di sini, menggantikan saya yang ada urusan penting di luar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Urusan penting apa Bah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anu, beli odol dan sikat gigi. Kemarin odol saya digondol tikus, tidak tahu disembunyikan di mana. Jadi nanti agenda saya harus ke Super Market beli odol.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spontan Azzam tertawa, “Lha urusan odol saja kok dibilang penting Bah. Kalau saya menganggap membuat pentol sebagai urusan penting karena ini amanah. Ada yang memesan bakso untuk acara kondangan besok. Jadi saya harus menjalankan amanah ini sebaik-baiknya Bah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo begitu. Beruntung sekali saya punya menantu sepertimu Zam, yang selalu bisa menjaga amanah. Lha saya sendiri menganggap beli sikat gigi sebagai urusan penting karena sudah menjadi agenda saya. Saya tidak boleh melanggarnya, karena ini sudah menjadi janji saya pada diri saya sendiri. Jadi, saya tidak boleh membohongi diri. Selain itu, sikap suka menunda-nunda itu adalah perbuatan setan.” Terang Kyai Luthfi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo begitu. Beruntung sekali saya punya mertua seperti Abah. Selalu bisa menepati janji, bahkan janji pada diri sendiri. Ya sudah, saya pamitan Bah,” Azzam beralih kepada Anna, “Dik, muuaah! Mas pulang dulu Sayang. Assalamu’alaykum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wa’alaykumussalam.” Kyai Luthfi dan Anna hampir bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara sendal jepit Azzam terdengar semakin menjauh. Tampak dari belakang, Azzam terlihat begitu gagah, berwibawa di setiap langkah. Anna terus memperhatikannya dengan senyum dikulum. Kekagumannya kepada suaminya semakin bertambah: Azzam itu, lelaki istimewa. Mempunyai pendirian, tekad yang kuat, kedisiplinan, dan tampan pula. Tak terlukiskan bahagianya mempunyai suami semacam dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anna bergegas kembali ke kamarnya, sementara Kyai Luthfi kembali membuka Koran di mejanya. Sejenak setelah itu, terlihat Azzam lari tergopoh-gopoh kembali. Nafasnya tidak beraturan, berkeringat dingin, dan tampak sangat gugup. Ia langsung menuju kamarnya. Ia bingung, tidak bersuara, tenggorokannya seakan tercekat. Sontak peristiwa itu membuat Anna mendadak cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa Mas? Ada masalah apa??” Anna gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Zam, ada berita buruk apa?” Timpal Kyai Luthfi setengah berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, katakan saja ada apa? Kami mengkhawatirkanmu Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar Nak Azzam, katakan saja. Kita akan selesaikan bersama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, kalau kamu tidak berterus terang bagaimana kami bisa membantu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak Azzam, hendaknya kamu sampaikan masalahmu kepada istrimu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azzam lantas memandang lekat-lekat mata Anna. Suasana tiba-tiba senyap tanpa suara. Detik ini, waktu seakan terhenti. Terlihat mulut Azzam sedikit mulai terbuka, Anna semakin cemas menanti penjelasan suaminya. Dan Azzam pun mengucap kata, “Istriku …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, suamiku …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada uang saku? Aku nggak ada ongkos pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azzam kembali lari menuju bus. Ia memilih duduk di kursi penumpang paling depan di belakang sopir. Perjalanan dari Wangen ke Sraten kurang lebih memakan waktu 45 menit. Untuk mengusir kebosanan, Azzam mengeluarkan majalah dari tas ranselnya. Bukan untuk dibaca-baca, tapi dipakai kipas-kipas karena bus yang ditumpanginya sudah butut dan pengap, serta tercium aroma besi berkarat. Sejurus kemudian Pak kondektur menyalakan VCD player yang tergantung dalam bus bagian depan. Lumayan, sedikit hiburan, gumam Azzam. Pak kondektur terlihat sibuk memilah dan memilih kaset VCD yang akan diputarnya. Dapat. Dia langsung memasukkan keping VCD itu ke dalam player. Sejenak kemudian, dari sound sistem yang tergantung, terdengar suara lengkingan seorang gadis, “Assalamu’alaikum!!!” Merespon ucapan gadis itu, sound system menunjukkan gemuruh suara para penonton, lalu gadis itu melanjutkan lagi, “Tangannya di atas semua!!! Mari bergoyang bersama PALAPA …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaghfirullah …” Ucap Azzam tiba-tiba seraya menutup mata dengan tangan kanannya, karena tampak di layar gambar seorang gadis berjoget dan berpakaian setengah telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak kondektur! Tolong matikan tontongan itu. Ganti murottal atau nasyid saja! Astaghfirullah, Astaghfirullah …” seru Azzam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, memangnya kenapa Mas?” Tanya Pak kondektur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menonton tayangan semacam itu hukumnya haram!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masak begini saja haram Mas? Ini kan sekedar hiburan.” Pak kondektur berkelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya Pak kondektur, sampeyan kuliah ke Al-Azhar, biar tahu hukum halal dan haram!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha SD saja saya nggak lulus Mas, masak mau kuliah ke Al-Azhar. Bahasa Arab saya juga nggak bisa blas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, berarti sampeyan kalah dengan anak-anak Mesir Pak. Di sana masih kecil-kecil saja sudah bisa bahasa arab.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan dengan Pak kondektur membuahkan hasil. Tayangan orkes dangdut itu segera dihentikan, dan digantikan dengan menyetel VCD yang dibawakan Azzam. Tadinya Pak kondektur menolak ketika disodorkan VCD Jihad Palestina, takut dituduh teroris katanya. Akhirnya Pak kondektur memilih VCD Ipin-Upin saja, tayangan favorit anak-anaknya di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, di bus juga bisa dakwah.” Kata Azzam dalam hati. Ia pun tersenyum lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan, bus tua itu melaju dengan cepatnya. Dan tiba-tiba, si Sopir bus itu mengantuk. Seketika saja bus yang dikendarainya oleng ke samping kiri jalan. Si sopir tidak bisa mengendalikan. Semua penumpang berteriak histeris. Ada yang berdoa, menangis, anak-anak kecil dalam gendongan ibunya pun juga menjerit. Waktu berjalan sangat singkat ketika kejadian itu terjadi. Bus itu melewati trotoar, dan menubruk pohon besar di pinggir jalan. 5 korban jiwa, termasuk Azzam salah satunya. Ia telah terenggut nyawanya. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kawan, kenapa saya bisa membunuh Azzam? Kau tahu, itulah asiknya jadi penulis. Kau akan bisa jadi ’tuhan’! [Oleh seseorang yang berjuluk Pendekarpemetikbunga –Ahsan Hakim--]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-7947404089931591486?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/7947404089931591486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/07/ketika-cinta-bertasbih-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7947404089931591486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7947404089931591486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/07/ketika-cinta-bertasbih-3.html' title='KETIKA CINTA BERTASBIH 3'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TEMs2vhj4CI/AAAAAAAAAQA/QK9D1RcyTfQ/s72-c/DF.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-2879652319543535861</id><published>2010-07-18T09:10:00.000-07:00</published><updated>2010-07-18T09:36:07.840-07:00</updated><title type='text'>KESOMBONGAN KOLEKTIF</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TEMtRHFzjJI/AAAAAAAAAQI/D9kDRRePlnw/s1600/Menantang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TEMtRHFzjJI/AAAAAAAAAQI/D9kDRRePlnw/s200/Menantang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495285742306561170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sombong itu,&lt;/span&gt; kata Rasulullah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;menolak kebenaran dan meremehkan manusia.&lt;/span&gt; [HR. Muslim].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang disodorkan peran antagonis dalam sinetron, maka kesan karakter yang akan ditangkap adalah kecongkakan. Sikap menghinakan, merendahkan, membabi buta, dan mungkin selalu diikuti dengan penampilan glamour yang menandakan bahwa dirinya pantas untuk diperhitungkan. Itu dalam sinetron, yang tentunya bagi para penonton sangat mudah untuk menilai, bahwa sikap peran itu: Sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak literatur menyebutkan, bahwa sombong adalah satu macam di antara penyakit hati. Oleh sebab tidak stabilnya kondisi hati. Walaupun ini merupakan masalah hati, tetapi penampakannya sangat mudah untuk diindentifikasi. Contohnya terlalu banyak, bisa Anda cari sendiri, yang dengannya akan dapat membuat Anda mengumpat ke arahnya, “Sombong!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang tidak perlu meraih gelar tinggi-tinggi untuk mengerti kata ini, namun agaknya, ada satu hal yang amat teramat disayangkan. Seiring dengan berkembangnya zaman, seakan-akan kata tersebut tengah mengalami reduksi. Atau jangan-jangan, definisi sombong dalam bahasa Indonesia tidak sama dengan pengertian istilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;takabur&lt;/span&gt; dalam Islam? Ternyata benar, bahwa di Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sombong hanya diartikan sebagai: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menghargai diri secara berlebihan; congkak; dan pongah.&lt;/span&gt; Dan setelah diteropong berdasarkan realita penerapannya, maka kita bisa menyimpulkan bahwasanya ‘sombong’ di lingkungan sekitar kita hanya mencakup perilaku “moralitas” belaka. Setingkat lebih sempit ketimbang apa yang dipaparkan oleh Rasulullah saw..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas ada satu hal yang terlupakan, yang secara tidak sadar konsekuensinya jauh lebih mengerikan. Kalau sombong seperti yang telah kita bahas di atas umumnya berobyek kepada sesama manusia, maka kriteria sombong yang kedua yang disampaikan oleh Rasulullah saw., yakni &lt;span style="font-style:italic;"&gt;menolak kebenaran&lt;/span&gt;, itu berarti pelakunya melakukan kesombongan kepada Allah swt..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu kenapa Iblis dipastikan dijebloskan ke neraka, itu akibat sikapnya yang menolak perintah kebenaran untuk bersujud kepada Adam. Dengan congkak ia membangga-banggakan diri merasa lebih terhormat dari pada tanah lempung. Ironisnya, akhir-akhir ini ada yang mencoba bertindak sebagai semacam pembela iblis dengan mengatakan hanya Allah tempat kita bersujud dan bukan kepada manusia, untuk kemudian terlahir klaim bahwa itulah alasan mengapa iblis menolak untuk bersujud kepada manusia. Maka, celetukan yang keluar bisa sampai kepada pernyataan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;iblis berhak menyandang gelar makhluk paling bertakwa&lt;/span&gt;. Andaikan perkara ini dibawa ke meja persidangan, dan Iblis menyetujui alasan pembelaan “pengacara”-nya itu, maka sebenarnya ia pun lupa, bahwa yang ia lakukan hanyalah mencari pembenaran, dan bukan kebenaran. Saya pastikan para “pengacara” Iblis tersebut kurang memahami makna dari “sujud kepada Adam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tetaplah iblis berada dalam vonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang perlu direnungkan disini adalah, semua orang tahu bahwa iblis bukanlah Atheis. Bahkan ia lebih dulu mengenal Allah daripada manusia. Tetapi karena sikap enggan menerima kebenaran, dan justru ia lebih memilih membangkang, maka tetaplah neraka tempat ia bakal dijebloskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah aturan semacam itu hanya diperuntukkan kepada Iblis? Anda pasti tahu ini pertanyaan retoris. Dan jawabannya memang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tidak&lt;/span&gt;. Setiap manusia yang membangkang dari aturan, berani menolak kebenaran, maka resikonya kurang lebih sama seperti yang diberlakukan terhadap iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, masalah besar yang melanda dunia ini, adalah satu hal yang belum sepenuhnya dipahami oleh mayoritas umat Muslim bahwa Agama yang dianutnya telah lengkap memberikan aturan di segala aspek kehidupan. Saya katakan belum sepenuhnya “dipahami” karena realitasnya hanya sekedar “dimengerti”. Orang yang mengerti belum tentu memahami, tetapi orang yang memahami sudah tentu mengerti, untuk kemudian melakoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an, Islam merupakan agama yang sempurna [QS.Al-Maidah: 5]. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sempurna,&lt;/span&gt; artinya tidak satupun aspek kehidupan yang luput dari aturan Islam. Dari mulai perihal sholat sampai perkara buang hajat, dari yang ritual sampai mu’amalah, dari hukum moral sampai hukum tatanan Negara. Maka sebagai  konsekuensi logisnya, Allah memerintahkan manusia untuk berislam secara keseluruhan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kaffah&lt;/span&gt;) [QS.Al-Baqarah: 208].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha, kalau menolak? Dengan alasan apapun, maka harap diingat, sekalipun manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna, tetapi mereka bukanlah “anak emas” yang akan membuat Allah membabi buta membela mereka apapun alasannya. Mereka yang mencoba menolak dan justru memutuskan perkara selain dengan hukum Allah, maka akan dikenai tiga kemungkinan sangsi: Kalau tidak Kafir, ya Dhalim. Dan kalau tidak keduanya, maka ia fasik [QS.Al-Maidah: 44; 45; 47]. Anda yang jika betah-betah saja berislam setengah-setengah dengan mengimani sebagian isi Al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lainnya, inipun dikecam oleh Allah swt. [QS.Al-Baqarah: 85]. Terlebih bagi yang kemudian mencari Agama lain, maka di akhirat ia termasuk orang yang merugi [QS.Ali Imran: 85].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ironi yang selanjutnya, betapa sombongnya Negara ini yang telah menolak hampir keseluruhan aturan dari Allah swt., Tuhan yang notabene Maha Mengatur. Mereka tidak hanya menolak, tetapi bahkan ada yang mencibir dengan mengatakan Syariat Islam tidak relevan untuk diberlakukan. Selanjutnya, mereka meracik sendiri syariat baru untuk menggantikan Syariat Islam. Itu artinya ia merasa lebih pinter dan lebih ‘sakti’ dari pada yang menciptakan dirinya sendiri. Bahkan sempat terdengar suara sumbang yang menuduh Syariat Islam, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;harus bertanggung jawab atas kemunduran umat manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum orang-orang sombong itu membuat aturan baru, Allah swt. sudah melontarkan satu pertanyaan retoris, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apakah hukum jahiliyah yang mereka ambil? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang beriman?”&lt;/span&gt; [QS.Al-Maidah: 50].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian Al-Qur’an juga mengingatkan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.” &lt;/span&gt;[QS.An-Nisaa’: 60].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada sebagian remaja seusia SMA yang berusaha menjelaskan, bukankah dasar Negara ini tidak bertentangan dengan Agama? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai adikku, seindah apapun kata-kata yang menjadi dasar Negara, selagi hukum yang berlaku adalah hukum thaghut maka tetap thaghut. Kemasan kaldu yang bermerek sapi selagi isinya babi maka tetaplah babi, tetap haram dikonsumsi. Nah, apakah Kamu, adikku, melihat hukum Negara ini sudah tepat akurat sesuai Syariat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terdiam. Kemudian datang seorang Dosen, dan berucap dengan nada sarkastis, “ini bukan Negara Agama!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Dosen yang terhormat, Negara ini memang bukan Negara Agama, namun jangan lupa bahwa Negara ini juga bukan Negara setan yang dengan semaunya bisa melegalkan produk hukum nafsu yang belepotan kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, kuberi tahu sekarang ini banyak orang sakit. Yang menyedihkan bahkan sebagian besar tidak merasa kalau dirinya sakit. Penyakit ini aneh, karena berjalan secara kolektif, tersistem dalam satu wadah besar. Penyakit itu bernama Kesombongan kolektif. Dan pelaku kesombongan terbesar kini adalah Negara, yang menolak sebagaian besar –untuk tidak mengatakan keseluruhan- kebenaran. Saya, Anda, saudara kita, semoga masih dikaruniai kesehatan. Inilah akhirnya. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-2879652319543535861?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/2879652319543535861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/07/kesombongan-kolektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/2879652319543535861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/2879652319543535861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/07/kesombongan-kolektif.html' title='KESOMBONGAN KOLEKTIF'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TEMtRHFzjJI/AAAAAAAAAQI/D9kDRRePlnw/s72-c/Menantang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-7150628459421583121</id><published>2010-06-17T07:41:00.000-07:00</published><updated>2010-07-18T08:25:26.289-07:00</updated><title type='text'>KULTUR BERHALA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TEMbbLM6irI/AAAAAAAAAPg/Qu-aCcpTrEE/s1600/23067_1046140393_4096_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TEMbbLM6irI/AAAAAAAAAPg/Qu-aCcpTrEE/s320/23067_1046140393_4096_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495266123999513266" /&gt;&lt;/a&gt;Hari sudah sepi ketika lelaki itu keluar dengan sebilah kapak, menuju tempat sesembahan. Ia mengejek tuhan, ”Kenapa kau tak makan makanan lezat yang disajikan bagimu? Bicaralah, dan jawab kata-kataku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya mengejek, lelaki itu juga melabrak bongkahan-bongkahan batu itu. Menendang, bahkan memenggal leher-leher mereka, kecuali satu patung bertubuh bongsor di sebelah sana dibiarkannya utuh. Lalu ia kalungkan kapak di lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ibrahim!”, salah seorang Hakim menunjuk geram di ruang persidangan, ”Kau yang menghancurkan tuhan-tuhan kami?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim bagai di atas angin, ”Ah, pak Hakim, yang benar saja. Coba Anda tanya patung besar itu. Kan dia yang membawa kapak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Hakim berkerut, lalu ia mendesah, ”Hhh, Ibrahim, Kau kan tahu, patung itu tidak bisa apa-apa. Bagaimana mungkin aku bertanya kepadanya. Ah dasar, Kau ini ada-ada saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berkatalah Ibrahim, ”Jika demikian halnya, mengapa kau sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan. Betapa bodohnya engkau dengan kepercayaan dan persembahanmu itu. Tidakkah kau berfikir dengan akal yang sehat bahwa persembahanmu adalah perbuatan yang keliru yang hanya bisa dipahami oleh setan. Mengapa kau tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekelilingmu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hinanya kamu dengan persembahanmu itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KISAH di atas kiranya sudah kita dengar saat duduk manis di bangku SD dulu. Ya, kisah Nabi Ibrahim a.s. beserta para penyembah berhala. Mereka itu lugu, menyembah kepada apa yang mereka sadari tak berdaya apa-apa, sehingga ketika ”digoda” oleh Nabi Ibrahim, jawaban mereka tampak seperti dagelan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tulisan ini tidak hendak mengangkat kembali cerita-cerita tentang patung berhala. Karena saya tahu, Anda sudah tidak berselera makan bangku SD lagi. Maka kali ini insya Allah kita akan berbicara kepada wilayah yang lebih luas: Kultur Berhala, yang kemudian kita mengenalnya dengan istilah: Thaghut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, tidak berminatkah Anda tentang kiprah dan legenda thaghut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan begitu! Kali ini wajib tertarik. Jangan dikira thaghut hanya berupa sebongkah batu seperti halnya pada masa Nabi Ibrahim, atau berupa cagak-cagak pohon leluhur Dinamisme, sepetak kuburan tempat mencari ’wangsit’, serta sesosok dukun penyembur mantra dan pembual ramal! Tidak, tidak sebatas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikitnya ada lima pelaku biang thaghut yang tersebut dalam Risalah Ma’na Thaghut wa Ruusu Anwaa’ihi oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Namun jika disederhanakan, maka bisa dikelompokkan menjadi tiga komplotan: Pertama, Thaghut ibadah [QS. Az-Zumar: 17]. Kedua, Thaghut hukum [QS. An-Nisaa’: 60]. Dan ketiga, Thaghut ketaatan dan kemengikutan (tha’ah wal mutaba’ah) [QS. Ali Imran: 32]. Nah, tiga komplotan thaghut itu persis seperti yang dikatakan oleh Syaikh Sulaiman bin Salman An-Najdi dalam Ad-Durar As-Saniyah. (Lihat, Imam S, Sekuntum Rosela Pelipur Lara, 77-101).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah! Lekat dan sematkan dalam sel-sel otak Anda: Thaghut ibadah, thaghut hukum, dan thaghut ketaatan-kemengikutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa itu thaghut? Mari bertanya kepada Ibnu Katsir. Beliau Rahimahullah menukil dari Umar bin Khatthab r.a bahwa thaghut adalah syetan. Adalah syetan, katanya. Kuat sekali, karena syetan itu meliputi segala keburukan, dimana kaum jahiliyah berada di atasnya, mereka mengibadahi berhala-berhala, berhukum kepadanya, dan memohon pertolongan dengannya. (Lihat, Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-’Adhim, 1/311).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tidak mungkin ’guyonan’ semacam umat Nabi Ibrahim kini telah terulang kembali. Meski dengan model, warna, serta rasa yang berbeda. Karena jika pada masa Nabi Ibrahim umumnya yang tampak adalah thaghut ibadah, maka boleh jadi saat ini bergelombang dan berduyun-duyun manusia secara sadar atau tidak telah terjerembab dalam thaghut hukum, serta thaghut ketaatan dan kemengikutan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sekarang mungkin tak kalah lugu. Jika si Hakim pada masa Nabi Ibrahim merasa tergagap ketika menyadari bahwa tidak mungkin ia berbicara dengan patung yang ia sembah, maka manusia kini tidak kalah aneh. Aneh karena tak jarang ketika orang-orang piawai melontarkan deretan dalil, namun ketika dihadapkan dengan tatanan hukum, yang keluar justru rentetan dalih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lugu! Ketika berdiri di mimbar khotbah tidak sedikit yang menghimbau kembali kepada syariat, namun ketika berdiri di mimbar upacara pada gilirannya menyuruh berpegang pada undang-undang ’cap londo’, karena ini bukan negara syariat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sindiran yang sering saya dengar adalah berupa pernyataan, ”Mbok ya kita itu sadar, kita hidup dimana. Lha wong kita tidak hidup di Arab.” Nah, saya tidak tahu, orang model begitu itu jika ditempatkan di pedalaman Papua apakah ia bersedia juga pakai koteka. Terus terang, saya sendiri tidak mau, sekalipun ditawari untuk menjabat sebagai ketua suku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pernyataan bahwa Arab merupakan konotasi dari Islam, adalah jelas-jelas salah kaprah! Karena nyatanya orang-orang Arab juga banyak yang ’Arapati-nggenah’!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkanlah! Anda punya kepala, Anda punya helm. Jika ternyata helm tidak sesuai dengan ukuran kepala, lantas apa yang harus dirombak untuk disesuaikan? Helm, ataukah kepala?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirkanlah! Anda diturunkan petunjuk (Syari’at), Anda diberikan dunia. Jika ternyata dunia tidak sesuai dengan petunjuk, lantas apa yang harus dirombak untuk disesuaikan? Petunjuk, ataukah dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” [QS. Al-Jaatsiyah: 20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [An-Naml: 77]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Allah menurunkan Al-Qur’an?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” [QS. An-Nahl: 64].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana? Anda masih ragu? Baiklah, baiklah. Lihat Ayat ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” [QS. Al-Baqarah: 2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kurang apa? Hh, sudahlah, sudah. Terserah Anda. Saya tidak ingin memaksa-maksa. Hanya saja, kalau kita memang meyakini adanya Allah, mengimani ke-Maha benaran Allah, lalu apakah layak kita memilih dan mempertahankan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, ingatlah bahwa dunia kini masih dalam durjana. Hingga ketika saudara kita bertangis darah tak sepenuhnya kita bisa membantu mereka. Kita terlalu lemah, karena berada dalam aturan setan yang lemah. Sementara Allah menghendaki kita untuk kuat, serta memfasilitasi kita untuk menjadi umat yang kuat. Maka betapapun itu, mari tata niat kita, lalu ikrarkan sepenuh jiwa, mari berangkat bersama, dan kita hantam kultur berhala!! Salam metal satu jari. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-7150628459421583121?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/7150628459421583121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/06/kultur-berhala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7150628459421583121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7150628459421583121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/06/kultur-berhala.html' title='KULTUR BERHALA'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TEMbbLM6irI/AAAAAAAAAPg/Qu-aCcpTrEE/s72-c/23067_1046140393_4096_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-8754828211143780673</id><published>2010-06-08T20:00:00.000-07:00</published><updated>2010-07-18T09:38:08.659-07:00</updated><title type='text'>MUSLIM DZIMMI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TEMtrS-sjyI/AAAAAAAAAQQ/Rvnb7yuo74g/s1600/images.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 167px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TEMtrS-sjyI/AAAAAAAAAQQ/Rvnb7yuo74g/s200/images.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495286192174567202" /&gt;&lt;/a&gt;Barangkali mungkin akan ada yang menunjuk hidung ke arah saya, membid’ah-bid’ahkan saya, terkait judul di atas yang terkesan kontroversial. Biar saja. Saya memang suka dengan yang ’ribut-ribut’, saya membenci ’kedamaian’ jika ia hanya sekadar aforisma dari kungkungan ’zona nyaman’. Sebagai penyesatan opini, dan jebakan intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Muslim Dzimmi memang tidak pernah ada dalam konsep Islam. Ini hanya inisiatif saya pribadi ketika melihat realitas kehidupan saat ini yang ’pating pecotot’ tidak jelas jeluntrungnya. Di sisi lain, tidak jarang dari kalangan yang mengatasnamakan dirinya intelektual muslim tanpa segan-segan melakukan akrobat intelektual: Mengkaburkan yang haq, dan mentolerir yang bathil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu saya berbangga hati jika Negeri tempat tinggal dan kelahiran saya, dikatakan sebagai komunitas Muslim terbesar di dunia. Rasa-rasanya ”wah” dan tak tertandingi. Namun maaf, kali ini mungkin saya harus merevisi anggapan itu, setidak-tidaknya untuk diri saya sendiri. Sekali lagi maaf. Bukan karena saya sudah mulai lancang dan durhaka, tetapi memang sudah benar-benar saya renungkan. Apa yang perlu saya banggakan jika jumlah umat Muslim hanya sebatas kuantitas semata-mata, dan nyatanya hampir selalu keteteran untuk membela dan mengangkat kemuliaan Agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya saya mengerti, Negara ini sebetulnya bukan mayoritas penduduknya beragama Islam. Silakan Anda heran, tetapi saya tidak, karena seperti apa yang saya ketahui, bahwa mayoritas penduduk Negeri ini lebih banyak menganut ”Agama Demokrasi”. Kalaupun benar ber-KTP Islam, mereka pun tak segan-segan ”poligami” Ideologi. Alhasil, silakan Anda Islam, tapi sebatas di Masjid, di majlis-majlis dzikir, dan di bulan Suci. Tak usah bawa-bawa agama di ranah politik, jangan seret Islam dalam wilayah konstitusi. Islam terlalu suci untuk semua itu. Lagi pula, dan ini yang lebih penting, bahwa Negara ini, bukan Negara Arab! Bukan negara Syariat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa haula wa laa quwwata illaa biLlah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang mengatakan seperti itu adalah orang yang menganut agama selain Islam, saya kira wajar. Tetapi jika ucapan itu meluncur dari mulut seseorang yang notabene mengaku Islam, berarti dugaan saya benar, mereka itulah yang disebut ”Muslim Dzimmi”. Di satu sisi mereka bebas melakukan ibadah ritual sesuai tuntunan agamanya, tetapi di sisi lain mereka lebih tunduk dan loyal (wala’) kepada aturan selain Islam (thaghut), serta berusaha dengan berbagai dalih untuk mentolerir penerapan Syariat Agamanya. Oleh sebab Syariat itu harus menyesuaikan perkembangan zaman, katanya, maka seolah-olah hukum meninggalkan syariat menjadi ”makruh” belaka. Setara ketika mereka menghukumi sebatang rokok Surya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak mari membuka ’Ahkam Ahludz Dzimmah’-nya Ibnul Qayyim Rahimahullah, beliau membagi kriteria orang-orang Kafir sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kafir Dzimmy, yaitu kafir yang membayar jizyah (upeti) yang dipungut tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di Negeri kaum Muslimin. Kafir seperti ini tidak boleh dibunuh selama ia masih menaati peraturan-peraturan yang dikenakan kepada mereka. Mereka diperlakukan seperti halnya umat yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kafir Mu’ahad, yaitu kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati. Dan kafir seperti ini juga tidak boleh dibunuh sepanjang mereka menjalankan kesepakatan yang telah dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kafir Musta’man, yaitu orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin (Utusan, pedagang, orang yang berniat belajar keislaman, atau yang punya hajat kunjungan dan sebagainya). Kafir jenis ini juga tidak boleh dibunuh sepanjang masih berada dalam jaminan keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kafir Harby, yaitu kafir selain tiga jenis di atas. Kafir model inilah yang disyari’atkan untuk diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syari’at Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang saya tanya, dimana Anda bisa menemukan Kafir Dzimmi? Yah, tidaklah usah dipikirkan. Jawabannya adalah, ”sementara sudah tidak ada”. Yang ada justru ”Muslim Dzimmi”, yang tiap tahunnya dipalak untuk setor pajak, dan harus tunduk kepada aturan thaghut. Lebih jauh saya berangan-angan, jika seorang Muslim melakukan kesepakatan damai atas kebrutalan Amerika dan sekutunya, maka boleh jadi ia ”Muslim Mu’ahad”. Atau yang menimba ilmu di Amerika dan belajar mengacak-acak Agama Islam, mereka adalah ”Musta’man”. Dan yang getol bersuara Syari’ah, Khilafah, serta Jihad adalah ”Muslim Harbi”!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin tak akan setuju dengan penamaan seperti itu. Ya, Anda memang tidak harus menghiraukan itu. Saya hanya memberikan analogi ringan, meskipun terkesan serampangan, bahwa dunia ini memang serba terbalik! Bahasa jawanya, ’pating pecotot’!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu kita renungkan adalah Ayat ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”  [As-Suraa: 21].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah, Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.” [Al-A’raaf: 54]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa yang terjadi, syari’at negerinya gelandang nyentrik Edgar David malah justru diadopsi. Kita pun latah dengan ”kebijaksanaan” demokrasi yang saat ini digembor-gemborkan oleh Amerika. Mestinya, sebagai orang yang mengaku beriman, maka Ayat inilah yang harus dipegang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” [Al-Kahfi: 26]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, tetapi dasar manusia. Sudah dzalim, jahil pula.&lt;br /&gt;”Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” [Al-Ahzab: 72]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia itu suka nakal, brutal, dan menentang.&lt;br /&gt;”Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterimakasih kepada Tuhannnya.” [Al-’Adiyat: 100]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan waktu ada seseorang yang berkata kepada saya, ”Sampeyan itu mbok ya nggak usah terlalu sok Arab”, maka saya jawab saja, ”Ah, situ juga mbok ya jangan terlalu sok Amerika.” Sebenarnya tidak pernah ada istilah sok Arab dan sok Amerika, karena penilaian itu harusnya hanya berdasarkan kepada yang haq dan yang bathil, sesuai dengan aturan Allah yang Maha Adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, oleh karenannya mari melakukan penyadaran kembali. Sekurang-kurangnya dengan melihat perbandingan ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah Agama Islam:&lt;br /&gt;”Inil-hukmu illaa liLlaah (Tidaklah hukum itu kecuali milik Allah)” [QS. Yusuf: 40]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah Agama Demokrasi:&lt;br /&gt;”Kedaulatan di tangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.” [Pasal 1 Ayat 2, UUD 1945]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya sangat gamblang kata-kata itu untuk dimengerti. Namun lucunya, masih saja ada yang mendebat, dengan dalih demokrasi tidak bertentangan dengan Syari’at, karena demokrasi dianggapnya sebagai musyawarah (Asy-Syura). Orang seperti itu tidaklah perlu ditanggapi terlalu ngotot, karena dia pun tidak akan mau disama-samakan dengan monyet gara-gara sama-sama punya kaki, punya tangan, serta punya postur tubuh dan paras wajah yang hampir mirip dengan monyet. Sekalipun diperlengkap data bahwa dia sama-sama makan pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan kronis demokrasi sebenarnya ada pada kata ”kedaulatan” (ketundukan). Dimana ia harus dikembalikan kepada Rakyat, lalu kepada Voting. Suara Kyai tidak ada bedanya dengan suara ”penjaja daging”, suara Profesor tak berbeda bobot dengan suara gelandangan. Lalu dalam hal musyawarah, jika Islam hanya membolehkan sebatas perkara teknis, maka dalam demokrasi perkara yang sudah jelas halal dan haramnya bisa pula dimungkinkan untuk digugat dan dipermasalahkan. Itulah mengapa, demokrasi tidak bisa disamaratakan dengan Islam. Dan manusia tidak mungkin disejajarkan dengan monyet!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, entahlah sampai kapan kita akan terus diombang-ambingkan. Dipermainkan seperti halnya barang rongsokan. Tidak ada yang membela Agama kita kecuali apa yang kita lakukan untuk berorasi di jalanan, serta deretan tulisan kecaman. Dan bagi saudara kita yang dijarah tanahnya mungkin hanya bisa membalas dengan sedikit lemparan. Apa yang orang-orang harapkan dari demokrasi pun samasekali tak kunjung menampilkan kebijaksanaan. Akhirnya, tak perlu ada yang ditakutkan, kita buang saja mitos ”Muslim Dzimmi”, dan kita serukan satu kata lantang: Lawan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bish-Showab []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-8754828211143780673?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/8754828211143780673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/06/muslim-dzimmi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/8754828211143780673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/8754828211143780673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/06/muslim-dzimmi.html' title='MUSLIM DZIMMI'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/TEMtrS-sjyI/AAAAAAAAAQQ/Rvnb7yuo74g/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-2525942175455268093</id><published>2010-06-07T06:05:00.001-07:00</published><updated>2010-06-07T06:05:38.057-07:00</updated><title type='text'>FIR'AUNISASI WANITA</title><content type='html'>Jika pada cerita lalu wanita adalah makhluk termarginalkan, maka kisahnya kini berubah didewakan. Konon, dahulu para wanita setengah mati untuk mendapat pekerjaan, maka saat ini justru bejibun pria yang harus gigit jari terhadap wanita atas dominasi daftar lowongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup ekstrem melihat terobosan sistem Kapitalisme ini, ketika kemudian wanita menjadi sasaran perbudakan. Dengan modal suara sumbang atas nama kebebasan/ kemerdekaan (independent) dan keterbukaan (open minded), maka Liberalisme telah memainkan peran di atas legalitas Kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ranah ini, maka lahirlah konsep emansipasi wanita, kesetaraan gender, yang memupuskan kontrol sosial terhadap individu dan runtuhnya nilai-nilai kekeluargaan. Alhasil, konsep tersebut telah membiarkan wanita untuk menentukan nasibnya sendiri. Sebab, aturannya kini tak seorang pun yang berhak memaksa ataupun melarangnya untuk melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usut punya usut, gerakan yang berorientasi pada feminisme ini berasal dari Barat yang merupakan respons dan reaksi terhadap situasi kehidupan masyarakat di sana, terutama yang menyangkut nasib dan peran kaum wanita. Salah satu penyebabnya ialah pandangan ‘sebelah mata’ terhadap perempuan (misogyny) dan berbagi macam anggapan buruk (stereotype) serta citra negatif yang dilekatkan kepada mereka. Semua itu bahkan telah mengejawantahkan dalam tata-nilai masyarakat, kebudayaan, hukum, dan politik (Lihat Dr.Syamsuddin Arif, “Feminisme dan isu Gender,” dalam Orientalis dan Diabolisme Pemikiran: 103-104). Awalnya terkesan sebuah ‘kewajaran’, tetapi akhirnya menjadi kebablasan. Dan sebagian di Dunia Islam pun menjadi latah ikut-ikutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak wanita telah diadu maskulin dengan lelaki, begitulah ghalibnya. Ironis. Padahal kodrat atau fitrah seorang wanita tentu bukan untuk diciptakan sebagai rival seteru seorang pria, tetapi untuk menjadi kawan yang saling bekerjasama, saling melengkapi sesuai dengan sifat dan potensi masing-masing di antara mereka. Konsep yang bertolak dan berpangkal dari Kapitalisme tersebut nampak jelas telah menjungkir-balikkan logika, sebab kalau hanya untuk mengejar dan mengungguli sepak terjang pria, maka seorang wanita tak perlu bersusah payah beradu maskulin, karena mestinya cukuplah dengan adu feminin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat apa hasilnya ketika perbudakan itu digalakkan, seorang wanita yang mestinya menjalankan fungsi tugasnya dalam rumah tangga menjadi kewalahan dan kekurangan waktu untuk mendidik anak-anaknya karena berlebihan jam pekerjaan (Lihat Husain Matla, “Firaunisasi ibu-ibu” dalam Demokrasi Tersandera, Hal.73). Demikian satu contohnya. Akan tetapi, yang harus digaris bawahi disini, contoh tersebut bukan lantas dimaksud untuk mengembalikan wanita pada tatanan marginal. Lain daripada itu, sebagai usaha untuk memposisikan wanita pada wilayah proporsional, dengan kembali kepada aturan yang akan mengatur dengan keadilan, itulah syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ditawarkan oleh Islam dalam peranan wanita tiada lain dan tiada bukan adalah aturan yang memuliakan. Adalah salah kaprah jika timbul wacana, stigma, dan propaganda “pembatasan peranan wanita”, karena kebebasan wanita dalam Islam itu bebas, namun terikat. Maka kata yang lebih tepat yang mestinya disematkan bukanlah kata ‘membatasi’ apatah lagi ‘mengekang’, tetapi ‘mengatur’. Dan aturan itu berfungsi sebagai kontrol agar supaya tetap pada koridor yang telah ditetapkan oleh Allah yang Maha Mengatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda sekali dengan aturan kapitalisme yang tidak relevan. Disebut tidak relevan karena tidak sesuai dengan fitrah. Maka Syariat Islamlah satu-satunya jalan yang mampu membebaskan wanita dari jerat perbudakan, yang bertopeng dibalik istilah kebebasan, atas nama dan kepentingan: Kapitalisme.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-2525942175455268093?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/2525942175455268093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/06/firaunisasi-wanita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/2525942175455268093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/2525942175455268093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/06/firaunisasi-wanita.html' title='FIR&apos;AUNISASI WANITA'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-3839690699395003190</id><published>2010-05-28T23:02:00.000-07:00</published><updated>2010-05-29T00:06:26.458-07:00</updated><title type='text'>HERMENEUSIS</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Siapa saja yang mengatakan sesuatu mengenai Al-Qur’an tanpa landasan ilmu (bi-ghairi ‘ilm) atau dengan opininya sendiri (bir-ra’yihi), maka ia telah memesan tempat duduknya di neraka.”&lt;/span&gt; [HR. Imam at-Tirmidzi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA waktu lalu, seseorang telah mengirim pesan dan bertanya kepada saya, tentang Hermeneutika. Sejujurnya, saya merasa tidak berhak untuk menjawab, lebih-lebih seseorang itu meminta saya agar memberikan penjelasan yang dapat langsung diterima dan dipahami khalayak. Ah, memangnya siapa saya? Berat, bicara soal itu cukup berat. Namun di satu sisi, saya merasa tertantang untuk angkat bicara. Maka saya berusaha untuk menulis, yang tentunya sebatas kapasitas kemampuan saya. Namun harus tetap disadari, karena artikel ini sifatnya ”sekali tenggak”, maka yang saya tulis hanyalah sebagai pengantar untuk mengenal secara global, secara universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, untuk mengawali tulisan ini saya akan mencoba bertanya. Pernahkah terlintas angan-angan dalam benak Anda, tentang mungkinkah jika aturan permainan bulu tangkis dipakai untuk aturan sepak bola? Hm, saya tidak bercanda. Kali ini saya serius. Saya pribadi jika mendapat pertanyaan semacam itu maka saya akan menjawab: Mungkin! Bisa-bisa saja. Namun terkait dengan dampak dan hasil, apa jadinya jika permainan sepak bola mematok aturan kemenangan ala bulu tangkis? Bisa-bisa pemain kedua kesebelasan dengkulnya melocot gara-gara permainan sepak bola yang baru boleh berakhir ketika salah satu tim memperoleh skor 15, sebanyak tiga kali dari lima babak, dalam sekali permainan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, dengkul melocot akibat sepak bola ngawur dan ngelantur tersebut mungkin akan tiada banding jika yang melocot adalah sebuah pemahaman, yang tentunya akan berimbas pada Aqidah seseorang. Yakni ketika metodologi Bible –hermeneutika- dipakaikan (baca: dipaksakan) pula untuk menafsirkan Al-Qur’an. Saya katakan bisa-bisa saja hermeneutika diaplikasikan dalam Al-Qur’an, sangat mungkin. Namun permasalahannya adalah terkait dampak dan hasil. Karena resikonya, hermeneutika akan menaruh asumsi dan konsekuensi yang luar biasa hingga harus merubah nilai-nilai epistemologis jika memang diberlakukan terhadap Kitab Suci umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, hermeneutika artinya adalah menafsirkan, derivat dari kata ”Hermes” yang dalam mitologi Yunani dikatakan sebagai dewa yang diutus oleh Zeus (Tuhan) untuk menyampaikan pesan dan berita kepada manusia di muka bumi. Istilah hermeneutika pernah digunakan oleh mbah Aristoteles dalam kitabnya; Peri Hermeneias (Yunani), De Interpretationne (Latin), atau On The Interpretation (Inggris). Dalam kajiannya, Aristoteles hanya mengupas peran ungkapan dalam memahami pikiran; Kata benda, kata kerja, ungkapan, dan kalimat yang terkait dengan bahasa. Tidak sampai membahas tentang teks atau membuat kritik atas teks. (Lihat, Hartono Ahmad Jaiz, Ada Pemurtadan di IAIN, 165).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat laun, hermeneutika tidak lagi dipahami sekedar makna bahasa, tetapi makna bahasa sekaligus filosofis. Sekitar abad ke-18 Masehi, para teolog Yahudi dan Kristen menggunakan hermeneutika untuk memahami teks-teks dalam Bible. Hal ini menyusul terjadinya gerakan Reformasi yang dicetuskan oleh Martin Luther di Jerman. Para teolog Protestan menolak klaim otoritas Gereja Katolik dalam pemaknaan dan penjabaran kitab suci. Adalah Friedrich Schleiermacher yang pertama kali memperluas batas wilayah penafsiran metode hermeneutika. Bagi kaum Protestan, setiap orang berhak menafsirkan Bible, asalkan tahu bahasa dan konteks sejarahnya. Maka kemudian dibangunlah metode ilmiah hermeneutika ini. Tujuannya, untuk mencari kebenaran Bible dan ’membebaskan tafsir dari dogma’. Tentunya wajar, sebab para teolog tersebut telah berkerut kening mempertanyakan apakah Bible itu wahyu Tuhan ataukah produk manusia. Hal ini karena telah didapati Bible yang berbeda-beda pengarangnya alias beragam versi. Hingga tak lagi menjadi rahasia umum, bahwa Bible adalah benar-benar hasil olah tangan ”kreatif” manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari sini kita bisa melihat bahwa, pertama, aplikasi hermeneutika sejatinya adalah untuk menemukan arti interpretasi sebuah teks yang dibuat oleh manusia. Kenapa? Karena ketika manusia menuliskan sesuatu, maka ia pasti membawa tendensi atau kepentingan atas tulisannya itu. Hal ini senada dengan apa yang dilontarkan oleh Jurgen Habernas. Bagi tokoh terkemuka Frankfurt School ini, hermeneutika bertujuan untuk membongkar motif-motif tersembunyi dan kepentingan terselubung yang melatarbelakangi lahirnya sebuah teks. Sebagai kritik ideologi, hermeneutika harus bisa mengungkapkan manipulasi, dominasi, dan propaganda di balik bahasa sebuah teks, segala sesuatu yang mendistorsi pesan atau makna secara sistematis. (Lihat, Dr.Syamsuddin Arif, Orientalis &amp; Diabolisme Pemikiran, 181).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kedua, adanya hermeneutika adalah untuk menginterpretasi konteks suatu budaya atau sejarah. Dua hal ini persis seperti yang pernah dikatakan Dilthey, dimana pemikir asal Jerman tersebut telah menekankan gagasan ’historisitas teks’ dan pentingnya ’kesadaran sejarah’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HERMENEUTIKA DALAM STUDI AL-QUR’AN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini, para pentolan Liberal sangat gandrung mengampanyekan pemikiran hasil asongan mereka dari Barat, yakni perlunya penafsiran ulang alias reinterpretasi Al-Qur’an dan ajaran Islam. Karena menurut mereka, tafsir klasik yang telah ada selama ini setidaknya telah membelenggu ”kreatifitas”, membuai umat manusia dalam kerangkeng pemikiran lama. Mereka menuduh tafsir klasik telah ’ahistoris’ (mengabaikan historisitas teks) dan dicap tidak kritis (uncritical). Karenanya, ayat-ayat Al-Qur’an yang terkesan ”menindas” perempuan, atau yang terkesan bar-bar seperti ayat-ayat jihad/qital dan hukum pidana (hudud), semuanya perlu ditinjau dan ditafsirkan kembali agar sesuai dengan prinsip-prinsip HAM dan demokrasi, serta sesuai dengan peradaban manusia yang telah berganti-ganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, pada hakikatnya, justru merekalah yang terkesan asal terima dan asal telan. Mereka memang begitu kritis dengan Ulama-Ulama Islam, tapi di saat yang sama, mereka menelan mentah-mentah pemikiran Orientalis Barat dengan nyaris tanpa sikap kritis sedikitpun. Mereka latah terhadap orang semacam Abraham Geiger, seorang Rabbi sekaligus perdiri Yahudi Liberal di Jerman, yang termasuk menjadi pelopor awal dalam penggunaan ”biblical critism” ke dalam Al-Qur’an. (Lihat, Adnin Armas MA, Metodologi Bible Dalam Studi Al-Qur’an, 48).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermeneutika memang sesuai untuk sebuah tafsir Bible, karena kitab tersebut adalah hasil campur tangan manusia. Yang meskipun tak jarang membuat ”gerah” umat Kristen sendiri, namun setidaknya hermeneutika telah memberikan beberapa ”penyelamatan” atas teks Bible yang sudah berubah makna dari zamannya, sebagaimana yang telah dibahas oleh Hj.Irena Handono dalam Tabloid Media Umat. (Lihat, Media Umat 20/May/2010, Kajian Kristologi: Hermeneutika Menyelamatkan Bibel, Merusak Alquran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, akan berbeda ceritanya jika hermeneutika ini diberlakukan pula terhadap Al-Qur’an. Karena melihat latar belakang metodologi tersebut yang dibidani oleh peliknya permasalahan Bible, maka hermeneutika jelas tidak bebas-nilai. Ia mengandung sejumlah asumsi dan konsekuensi. Adalah Dr. Syamsuddin Arif, Cendekiawan jebolan Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) - IIUM Malaysia yang mengusai 8 bahasa itu, telah membagi 4 point permasalahan dalam hermeneutika, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hermeneutika menganggap semua teks adalah sama.&lt;br /&gt;Artinya, tidak ada bedanya antara teks yang asalnya dari Tuhan dan teks yang dibuat oleh manusia. Hal ini terlahir dari kekecewaan Yahudi-Kristen terhadap Bible. Kitab yang semula diyakini suci itu ternyata palsu belaka, bahkan jauh sebagian besar dari Perjanjian Lama (Torah) dan Perjanjian Baru (Gospel) adalah hasil campur tangan manusia ketimbang wahyu Allah kepada Musa dan Isa, a.s. Dan sebagai konsekuensi ketika hermeneutika diaplikasikan dalam Al-Qur’an, maka Kitab suci umat Islam ini akan tertolak anggapan sebagai Kalamullah. Teks Al-Qur’an akan tidak ada bedanya dengan tulisan pada lembaran Koran. Dengan demikian, mau tidak mau Al-Qur’an yang telah diyakini umat Islam sebagai wahyu yang diturunkan dari Allah baik dari segi ”lafdzan” dan ”ma’nan” harus digugurkan, berikut juga hadits yang menyebutkan bahwa satu huruf dalam Al-Qur’an merupakan 10 kebaikan, ikut juga menjadi korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh adalah seorang dedengkot Orientalis asal Mesir Nasr Hamid Abu Zayd, yang telah merubah anggapan Al-Qur’an sebagai muntaj tsaqofi (produk budaya), yang dengan keyakinannya itu, maka kemudian ia diputuskan murtad oleh Mahkamah al-Isti’naf Cairo. Tak kalah ekstremnya, tidak sedikit dari kalangan Orientalis Barat malah tanpa tedeng aling-aling mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah produk atau hasil pikiran Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hermeneutika menganggap setiap teks sebagai produk sejarah.&lt;br /&gt;Asumsi ini sebenarnya sangat tepat dalam kasus Bible, mengingat sejarahnya yang amat problematik. Hal ini tentu tidak berlaku di dalam Al-Qur’an, sebab nilai kebenarannya melintasi batas-batas ruang dan waktu (trans-historical) dan pesan-pesannya ditujukan kepada seluruh umat manusia (hudan lin-nas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hermeneutika menghendaki pelakunya untuk menganut relativisme epistemologis.&lt;br /&gt;Tidak ada tafsir yang mutlak benar, semuanya relatif. Benar menurut seseorang boleh jadi salah menurut anggapan orang lain. Dan kebenarannya bergantung pada konteks zaman dan tempat tertentu. Asumsi tersebut akan berakibat kacau jika diberlakukan dalam Al-Qur’an. Seperti yang telah diwanti-wanti oleh seorang Dosen Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) IIUM Malaysia, Dr. Ugi Suharto, dengan menyatakan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang sifatnya Qath’iy. Yang apabila hermeneutika digunakan kepada Al-Qur’an, maka ayat yang Muhkamat akan menjadi Mutasyabihat, yang Ushul manjadi Furu’, yang Tsawabit menjadi Mutaghoyyarot, yang Qath’iy menjadi Dhonniy, yang Ma’lum manjadi Majhul, yang Ijma’ menjadi Ikhtilaf, yang Mutawatir menjadi Ahad, dan yang Yaqin menjadi Dhonn bahkan Syakk. (Lihat, Islamia, vol 1, 2004, 52).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptis, selalu meragukan kebenaran dari mana pun datangnya.&lt;br /&gt;Masih dari Dr. Ugi Suharto, bahwa kesimpulan hermeneutika setidaknya telah mengesahkan adanya satu problem besar yang disebut ”Hermeneutic circle”, yaitu sejenis lingkaran setan pemahaman obyek-obyek sejarah yang mengatakan bahwa ”jika interpretasi itu sendiri juga berdasarkan interpretasi, maka lingkaran interpretasi itu tidak dapat dielakkan”. Akibatnya adalah, pemahaman seseorang terhadap teks-teks dan kasus-kasus sejarah tidak akan pernah sampai. Karena apabila seseorang dapat memahami konteksnya, maka konteks sejarah itu pun adalah interpretasi juga. Nah, jika hal ini diterapkan di dalam Al-Qur’an, maka selama-lamanya Al-Qur’an tidak akan pernah dapat dimengerti dan dipahami, oleh siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAWAN, ngomong-ngomong soal olah raga, terus terang saya gandrung dengan sepak bola. Saat ini saya cukup segan dengan keperkasaan Inter Milan, meski saya lebih suka dengan gaya permainan Liga Inggris. Jika Anda sama Gibol-nya dengan saya, bagaimana jika kita sama-sama terbang ke FIFA dan mengusulkan aturan sepak bola baru. Selama ini pelaku sepak bola terbuai dalam kerangkeng berpikir lama. Kita buat yang lebih segar, yang lebih spektakuler: Sepak Bola ala Badminton. Barangkali kedatangan kita akan disambut, dan usulan kita bisa segera diterapkan di kancah persepak-bolaan dunia, bahkan di Piala Dunia. Bagaimana? Saya tunggu respon baik Anda. Salam dari saya, LA Mania. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-3839690699395003190?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/3839690699395003190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/05/hermeneusis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/3839690699395003190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/3839690699395003190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/05/hermeneusis.html' title='HERMENEUSIS'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-366287681066091529</id><published>2010-05-24T23:33:00.000-07:00</published><updated>2010-05-24T23:34:43.632-07:00</updated><title type='text'>KORIDOR</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”&lt;/span&gt; [Pramoedya Ananta Toer]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita yang saya anggap menarik. Adalah kemarin ketika saya pulang kampung, ibu saya bergumam di depan saya, yang setelah saya translate (Anda jangan berpikiran kalau Ibu saya berbahasa inggris :D ), kira-kira bunyinya seperti ini, ”Saya kok bingung, orang seperti apa sih di zaman sekarang yang layak dikatakan baik. Kok serba susah. Yang ini katanya baik, tapi ada yang membenci. Yang itu mengaku baik, tapi juga ada yang memaki. Serba salah. Jadi ingin tahu, orang yang benar-benar baik itu seperti apa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum, tapi tak menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, terkadang pertanyaan sederhana yang terlontar dari orang yang hanya menenggak pendidikan SR (Sekolah Rakyat) semacam ibu saya ini sedikit membuat saya tergagap. Bagi saya, pertanyaan elegan yang membelesak keluar secara tiba-tiba itu terasa begitu menohok. Waktu itu saya hanya bisa berkata dalam hati: orang baik itu ya seperti saya. Hahaha, saya bergurau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan saya langsung melambung ke masa lalu, ketika saya masih sekolah di madrasah (SD) dulu. Ketika itu saya mengambil penghapus papan tulis, dan mengangkatnya di depan gerumulan teman sekelas saya, kemudian saya bertanya kepada mereka, ”Penghapus ini besar atau kecil?”. Sebagian besar menjawab: kecil!, namun satu dua orang menjawab besar. Kok berbeda? Yah, mudah saja, karena tidak ada parameter yang pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban yang sama mungkin juga berlaku pada pertanyaan Ibu di atas. Bahwa sebagian besar masyarakat kita ini, setidaknya telah kehilangan parameter. Jangankan untuk menilai baik dan buruk, terkadang halal dan haram saja seolah tersamar. Dunia yang sudah sepuh ini pun seolah-olah terlampau pikun untuk menunjuk siapa yang salah dan siapa yang benar. Alhasil, kebaikan dan keburukan tak jarang hanya dinilai berdasarkan dalih manfaat. Dan yang lebih menyedihkan, seperti di negeri tempat bersarangnya burung garuda ini, ketika ”kebenaran” juga bisa direbut dengan segebok budget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak mari kuajak jalan-jalan di kota tempat tinggal saya, Kota Surabaya. Di sana, terdapat sebuah gang yang secara khusus digunakan untuk transaksi jual beli daging. Namanya Gang Dolli, yang kemudian saya lebih suka menyebutnya Dolliwood. Tempat ini lantas menjadi ”halal” karena menjadi salah satu penghasil pajak terbesar bagi negara. Mau dibubarkan? Ngapain wong sudah ”halal”, kan juga banyak manfaatnya. Setidaknya haramnya bisa ”dinetralisir” dengan disumbangkan untuk membangun negara. Oh, untuk Masjid juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, Anda juga bisa melihat praktik hukum di negeri ini, yang dengannya bahkan kita sering dibuat pusing dengan istilah “keadilan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum habis perkara, ketika saat ini masyarakat ramai-ramai fasih menyetir dalil demokrasi, maka semua perkara menjadi serba fleksibel. Semuanya bisa ditawar, dimusyawarahkan, dan divoting! Porno boleh atau tidak? Tunggu dulu, ini negara hukum, kita musyawarahkan dulu, akan ada ”ahlinya” untuk menggodok UU Pornografi.] Majalah Play boy? Itu cuma estetika bung, Anda tidak faham karena bukan orang seni.] Ngebor? Yah, kan itu hak asasi manusia, mereka juga bekerja, mencari nafkah buat keluarga.] Aa Gym Poligami tuh! Nah, itu baru isu nasional, itu baru menyalahi adab!] Syari’ah? Hati-hati, itu mengancam ideologi Negara, merongrong NKRI!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jungkir balik! Serba tumpang tindih, serba campur aduk. Sebenarnya semua itu mudah saja ditengarai sebab musababnya. Pangkal masalahnya sebenarnya hanya pada Kapitalisme, yakni ketika parameter hukum dilihat dari asas manfaat, asas untung-rugi. Dusta kalau mereka bicara seni, bohong jika mereka bicara HAM. Bullshit! Karena kepentingan mereka hanya meraup keuntungan semata-mata. Hingga estetika buta terhadap etika. Dan semuanya akan selalu begitu, selama agama demokrasi masih saja diimani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, harus bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak usah bingung, tidak usah linglung. Pun perdebatan yang membabi buta juga tidak akan membawa kepada tuntasnya permasalahan. Malah justru membuat kita terperangkap dalam jebakan intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong soal asas, ngobrol soal koridor, kita sepakati dulu bahwa kita adalah Muslim (Ini bagi yang Muslim, insya Allah di lain kesempatan saya akan bicarakan yang non-Muslim). Ini satu-satunya syarat untuk menemukan parameter yang jelas, sebelum kemudian kita kembalikan permasalahan ini kepada Allah dan Rasul-Nya. Begitulah, seperti apa yang termaktub dalam QS.An-Nisaa’: 59, ”...Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkan baik-baik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman: ”Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” [QS.An-Nisaa’: 105].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT juga beriman: ”Tidak ada hukum kecuali hanya milik Allah.” [QS. Yusuf: 40]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Rasulullah SAW telah bersabda: ”Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu! Sehingga menjadikan saya sebagai (standart) akalnya, yang digunakan untuk berfikir.” (Lihat, Muhammad Hussayn, Mafahim, 91)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Kaidah Syara’ juga angkat bicara: ”Hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum Allah SWT.” (Lihat, Hafidz Abdurrahman, Islam Politik &amp; Spiritual, 68)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira dalil di atas sudah sangat gamblang. Sehingga tidak perlu lagi saya terangkan. Intinya, hukum perbuatan apapun harus bermuara kepada Syariat Islam. Maka dengan demikian, kita tidak boleh berkutik untuk berkhianat kepada hukum Allah, apapun alasannya, apapun motifnya. Karena konsekuensinya pun juga jelas: Kalau tidak Kafir, ya Dhalim. Dan kalau tidak keduanya, maka ia fasik [QS.Al-Maidah: 44; 45; 47].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa sih Allah ngatur-ngatur urusan dunia, bukannya masalah keakhiratan saja?” Pertanyaan setara murid Sekolah Dasar tersebut cukuplah dijawab dengan pelajaran sewaktu Sekolah Dasar pula: Bahwa bukankah kita meyakini bahwa Allah adalah yang Maha Adil? Lagi pula, kalau hukum itu diserahkan kepada manusia, maka bisa dipastikan akan dibuat sesuai dengan kepentingan nafsu manusia. Dan tentu hal itu akan menimbulkan kekacauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal-awal kuliah dulu saya pernah ditohok oleh seseorang, tentang permasalahan yang serupa. Dia berkata, ”Kalau tetap ngotot mau nerapin Syariat, ya jangan hidup di Indonesia!” katanya. Anehnya, yang mengatakan seperti itu adalah seseorang yang notabene beragama Islam. Sebuah paradoks. Karenanya, saya hanya menjawab, ”Kalau tidak mau Syariat, ya pergi saja dari bumi Allah.” Terkesan lugu, tapi memang begitu adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kembali kepada pertanyaan Ibu saya. Siapakah yang layak disebut sebagai yang terbaik? Maka Allah SWT memberikan parameter sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman, ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [QS.Ali Imran: 110].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas bukan? Bahwa kriteria yang terbaik itu, satu, mereka yang menyeru kepada yang ma’ruf, dengan kata lain aktif mengemban risalah dakwah. Dan kedua, adalah mereka yang mencegah kemungkaran. Dalam satu Hadits, mencegah kemungkaran dengan tangan, kalau tidak mampu maka dengan lisan, atau sekurang-kurangnya dengan hati. Itupun disebut sebagai selemah-lemahnya iman. Nah, lantas bagaimana bagi mereka yang apatis terhadap maksiat dan biasa berhujjah, ”Biarkan aja, suka-suka mereka, kan nggak merugikan kita...”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Rasulullah SAW belasan abad yang lalu sudah bicara, ”Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian harus benar-benar memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. ATAU KALAU TIDAK, niscaya Allah akan menurunkan adzab dari sisi-Nya atas kalian. Kemudian (jika) kalian berdoa, maka Allah tidak akan mengabulkan doa kalian!” [HR. Ahmad]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm, bagaimana pula dengan suatu negara yang membiarkan, atau justru memberikan fasilitas untuk bermaksiat? Maka inilah dalilnya, ”Tidaklah riba dan zina merajalela di suatu bangsa, melainkan bangsa itu telah menghalalkan dirinya untuk menerima adzab Allah ’Azza Wajalla.” [HR. Ahmad]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak celetukan yang saya dengar, ”Ah, kan yang bermaksiat itu mereka, bukan kita. Nah yang mesti kena adzab ya mereka...”. Hh, terus terang saya sudah kehabisan bicara. Hanya saja, apa iya adzab Allah itu akan menimpa [hanya] kepada orang yang dzalim saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, mari kita sama-sama beristighfar, kemudian membuka kembali Al-Qur’an kita. Kita resapi, kita renungkan..... ”Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya.” [QS. Al-Anfal: 25].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bish-Shawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-366287681066091529?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/366287681066091529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/05/koridor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/366287681066091529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/366287681066091529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/05/koridor.html' title='KORIDOR'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-3636436735896839888</id><published>2010-03-25T08:15:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T08:50:44.848-07:00</updated><title type='text'>Gema Pembebasan Tolak kedatangan Obama</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;suarasurabaya.net&lt;/span&gt;| Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan menolak kedatangan BARACK OBAMA Presiden Amerika Serikat ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilaporkan oleh Martha, reporter Suara Surabaya dalam acara MIMBAR DAMAI (Dialog Aktivis MAhasiswa Islam) IAIN Sunan Ampel (13/3/2010), yang turut mengundang empat pembicara dari HMI, KAMMI, BK-LDK, dan GEMA Pembebasan, Ahsan Hakim selaku pembicara dari GEMA Pembebasan mengatakan bahwa Obama merupakan kepala negara yang menurut syariat Islam disebut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kafir harbi fi'lan&lt;/span&gt;. karena secara nyata Amerika telah memerangi negeri-negeri muslim. Bahkan untuk saat ini telah membuat kebijakan untuk menambah 30.000 pasukan ke Afghanistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dalam konteks Indonesia, kita jangan sampai terjebak dua kali. Karena dalam sejarahnya, setiap ada utusan Amerika ke Indonesia selalu diikuti kepentingan, dan itu selalu merugikan Negara Indonesia. Sekarang saja sumber daya alam Indonesia sudah banyak dieksploitasi untuk kepentingan Amerika, di antaranya Freeport dan Exxon mobile. Maka kehadiran Obama di balik amburadulnya sistem ekonomi Amerika bukanlah sekedar tamu, tapi dipastikan akan lebih banyak mengeruk kekayaan sumber daya alam di Indonesia,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahsan Hakim kembali menagaskan, kalau pemerintah Indonesia sampai mengizinkan Obama datang, itu sama artinya dengan mengkhianati kehormatan negeri-negeri muslim yang telah dijajah oleh Amerika. Karena penolakan kita pada dasarnya untuk membela kehormatan saudara-saudara kita yang sedang dijajah oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[mar/ipg -dengan sedikit edit untuk meluruskan apa yg saya katakan]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-3636436735896839888?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/3636436735896839888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/03/gema-pembebasan-tolak-kedatangan-obama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/3636436735896839888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/3636436735896839888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/03/gema-pembebasan-tolak-kedatangan-obama.html' title='Gema Pembebasan Tolak kedatangan Obama'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-2335720522765703167</id><published>2010-03-24T18:33:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T18:37:18.085-07:00</updated><title type='text'>IDEOLOGI ADALAH SENJATA (Sebuah Realita Perjuangan)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/S6q-RBPYDNI/AAAAAAAAAO4/mA5wKM2_My8/s1600/12403_1233572559286_1228334153_30533794_5944555_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 107px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/S6q-RBPYDNI/AAAAAAAAAO4/mA5wKM2_My8/s320/12403_1233572559286_1228334153_30533794_5944555_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452379498485386450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Jika Anda katakan bahwa kami sekedar omong belaka, maka biar kami todong batok kepala Anda; Ideologi adalah senjata!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADA YANG sedang menguras energi tenggorokannya, untuk berorasi memanaskan mimbar. Untuk mengusir segala setan keraguan dan ketakutan berjuang di benak pendengarnya. Ada protes-protes, dalam derap aksi yang angkuh dihadapan kekuasaan yang dzalim. Di tengah derap aspal yang panas itu pula, ribuan gelak takbir menggema mengganggu telinga mereka yang tak terbiasa mendengar kalimat tauhid. Di lain kamar, ada yang sibuk meraut menajamkan penanya. Coba meng-agitasi para pembaca untuk bergerak setelah sekian lama menua dalam kejumudan. Atau memainkan pikiran dan kata, untuk bersilat dan memukul balik segala opini batil yang coba menghantam ideologinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah malam, saat para pemalas kelelahan akibat cinta yang membosankan. Beberapa pemuda justru merayapi dinding, nge-lem puluhan pamflet buram hitam putih. Hasil teriak-teriak singkat dalam jiwa, yang bakal mempropaganda, memberi energi, untuk kampus yang mati di keesokan harinya. Di lain pihak, satu forum yang sepi, sekelompok pemuda-pemudi mengadakan seminar. Menakar argumen, intelektualitas, dan memaksa ideologi lain untuk tunduk di hadapan kebenaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bahkan, kelompok-kelompok kajian kecil. Empat-lima orang berdikusi, berdebat, dan mengkaji tentang sebuah kesepakatan, “Bagaimana melahirkan satu kebangkitan yang menang, bukan kesemangatan yang gagal?” Lalu, lagi-lagi lahir kader baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggantikan, sebagian yang dibelahan bumi lain yang telah pergi dalam syahid. Atau yang keluar dalam kekecutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang terjadi. Ketika sebuah ideologi Islam telah merasuk dalam satu individu, dia akan meminta semua aliran jalan keluar yang disanggupi. Dia merasa butuh untuk disampaikan, disebarluaskan, tak bisa ditahan-tahan. Yang menahan, bakal mati karena gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga tak bisa dikaitkan, diajak campur aduk, apalagi kompromi. Mereka paham bung! Bahwa karakter ideologi itu saling bunuh. Prinsip akidahnya Islam, telah membungkan kaum musyrik penyembah berhala dan yang dimurkai kalangan Nasrani dan Yahudi. Demokrasi dengan kedaulatan rakyat dan suara mayoritasnya bakal hancur di atas kedaulatan suara syara’. Kapitalisme, si setan uang bakal mampus dihadapan ajaran Tauhid yang anti materialisme. Apalagi komunisme! Bisanya cuma menghargai manusia sebatas benda-benda mati yang bisa berdialektika dan berevolusi. Sekularisme juga tertolak, sebab Islam menuntut penyerahan diri yang kaffah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang tidak datang dari Allah dan Rosul-Nya, adalah sampah! Sejarah akan menjadi tong sampah besar yang menampung mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita meyakini sepenuhnya, bahwa kebangkitan Islam secara konkrit terwujud dengan tegaknya hukum syariah di bawah naungan khilafah. Dan jalan menuju itu tidak lain dengan penyadaran massal. Di mana umat, paham dan meyakini bahwa sistem ini adalah sebuah kewajiban. Satu-satunya jalan keluar dari segala keterpurukan. Pilihan untuk kembali memimpin dunia untuk memberi rahmat bagi sekalian alam. Hingga kita bisa berdiri tegak, dan menampik segala sistem kufur yang telah kelewat lama menginjak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka boleh berpikir, kita cuma sekedar bicara atau berwacana belaka. Tapi tahukah kawan, mereka itulah yang justru payah. Para tukang gerutu yang cuma menginginkan hasil; segala yang matang, mental instan! Mereka tak mau berjibaku, bersusah payah di jalan perjuangan yang sunyi ini. Jangan salah, omong, kata-kata, dan wacana kami adalah remah-remah pemikiran dari satu sumber, Islam. Dengan sabar dan lamat-lamat, yakin suatu hari nanti akan lengkap. Untuk membangun satu mozaik utuh, bernama kesadaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di titik itu, dunia akan terhentak, melihat umat yang selama ini rendah dan mereka jajah. Tiba-tiba membuang segala pemikiran dan perasaan kufur. Meraung melepas rantai sistem busuk. Dan dengan damai, mengganti sistem ini, dengan sistem Islam yang mereka yakini secara hakiki kebaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran yang mengantarkan kita kembali kepada kehidupan Islam dibawah naungan khilafah. Semuanya bakal terwujud, jika perjuangan ini sudah cukup untuk menyambut pertolongan Allah itu turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BRING BACK TO ISLAM AS IDEOLOGY...!!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[dimaling dari Ardhi Itu Aku]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-2335720522765703167?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/2335720522765703167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/03/ideologi-adalah-senjata-sebuah-realita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/2335720522765703167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/2335720522765703167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/03/ideologi-adalah-senjata-sebuah-realita.html' title='IDEOLOGI ADALAH SENJATA (Sebuah Realita Perjuangan)'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/S6q-RBPYDNI/AAAAAAAAAO4/mA5wKM2_My8/s72-c/12403_1233572559286_1228334153_30533794_5944555_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-5184781015307537031</id><published>2010-02-26T05:01:00.000-08:00</published><updated>2010-07-18T09:11:50.507-07:00</updated><title type='text'>KESOMBONGAN KOLEKTIF</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sombong itu,&lt;/span&gt; kata Rasulullah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;menolak kebenaran dan meremehkan manusia.&lt;/span&gt; [HR. Muslim].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang disodorkan peran antagonis dalam sinetron, maka kesan karakter yang akan ditangkap adalah kecongkakan. Sikap menghinakan, merendahkan, membabi buta, dan mungkin selalu diikuti dengan penampilan glamour yang menandakan bahwa dirinya pantas untuk diperhitungkan. Itu dalam sinetron, yang tentunya bagi para penonton sangat mudah untuk menilai, bahwa sikap peran itu: Sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak literatur menyebutkan, bahwa sombong adalah satu macam di antara penyakit hati. Oleh sebab tidak stabilnya kondisi hati. Walaupun ini merupakan masalah hati, tetapi penampakannya sangat mudah untuk diindentifikasi. Contohnya terlalu banyak, bisa Anda cari sendiri, yang dengannya akan dapat membuat Anda mengumpat ke arahnya, “Sombong!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang tidak perlu meraih gelar tinggi-tinggi untuk mengerti kata ini, namun agaknya, ada satu hal yang amat teramat disayangkan. Seiring dengan berkembangnya zaman, seakan-akan kata tersebut tengah mengalami reduksi. Atau jangan-jangan, definisi sombong dalam bahasa Indonesia tidak sama dengan pengertian istilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;takabur&lt;/span&gt; dalam Islam? Ternyata benar, bahwa di Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sombong hanya diartikan sebagai: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menghargai diri secara berlebihan; congkak; dan pongah.&lt;/span&gt; Dan setelah diteropong berdasarkan realita penerapannya, maka kita bisa menyimpulkan bahwasanya ‘sombong’ di lingkungan sekitar kita hanya mencakup perilaku “moralitas” belaka. Setingkat lebih sempit ketimbang apa yang dipaparkan oleh Rasulullah saw..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas ada satu hal yang terlupakan, yang secara tidak sadar konsekuensinya jauh lebih mengerikan. Kalau sombong seperti yang telah kita bahas di atas umumnya berobyek kepada sesama manusia, maka kriteria sombong yang kedua yang disampaikan oleh Rasulullah saw., yakni &lt;span style="font-style:italic;"&gt;menolak kebenaran&lt;/span&gt;, itu berarti pelakunya melakukan kesombongan kepada Allah swt..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu kenapa Iblis dipastikan dijebloskan ke neraka, itu akibat sikapnya yang menolak perintah kebenaran untuk bersujud kepada Adam. Dengan congkak ia membangga-banggakan diri merasa lebih terhormat dari pada tanah lempung. Ironisnya, akhir-akhir ini ada yang mencoba bertindak sebagai semacam pembela iblis dengan mengatakan hanya Allah tempat kita bersujud dan bukan kepada manusia, untuk kemudian terlahir klaim bahwa itulah alasan mengapa iblis menolak untuk bersujud kepada manusia. Maka, celetukan yang keluar bisa sampai kepada pernyataan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;iblis berhak menyandang gelar makhluk paling bertakwa&lt;/span&gt;. Andaikan perkara ini dibawa ke meja persidangan, dan Iblis menyetujui alasan pembelaan “pengacara”-nya itu, maka sebenarnya ia pun lupa, bahwa yang ia lakukan hanyalah mencari pembenaran, dan bukan kebenaran. Saya pastikan para “pengacara” Iblis tersebut kurang memahami makna dari “sujud kepada Adam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tetaplah iblis berada dalam vonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang perlu direnungkan disini adalah, semua orang tahu bahwa iblis bukanlah Atheis. Bahkan ia lebih dulu mengenal Allah daripada manusia. Tetapi karena sikap enggan menerima kebenaran, dan justru ia lebih memilih membangkang, maka tetaplah neraka tempat ia bakal dijebloskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah aturan semacam itu hanya diperuntukkan kepada Iblis? Anda pasti tahu ini pertanyaan retoris. Dan jawabannya memang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tidak&lt;/span&gt;. Setiap manusia yang membangkang dari aturan, berani menolak kebenaran, maka resikonya kurang lebih sama seperti yang diberlakukan terhadap iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, masalah besar yang melanda dunia ini, adalah satu hal yang belum sepenuhnya dipahami oleh mayoritas umat Muslim bahwa Agama yang dianutnya telah lengkap memberikan aturan di segala aspek kehidupan. Saya katakan belum sepenuhnya “dipahami” karena realitasnya hanya sekedar “dimengerti”. Orang yang mengerti belum tentu memahami, tetapi orang yang memahami sudah tentu mengerti, untuk kemudian melakoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an, Islam merupakan agama yang sempurna [QS.Al-Maidah: 5]. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sempurna,&lt;/span&gt; artinya tidak satupun aspek kehidupan yang luput dari aturan Islam. Dari mulai perihal sholat sampai perkara buang hajat, dari yang ritual sampai mu’amalah, dari hukum moral sampai hukum tatanan Negara. Maka sebagai  konsekuensi logisnya, Allah memerintahkan manusia untuk berislam secara keseluruhan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kaffah&lt;/span&gt;) [QS.Al-Baqarah: 208].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha, kalau menolak? Dengan alasan apapun, maka harap diingat, sekalipun manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna, tetapi mereka bukanlah “anak emas” yang akan membuat Allah membabi buta membela mereka apapun alasannya. Mereka yang mencoba menolak dan justru memutuskan perkara selain dengan hukum Allah, maka akan dikenai tiga kemungkinan sangsi: Kalau tidak Kafir, ya Dhalim. Dan kalau tidak keduanya, maka ia fasik [QS.Al-Maidah: 44; 45; 47]. Anda yang jika betah-betah saja berislam setengah-setengah dengan mengimani sebagian isi Al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lainnya, inipun dikecam oleh Allah swt. [QS.Al-Baqarah: 85]. Terlebih bagi yang kemudian mencari Agama lain, maka di akhirat ia termasuk orang yang merugi [QS.Ali Imran: 85].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ironi yang selanjutnya, betapa sombongnya Negara ini yang telah menolak hampir keseluruhan aturan dari Allah swt., Tuhan yang notabene Maha Mengatur. Mereka tidak hanya menolak, tetapi bahkan ada yang mencibir dengan mengatakan Syariat Islam tidak relevan untuk diberlakukan. Selanjutnya, mereka meracik sendiri syariat baru untuk menggantikan Syariat Islam. Itu artinya ia merasa lebih pinter dan lebih ‘sakti’ dari pada yang menciptakan dirinya sendiri. Bahkan sempat terdengar suara sumbang yang menuduh Syariat Islam, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;harus bertanggung jawab atas kemunduran umat manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum orang-orang sombong itu membuat aturan baru, Allah swt. sudah melontarkan satu pertanyaan retoris, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apakah hukum jahiliyah yang mereka ambil? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang beriman?”&lt;/span&gt; [QS.Al-Maidah: 50].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian Al-Qur’an juga mengingatkan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.” &lt;/span&gt;[QS.An-Nisaa’: 60].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada sebagian remaja seusia SMA yang berusaha menjelaskan, bukankah dasar Negara ini tidak bertentangan dengan Agama? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai adikku, seindah apapun kata-kata yang menjadi dasar Negara, selagi hukum yang berlaku adalah hukum thaghut maka tetap thaghut. Kemasan kaldu yang bermerek sapi selagi isinya babi maka tetaplah babi, tetap haram dikonsumsi. Nah, apakah Kamu, adikku, melihat hukum Negara ini sudah tepat akurat sesuai Syariat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terdiam. Kemudian datang seorang Dosen, dan berucap dengan nada sarkastis, “ini bukan Negara Agama!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Dosen yang terhormat, Negara ini memang bukan Negara Agama, namun jangan lupa bahwa Negara ini juga bukan Negara setan yang dengan semaunya bisa melegalkan produk hukum nafsu yang belepotan kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, kuberi tahu sekarang ini banyak orang sakit. Yang menyedihkan bahkan sebagian besar tidak merasa kalau dirinya sakit. Penyakit ini aneh, karena berjalan secara kolektif, tersistem dalam satu wadah besar. Penyakit itu bernama Kesombongan kolektif. Dan pelaku kesombongan terbesar kini adalah Negara, yang menolak sebagaian besar –untuk tidak mengatakan keseluruhan- kebenaran. Saya, Anda, saudara kita, semoga masih dikaruniai kesehatan. Inilah akhirnya. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-5184781015307537031?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/5184781015307537031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/02/kesombongan-kolektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/5184781015307537031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/5184781015307537031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/02/kesombongan-kolektif.html' title='KESOMBONGAN KOLEKTIF'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-612988180476766617</id><published>2010-02-26T04:51:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T05:00:31.916-08:00</updated><title type='text'>PICAK!</title><content type='html'>Anak kecil itu, ia masih kecil. Namun hatinya sudah bisa meronta ketika melihat kenyataan yang dianggapnya tak sesuai dengan kodrat yang lazim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, ia diantar ibunya pergi ke sekolah. Seperti halnya ibu manapun yang menyayangi anaknya, adalah wajar terdapat perasaan tak tega membiarkan anaknya yang masih seusia SD, menapaki jalan setapak menuju sekolah tua di seberang desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu, nanti diantarnya sampai di depan gerbang saja,” pinta anak kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memang tidak menampakkan gelagat apapun ketika mengucapkan kata-kata itu, karena ekspresi datar tersebut tak ubahnya seperti yang biasa-biasanya. Tapi siapa sangka, ia telah menyembunyikan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di depan gerbang sekolah, Sang Ibu itu, wanita tua yang ringkih itu, menatap wajah anaknya dan tersenyum teduh, “Nak, SPP belum dibayar dua bulan. Bulan ini juga belum ada uang untuk membayar. Aku mau menemui kepala sekolah untuk meminta keringanan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak usah repot-repot, Bu. Biar aku saja yang menyampaikan ke Pak Kepala sekolah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, lebih sopan kalau orang tua yang menyampaikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika anak kecil itu dipanggil teman-temannnya. Dan dengan segera anak itu menegaskan kata-katanya, “Ibu.. Ibu pulang saja, nanti saya akan menemui Kepala sekolah sendiri. Tidak apa-apa Bu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurang sopan Nak. Tidak sesuai adat,” Sang Ibu ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu!” Suara anak itu tiba-tiba membentak, “kau jangan mempermalukan aku di depan teman-temanku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ibu terbelalak, ia terperangah. Tenggorokannya tercekat tak mampu keluarkan kata-kata. Sang anak masih melanjutkan, “Lihatlah dirimu! Perempuan bermata satu!”&lt;br /&gt;“Nak!!” ibu membentak, namun masih tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa? Ibu masih belum sadar kalau tidak normal? Dasar perempuan picak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata itu, yang tersebut di akhir itu, seketika merobohkan sendi-sendi kaki sang Ibu. Tubuh kurusnya melorot menyentuh tanah jika tak tertahan oleh kedua lututnya. Wajahnya tertelungkup, tertutup oleh kedua tangan, namun air masih merembes keluar tak tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini anak itu sudah dewasa setelah 30 tahun minggat dari rumanya. Berumah megah, bermobil mewah. Cukup istimewa melihat kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sebenarnya tidak melupakan Ibunya. Buktinya, ketika kini ia mau menikah, ia tetap memberi tahu kepada Ibunya. Dan ketika pesta pernikahan itu digelar, sang Ibu dengan baju kumuhnya datang dengan seuntai senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu,” kata anak itu, “aku sudah dewasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukurlah anakku kau baik-baik saja, bahkan sekarang hidupmu lebih dari ukuran istimewa.” Sang Ibu masih tetap dengan ramahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba wanita cantik di samping sang anak itu bertanya, “Maaf, ibu... ibunya Mas Farhan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seketika ketika sang Ibu hendak menjawab, sang anak buru-buru menjawab, “Ooh, ibu ini yang merawatku waktu kecil. Dia masih ada hubungan keluarga denganku.”&lt;br /&gt;Wanita cantik itu mengangguk pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun sang anak itu tidak pernah melupakan sang ibu. Maka beberapa bulan setelah pernikahannya, ia berniat berkunjung ke rumah Ibunya di pelosok desa. Ia mungkin merasa berhutang budi, oleh karenanya ia berniat memberikan sumbangan, sebagai imbalan atas jasanya merawat dirinya waktu kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mungkin sekoper uang ini cukup untuk sisa hidupnya&lt;/span&gt;, katanya dalam hati. Dan ketika ia sampai di depan pintu rumahnya, maaf, rumah ibunya, ia tak mendengar suara apapun dari dalam. Ketika ia mengucap salam, malah terdengar jawaban berupa rengekan suara engsel pintu tua yang tertiup angin. Senyap, rumah tua itu kedap suara, seperti tak bernyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menanyakan kepada kakek tua yang buru-buru berangkat pergi ke sawah. Ia bertanya, pindah kemana orang yang punya rumah itu. Dan dijawabnya, “Nak, dia sudah meninggal dua minggu yang lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Anak tersengat dengan jawaban itu. Lalu ia masuk ke dalam rumah, melihat-lihat sekeliling yang penuh sawang, dan kemudian ia menemukan secarik kertas tergeletak di atas tikar ibunya. Ia membuka kertas itu, dan membaca tulisannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Anakku, Farhan.&lt;br /&gt;Assalamu’alaykum wr.wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, aku turut bahagia melihat dirimu juga bahagia. Maafkan ibumu jika dirimu merasa malu atas kekuranganku. Aku bersyukur kepada Allah, karena mampu membuatmu bahagia setelah sedikit pengorbananku menutupi kekuranganmu. Karena pada masa lalu, engkau terlahir dengan bermata satu. Aku tak tega jika membiarkan dirimu tumbuh dengan keadaan seperti itu, maka akhirnya aku putuskan untuk mendonorkan satu mataku, untuk kuberikan kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, anakku. Bahagialah dirimu bersama istrimu.&lt;br /&gt;Wassalamu’alaykum wr.wb.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang anak mengatupkan surat singkat itu. Dan tenggorokannya terasa dibelesakkan besi linggis hingga tertembus mengaduk-aduk usus. Ia baru merasa bahwa dirinya durhaka. Dia… ucap hatinya… lebih dari sekedar pengkhianat. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-612988180476766617?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/612988180476766617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/02/picak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/612988180476766617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/612988180476766617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/02/picak.html' title='PICAK!'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-1128330405385029368</id><published>2010-02-22T22:03:00.001-08:00</published><updated>2010-02-26T04:51:11.839-08:00</updated><title type='text'>MAKAR!</title><content type='html'>Selama ini, agama seringkali dituduh sebagai biangnya konflik, permusuhan, dan peperangan. Kalaulah hal itu benar, maka tuduhan itu akan bertabrakan dengan definisi agama itu sendiri. Karena pada dasarnya, jika dirunut asal-usulnya, agama merupakan gabungan antara dua kata dari bahasa san-sekerta. A bermakna “tidak”, sementara Gama berarti “kacau”. Maka agama artinya tidak kacau. Nah, mana yang bisa dipercaya? Di satu sisi semua agama punya slogan-slogan moral, namun di sisi lain peperangan antar agama demikian marak, meski menggunakan selubung politik dan tetek bengek lainnya. Adakah dusta di antara mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita terseret dan tergeret oleh opini di atas, alangkah lebih bijaksananya kalau kita mengetahui terlebih dulu siapa dan untuk apa tuduhan itu dilontarkan. Bahwa ujung-ujungnya, mesti akan digiring ke arah paham sekularisme. Mudah saja menengarai, karena sebenarnya dalih mereka cuma itu-itu saja. Menggeret fakta umum untuk kemudian dipermak dengan penafsiran pribadinya. Bahwa terjadinya peperangan itu memang banyak dinisbatkan dengan alasan agama, kemudian yang demikian itu dikarenakan sikap fanatik di antara para penganut agama meraka. Nah, dari asumsi tersebut, maka digelontorkanlah sikap ‘bijak’ berupa paham moderat, yang tak lain adalah sekularisme. Dianggapnya, dengan sikap ini, perdamaian, kerukunan, dan kasih sayang akan tercipta. Bernarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu dulu. Mohon jangan mudah melupakan kiprah dan sejarah pemikiran sekulerisme, berikut komunisme yang anti agama. Kenyataannya, dalam sejarah pemikiran tersebut tak luput dari fakta penyebab konflik di dunia. Masih mengendap di ingatan kita, sekularisme sejak kemunculannya dalam Revolusi Perancis telah menimbulkan banyak korban jiwa baik dari kalangan rakyat maupun penguasa (raja dan pendeta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi tegaknya ide demokrasi yang merupakan pemikiran penting dalam sekularisme, dalam sejarah penyebarannya, negara-negara Barat selalu penuh dengan darah. Atas dasar sekulerisme dan demokrasi, dan kepentingan ekonomi negara-negara Barat menjajah Dunia Ketiga pada masa kolonialisme. Atas dasar demokrasi dan HAM, Barat juga melakukan penyerangan kepada negara-negara yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka seperti Sudan, Afghanistan, Irak, Panama dan Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta singkat di atas setidaknya menuntut kita untuk berfikir ulang sebelum menentukan sikap. Karena yang terjadi pada ide sekularisme tersebut, bahkan kedustaannya pun sudah benar-benar gamblang. Maka pertanyaan balik yang mesti kita lontarkan adalah, siapakah yang sebenarnya berdusta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah opini akal-akalan, menyoroti konflik berlatar agama dengan mencatut fakta yang parsial. Contoh kasat mata adalah Islam. Dimana agama (Dien) yang dibawa Muhammad ini telah menjadi bulan-bulanan untuk dipojokkan. Label muslim radikal, fundamental, konservatif, bahkan teroris sudah mendarah daging di pandangan masyarakat luas. Mereka yang menuduh demikian hanya melihat “apa yang kaum muslimin ‘fundamental’ lakukan”, dan bukan disertai dengan “apa alasan mereka melakukan hal demikian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia di dunia ini memang telah banyak menjadi korban pembutaan massal tentang kebenaran fakta yang sesungguhnya. Manusia yang masih jernih pikirannya barangkali masih punya hasrat menganalisis dan mengklarifikasi terlebih dahulu kebenaran berita yang ada. Lebih dari itu, sebagai kaum Mulim, hendaknya tidak lantas menelan mentah-mentah berita yang ditaburkan kaum kafir yang nyata-nyata memusuhinya. Karena bagaimanapun, Allah swt. tentu tidak bergurau menurunkan ayat yang berbunyi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wa lan tardha…”&lt;/span&gt; (2: 120).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda Tanya kepada Muslim (Mujahidin) yang mendapat gelar “teroris” atau semacamnya di negeri-negeri konfik semacam Iraq, Afghanistan, atapun Palestina, saya bisa pastikan kurang lebih jawabannya, selain mencari ridha Allah, adalah untuk membela kaum muslimin yang negerinya telah dijajah kaum kafir. Adalah manusiawi, mereka melawan ketika Negara tempat tinggalnya di jarah, geram melihat bayi-bayi tanpa lengan dan kepala, gregetan mendengar wanitanya dicabuli alias diperkosa, gondok tempat ibadahnya diratakan dengan tanah, gemas kitab sucinya ditempatkan di bak kotoran sampah manusia. Manusia manapun yang tidak “mengumpat” atas tragedi-tragedi semacam itu, bisa dipastikan ia buta! Dan orang yang buta hatinya tidak pantas untuk urun rembug suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah yang kaum Mulim lakukan di atas salah? Pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Karena benang merahnya sudah diurai, dan yang menjadi gembong penyebab kerusuhan di dunia ini adalah… Ah, Anda sudah tahu itu. Ya, Negara yang menggembor-gemborkan demokrasi dan sekularisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu artinya, kesimpulannya, Sekularisme is bullshit!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-1128330405385029368?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/1128330405385029368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/02/makar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/1128330405385029368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/1128330405385029368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/02/makar.html' title='MAKAR!'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-4256156714542071861</id><published>2010-02-10T22:09:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T05:15:14.621-08:00</updated><title type='text'>Facebook haram? (Memahami konsep Hadharah-Madaniyah lebih mudah)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I. PROLOG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seseorang itu telah salah faham kepada saya beberapa waktu lalu. Yakni ketika dia menjumpai saya menggunakan produk Sains Teknologi yang saat ini sedang digandrungi hampir seluruh pengguna internet; Facebook, sementara saya dipandangnya sebagai Aktivis Islam yang mungkin dianggapnya Anti Barat secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu pandangan masyarakat umum pun masih terkadang kabur, bahkan sempat banyak yang terperangah ketika secara tiba-tiba Booming fatwa “Facebook Haram”. Maka kemudian terjadilah banyak perdebatan. Yang sudah terlanjur gila dengan Facebook melayangkan Counter attack akibat hobinya merasa dicekal, sementara yang masih dalam tahap belajar keislaman pun tak sedikit yang berubah menjadi bimbang, kelimpungan, mempertanyakan dan mencari perbandingan argumentasi untuk memantapkan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum itu, ketika Belanda masih kerasan menjabat sebagai “Juragan” kerja rodi di tanah air, betapa ramai perbincangan para Kyai dan masyarakat umum yang serta merta menyebut Dasi sebagai barang Najis. Menunjuk hidung orang yang memakai dasi dengan sebutan “menyerupai orang kafir”, untuk kemudian disimpulkan sebagai bagian dari orang Kafir. Khusus pendapat ini mungkin masih bolehlah kita sikapi wajar-wajar saja, lumrah-lumrah saja karena kondisi psikologis masyarakat Indonesia pada waktu itu memang sudah “eneg” melihat tingkah polah Belanda (kafir) yang semakin hari semakin buas saja. Disamping itu juga ada Hadits yang menyatakan bahwa, “Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka termasuk dalam golongan mereka”. Namun sayangnya, Hadits ini kemudian ditakwil dan disalah pahami untuk menghukumi Haram selembar dasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya juga teringat dengan perdebatan sengit saya di E-Mail dengan salah seorang Dosen Filsafat tujuh semester silam. Dosen yang menghormati aktivitas penodaan nama Allah dengan menginjak-injak lafadz Jalalah ini, mendebat argumen saya mengenai kehalalan produk “madaniyah” dan haramnya produk “hadharah” Barat (kafir). Beliau menuliskan dalam E-Mail yang dikirimkannya kepada saya, “Adalah pemahaman yang konyol, hasil pemikiran berupa ide khas seorang kafir dianggap haram diadopsi seorang muslim, namun ketika terdapat produk teknologi (duniawi) yang tercipta dari orang kafir pula, yang dengannya Anda sebut dengan istilah “madaniyah” dengan enaknya Anda aku halal. Padahal antara pemikiran (ide khas) dan produk duniawi tersebut keluar dari batok kepala yang sama. Sama-sama dari orang kafir. Kalau pemikiran atau ide kafir diharamkan untuk dianut, lalu kenapa bisa dikhususkan halal produk duniawinya yang tercipta dari batok kepala seorang kafir?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gleg! Saya menelan ludah. Satu kata muncul: “logis”, pikir saya waktu itu. Namun kemudian saya cepat-cepat tersadarkan, dibalik argumentasinya yang terangkai “logis” ini, ternyata Dosen saya itu sebenarnya menilai perkara secara membabi buta. Secara serampangan, tak mampu menilai secara proporsional. Beliau mengira semua yang putih adalah lemak, dan semua yang hitam adalah arang. Maka dari itu dalam jawaban saya dulu, saya selipkan satu paragraf untuk menutup jawaban saya, “Itulah hasil pemikiran akibat terlalu banyak mengkonsumsi Filsafat (baca: Pil Sahwat), yakni Pil yang menyebabkan seseorang mandul dalam kebenaran islam. Inilah yang membedakan saya dan Anda, kalau saya merujuk pada teladan Rasulullah SAW, maka Anda membebek kepada Pak Dhe Aristoteles, Mbah Sokrates, Tales, Descartes, dan siapa lagi yang semacamnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II. PEMBAHASAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya saya meminta maaf jika tulisan saya ini terlalu polos dan sederhana. Memang sengaja saya tidak ingin berbicara ruwet dan njlimet dengan tujuan agar tulisan ini bisa dipahami dengan mudah. Maka dengan menggunakan bahasa saya, saya akan menjelaskan sesuai kepasitas keilmuan saya. Untuk selebihnya, pengembangannya, atau penjelasan lebih lengkapnya silakan baca di referensi lain yang beberapa diantaranya akan saya sebutkan di akhir tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadharah, secara istilah diartikan sebagai sekumpulan pemahaman, persepsi, atau Mafahim tentang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madaniyah, adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum mudeng? Sabar, akan saya jelaskan satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. HADHARAH.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dipungkiri, setiap tingkah laku atau perbuatan manusia, tentu tidak akan lepas dari pengaruh pemahaman yang ada dalam pikirannya. Tidak akan lepas dari persepsi “aturan” yang dipahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sederhana: Anda mencintai seseorang yang bernama A, sedangkan di saat yang sama Anda membenci orang B. Maka persepsi Anda terhadap orang yang Anda cintai (A) akan membentuk perilaku Anda terhadap orang tersebut. Sebaliknya, perilaku Anda tadi akan berlawanan dengan orang yang Anda benci (B) karena Anda mempunyai persepsi kebencian terhadapnya. Ingat, persepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita singkap lebih jelas tentang Hadharah. Sederhananya, Hadharah dibagi menjadi dua macam: Hadharah Islam, dan Hadharah Kufur. Dua Hadharah ini bertentangan satu sama lain. Kita bisa merasakan perbedaannya. Definisi kebahagiaan menurut islam dengan kebahagiaan menurut pemahaman Barat (kufur) jelas berbeda. Begitu pun dengan definisi kesuksesan yang hakiki, kekayaan yang hakiki, dan sebagainya. Terlebih juga aturan yang berlaku diantara keduanya. Sekali lagi, persepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadharah islam berdiri di atas dasar Iman kepada Allah SWT, dan bahwasanya Dia telah menjadikan alam semesta, manusia, dan kehidupan ini suatu aturan yang masing-masing harus mematuhinya. Dengan kata lain, Hadharah Islam ini berdiri di atas dasar Aqidah Islam yang membawa konsekuensi bagi kita untuk tunduk dan taat terhadap suluruh aturan atau Syariat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dengan persepsi pemahaman Hadharah islam ini, maka segala yang kita lakukan haruslah merujuk pada aturan yang diberikan oleh Allah SWT, itulah Syariat Islam. Mulai dari ibadah Mahdhoh (ritualitas) seperti Sholat, Puasa, Haji, dan sebagainya, hingga Ibadah Ghairu Mahdhoh dalam hal mu’amalah pergaulan laki-laki perempuan, cara berpakaian, sampai dalam hal hukum pemerintahan. Karena jelas di dalam Islam telah diajarkan pemahaman bahwa dalam hal apapun, sekecil apapun, seluruhnya tak luput dari jangkauan Aturan Islam. Dengan demikian, Hadharah Islam ini berlandaskan pada asas yang memperhatikan ruh (yaitu hubungan  manusia dengan Pencipta), atau melandaskan semua perbuatan pada motivasi spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagaimana dengan Hadharah Kufur? Hadharah ini dibangun berdasarkan pemisahan antara Agama dan kehidupan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sekularisme&lt;/span&gt;), disamping ada juga yang sama sekali meniadakan Agama (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Atheisme&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sekularisme&lt;/span&gt;, pemikiran “impor” ini yang sekarang marak menjangkiti banyak manusia di muka bumi, tak terkecuali orang-orang muslim sendiri. Oleh karena itu jangan heran ketika dalam Majlis Dzikir banyak orang sampai nangis-nangis, tapi ketika kembali kepada kehidupan umum kemenong-menong urusan Agama menjadi nomor 17 setelah nomor 16-nya puyer! Saat berada di barisan Shaf Sholat berjejer laki-laki sendiri dan perempuan sendiri, tapi di taman kota, di kampus, dan di tempat-tempat lainnya tanpa tedeng aling-aling haha-hihi Khalwat (berdua-duaan) dan Ikhtilat (campur baur laki-perempuan) secara berjamaah. Di saat Sholat seluruh badan tidak tampak kecuali wilayah tertentu, tapi keluar Masjid berevolusi berpakaian ala kesebelasan sundel bolong alias you can see. Di saat berdiri untuk Khotbah Jumat menyerukan harus taat seluruhnya kepada Syariat, tapi di saat Upacara bendera berseru kita harus patuh kepada UUD 45 karena kita bukan Negara Syariat! Hah? Bagaimana ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kita mengenal ideologi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kapitalisme&lt;/span&gt;, yang menjadi Raja dari Permaisuri Sekulerisme. Ideologi ini terkesan kurang waras karena wataknya yang serakah. Astaghfirullah... maaf, kok terlalu kasar jika saya katakan kurang waras, lebih lembutnya mungkin seperti anak kecil yang masih ingusan. Ya maksudnya dia juga serakah karena kalau diberikan mainan, tanpa mau berbagi dengan teman sepermainannya. Saudara penulis, tidakkah itu masih terlalu kasar? Maaf-maaf saja, kali ini saya benar-benar kehabisan stock istilah yang lebih feminin untuk sebuah Ideologi Kapitalisme. Betapa tidak, Ideologi ini yang dipikirkan hanya bagaimana caranya agar mereka kaya raya. Mereka hanya berpikir bagaimana caranya meraih manfaat duniawi. Persetan dengan aturan, bullshit apa itu Syariat Islam, selagi korupsi itu menjanjikan, selagi riba itu menguntungkan, selagi menipu itu memuaskan, ya sudah, sikat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pluralisme.&lt;/span&gt; Paham menyamakan semua golongan dan Agama. Pada mulanya niatnya memang terkesan “baik”, untuk tujuan kerukunan golongan dan Agama. Tapi di sisi lain paham ini tampak terlalu “memaksa” dengan logika yang gegabah lagi salah kaprah. Akibatnya, serta merta dari mulai Agama Islam, Kristen, Budha, Konghucu, Sinto, dan sebagainya, kesimpulannya semua adalah sama! Sama-sama jalan menuju kebenaran, sama-sama jalan menuju Tuhan, dan sama-sama akan memperoleh keselamatan. Semuanya benar, tidak ada yang salah, katanya. Kita sebagai seorang Muslim yang telah bersyahadat pun diharuskan mengakui Agama yang lain juga benar. Padahal kalau hanya untuk tujuan kerukunan tak perlu dengan logika yang jungkir balik begitu. Katakanlah orang Kristen mengaku benar dengan Agamanya dan menyalahkan Agama yang lainnya, silakan. Biarlah orang Kristen berkeyakinan bahwa mereka akan masuk Surganya Kristen dan kita kaum Muslim akan masuk Nerakanya Kristen, No problem. Tapi sebaliknya biarlah kita kaum Muslim berkeyakinan akan masuk Surganya Islam, sementara orang-orang Kristen akan masuk Nerakanya Islam. Beres!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Liberalisme&lt;/span&gt;. Kalau boleh saya umpamakan, liberalisme ini seperti anak ingusan yang dandanannya awut-awutan, suka mangkal di perempatan lampu stop-an, jarang mau disuruh pulang, malah ikut-ikutan anggota Punk jalanan. Bebas, ngawur tur ngelantur. Liberalisme dalam Negara bisa kita lihat contohnya berupa Privatisasi Sumber Daya Alam (SDA), menjual kekayaan alam secara ugal-ugalan. Sedangkan Liberalisme dalam Agama, tidak usah jauh-jauh, IAIN! (Yang tidak terima silakan protes ke saya.). Satu contoh seorang pengusung Liberalisme Agama adalah Nasr Hamid Abu Zayd, seorang intelektual asal Mesir yang divonis murtad oleh Mahkamah al-sti’naf Cairo akibat pemikirannya yang terlempar jauh dari Islam. Padahal sebelumnya ia mengajukan Promosi untuk menjadi Guru Besar di Fakultas Sastra Universitas Cairo, namun promosinya ditolak karena karya-karyanya dinilai kurang bermutu bahkan menyimpang karena isinya meremehkan Al-Quran dengan mengatakannya sebagai produk budaya (muntaj tsaqofi), mengingkari otentisitas Sunnah Rasulullah SAW, dan menghina Ulama Salaf. Maka atas dasar penilaian itu Abu Zayd dinyatakan tidak layak menjadi Profesor. Nah, karena vonis murtad yang disematkan kepadanya membuat Mesir mendadak heboh karena berita ini cepat tersebar luas, akhirnya Abu Zayd terbirit-birit ke Madrid-Spanyol meminta perlindungan sebelum akhirnya menetap di Leiden, Belanda.  Menariknya, kalau di Mesir ia dikafirkan, di Belanda justru ia mendapat sambutan hangat dan diperlakukan istimewa. Ia langsung direkrut sebagai Dosen di negara tempat kelahiran Kiper nyentrik Van Der Sar, tepatnya di Rijksuniversiteit Leiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIPILIS: Sekularisme, Pluralisme, dan liberalisme, telah selesai kita bahas singkat. Lalu apa lagi? Masih banyak! Sosialisme (Atheis), permisifme, hedonisme, paham Gender dan sebagainya. Cukup hanya itu yang saya sebutkan sebagai contoh, saya pilih yang seringkali terdengar saja. Toh di sini kita tidak usah banyak-banyak contoh, yang penting kan Anda sudah faham definisi dan pembagian Hadharah ini. Intinya, yang halal dan yang wajib kita adopsi dan kita yakini adalah Hadharah yang bermuara pada Islam, sedangkan Hadharah yang berasal dari Barat (kufur), kamu punya kata apa untuk dia? Haram? Najis? Jijik? Ah, itu terserah Anda. Bagi saya cukup haram, sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. MADANIYAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Telah kita pahami sebelumnya, bahwa madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam aspek kehidupan. Nah, langsung saja sekarang menginjak pada pembagiannya, pembagian Madaniyah: Madaniyah Amm (umum), dan Madaniyah Khas (khusus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Madaniyah Amm,&lt;/span&gt; adalah bentuk fisik suatu benda yang tidak ada unsur Hadharah tertentu. Seperti hasil Sains dan Teknologi, produk makanan-minuman, atau apalah yang semisal dengannya. Selagi tidak ada unsur Hadharah tertentu (Kufur) maka boleh kita gunakan dan kita konsumsi. Seperti Komputer, Facebook, Pizza, bahkan Coca-cola. Coca-cola? Ya, kalaupun ada perdebatan tentang halal dan haramnya diantara Aktivis Islam yang ada, mereka semuanya sebenarnya tidak sampai mengharamkan secara dzahir minumannya, tetapi sekedar bermaksud memboikot karena tersebar kabar bahwa Perusahaan Coca-cola (dan produk-produk Yahudi yang lainnya) telah menyumbang tentara Yahudi untuk membantai kaum muslimin. Namun demikian, Coca-cola sejatinya adalah produk Madaniyah yang boleh dikonsumsi siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa halal? Itulah aturan dalam Islam. Rasulullah SAW memberikan kelonggaran untuk memanfaatkan produk duniawi bukan semata-mata karena Beliau SAW merasa iri, dengki, atau tendensi terhadap orang-orang kafir yang memanfaatkan produk duniawi, bukan. Telah kita kitahui bersama bahwa Rasulullah SAW dalam setiap gerak-geriknya, tutur katanya, semuanya atas petunjuk Allah SWT. Lagipula secara fitrah manusia memang diciptakan untuk memanfaatkan apa-apa yang telah diciptakan di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang telah diucapkan oleh Rasulullah SAW? Belasan abad yang lalu Beliau sudah menyatakan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Antum a’lamu bi umurid-Dun-yakum (Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian)”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Kaidah Syara’ juga membahas tentang hal itu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Al-ashlu fil asy-yaa’ al-ibaahah, maalam yarid Daliilut-Tah-rim. (Hukum asal suatu benda adalah mubah, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya)”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah sudah. Lalu, bagaimana urusannya dengan fatwa “Facebook Haram”? Harap maklum, tidak jauh seperti kasus dasi di zaman Belanda yang telah saya jelaskan di awal, orang yang berpendapat Facebook haram ini, mungkin kebetulan melihat fenomena Facebook yang banyak digunakan untuk maksiat. Digunakan untuk gendaan (pacaran), atau pertemanan bermasalah yang lainnya. Untuk hal ini saya pun sepakat dan sependapat, bahwa suatu hal -meski halal- jika digunakan untuk tujuan yang haram (maksiat) maka hukumnya menjadi haram pula. Mari kutunjukkan kepadamu satu Kaidah Syara’, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Al-Wasiilatu ilal-haraami, haraamun. (Perantara suatu keharaman hukumnya adalah haram pula).”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, kalau ada yang menyatakan bahwa Facebook haram, internet haram, parabola haram, itu benar. Benar jika sesuatu itu digunakan sebagai “perlengkapan” untuk mendukung seseorang melakukan kemaksiatan. Lha kalau tidak digunakan untuk bermaksiat tapi justru untuk keperluan dakwah, maka monggo-monggo saja, tak ada masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Madaniyah Khas,&lt;/span&gt; adalah bentuk fisik suatu benda yang di dalamnya terdapat unsur Hadharah tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi satu peristiwa menarik yang terjadi di kampus IAIN, pernah suatu ketika kawan saya seorang Mahasiswa Fak.Ushuluddin dengan bangganya memamerkan kalungnya yang bergandul salib. Ketika ditanya kenapa memakai lambang salib, maka dengan enteng dia menjawab, “ini kan Cuma benda biasa, yang penting kan saya masih Islam.”&lt;br /&gt;Saya teringat juga ketika saya masih SMP, waktu itu ada seorang teman lain sekolah yang selesai melakukan Tour ke Borobudur. Pulang-pulang, dia kemudian menunjukkan kepada saya oleh-oleh dari Borobudur berupa Patung Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari dua contoh benda diatas, itulah yang disebut dengan Madaniyah Khas. yakni suatu benda yang mempunyai nilai Hadharah tertentu (Kufur). Kalau benda yang pertama terdapat nilai Hadharah Kristen, maka benda yang kedua membawa makna Hadharah Budha. Maka untuk memakai benda tersebut bagi seorang muslim tidak diperbolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana jika seseorang mengadopsi Hadharah Kufur untuk kemudian dipoles dengan Islam? Seperti halnya mengadopsi Ritual Hindu yang oleh orang islam diganti bacaan-bacaannya dengan bacaan yang Islami. Dalam hal ini sebenarnya masuk dalam Bab Bid’ah, namun saya akan memfokuskan pada pembahasan Hadharahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkanlah Hadits berikut, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Man tasyabbaha bi Qaumin fahuwa minhum (Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka termasuk dalam golongan mereka)” &lt;/span&gt;(Sunan Abi Dawud no.4031).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual Hindu adalah menjadi Hadharah Hindu. Jika Kaum Muslim menirukan Hadharah Hindu tersebut maka secara otomatis hukumnya adalah Haram. Bahkan jika kita merujuk pada Hadits diatas, Rasulullah SAW menyebut orang yang menyerupai perilaku suatu kaum maka termasuk dalam golongan kaum tersebut. Na’udzubillahi min dzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III. EPILOG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bukalah mata lebar-lebar, maka Anda akan melihat realitas kehidupan pada saat ini terdapat tiga tipe manusia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Manusia yang ekstrem menolak seluruhnya sesuatu yang berasal dari Barat. Tipe pertama ini dapat kita jumpai pada diri orang yang “nyufi” yang hidupnya hanya berkutik pada hal ritual belaka, di saat yang sama ia mengharamkan untuk mengikuti perkembangan zaman. Alhasil, mereka akan paham “dalil” tetapi kuper dan Gaptek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Manusia yang ekstrem menerima seluruhnya sesuatu yang berasal dari Barat. Tipe kedua ini adalah orang yang keblinger, terlalu asik hingga tidak sadar kalau dirinya nyasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Manusia yang mampu memilah dan memilih sesuatu dari Barat, mana yang boleh diambil dan mana yang harus ditolak. Nah, tipe ketiga ini orang yang bijak dan proporsional, yang sesuai dengan pemahaman Islam. Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Untuk memudahkan dalam memahami lihatlah tabel berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/S3OmlZeBjgI/AAAAAAAAAN4/Io2coabxRHI/s1600-h/Picture1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 48px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/S3OmlZeBjgI/AAAAAAAAAN4/Io2coabxRHI/s400/Picture1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436872336588508674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;IV. DAFTAR RUJUKAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. An-Nabhani, Taqiyuddin. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peraturan Hidup Dalam Islam (an-Nidham al-Islam). &lt;/span&gt;2003. Pustaka Thariqul Izzah, Bogor.&lt;br /&gt;2. Abdullah, Muhammad Husain. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam.&lt;/span&gt; 2002. Pustaka Thariqul Izzah, Bogor.&lt;br /&gt;3. Abdurrahman, Hafidz. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Diskursus Islam Politik &amp;amp; Spiritual.&lt;/span&gt; 2007. Al-Azhar Press, Bogor.&lt;br /&gt;4. Arif, Dr.Syamsuddin. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orientalis &amp;amp; Diabolisme Pemikiran&lt;/span&gt;. 2008. Gema Insani Press, Jakarta.&lt;br /&gt;5. Ali, H.Mahrus. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan, Istighosahan, Dan Ziarah Para Wali. &lt;/span&gt;2007. Laa Tasyuk! Press, Surabaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-4256156714542071861?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/4256156714542071861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/02/siapa-bilang-facebook-tidak-haram.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/4256156714542071861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/4256156714542071861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2010/02/siapa-bilang-facebook-tidak-haram.html' title='Facebook haram? (Memahami konsep Hadharah-Madaniyah lebih mudah)'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/S3OmlZeBjgI/AAAAAAAAAN4/Io2coabxRHI/s72-c/Picture1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-2778827399738532241</id><published>2009-11-10T20:18:00.000-08:00</published><updated>2009-11-21T04:19:57.548-08:00</updated><title type='text'>AURA AURAT</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aurat, Mana tahan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba tebak 4 kriteria berikut: Putih, mulus, seksi, telanjang bulat. Apa yang ada dalam pikiran kamu? Hayoo…jangan ngeres! Jawabannya adalah: Sapi. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat muslim, melihat mode yang ngetrend di zaman core 2 duo ini memang benar-benar edan. Gimana tidak, coba aja perhatikan kehidupan di sekeliling kita, remaja saat ini pada gandrung dengan pakaian-pakaian yang katanya serba praktis dan ekonomis. Itu tuh, kostum kesebelasan sundel bolong alias you can see. Hmm, baru-baru ini juga lagi Booming celana pensil (Walah, bisa-bisa pabrik pensil gulung tikar nih!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah faktanya sodara-sodara, kehidupan remaja sekarang telah menunjukkan bahwa memang demikian cepat penyebaran pakaian “modern” ini. Contoh kecilnya ketika saya pergi ke Mall-Mall. Wuih, rasa-rasanya seperti memasuki dunia lain. Dunia Aurat! Hampir keseluruhan ceweknya musti pake pakaian yang membuat saya ingin lari (lari apa nih maksudnya? Lari mendekati atau? Yee.. nggak lah yaw!). Pikir-pikir, mereka kok suka nantangin kaum Adam dengan pakaiannya yang imut-imut, itupun belum lagi ditambah dengan gayanya yang centil alias cengengesan penuh kutil. Walah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki mana sih yang mampu mengalihkan pandangannya saat melihat sapi pake you can see, eh, cewek ding? Kalo laki-laki “shalih” sih saya yakin masih bisa manahan diri, walaupun saya juga yakin itu sangat berat. Lha kalo laki-laki “salah”? Melihat yang putih, yang mulus, yang seksi? (Saya tidak bilang sapi lho!). Bisa-bisa mengganggu stabilitas nasional! (Cieh, bahasanya pejabat banget neh!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, dulu ada pengalaman salah seorang teman yang pernah sebangku. Doi pernah cerita, katanya pas di jalan melihat cewek seksi, dari arah belakang terlihat seperti Madonna, eeh pas dilihat dari depan malah mirip Maradona; yang sejatinya pemain sepak bola tapi malamnya nyambi jadi tukang jaga kebun. Wakaka, sory yeiy! Gubrak! Wah, rugi dong, sudah tekor iman, tontonannya mengecewakan pula. Hahaha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bagaimana sekarang dengan keadaan di sekeliling kita ini yang hampir saban hari dan saban tempat ada pemandangan aurat yang mengundang sahwat? Ini bisa merusak keimanan kita, cing! Bukankah iman akan bisa berkurang ketika melakukan kemaksiatan? Sementara di waktu yang sama aurat-aurat itu seakan-akan memaksa kita untuk melakukan maksiat. Hhh, gimana nggak sedih coba? Awalnya maksiat mata, lalu ke maksiat pikiran, dan dilanjutkan lagi dengan maksiat perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho mas, itu kan tergantung orangnya masing-masing? Itu kan yang salah yang otaknya suka ngeres? Ya iya sih, tapi setidaknya kalo orang itu bebas mempertontonkan auratnya, berarti sama dengan memberikan “fasilitas” bagi orang lain untuk berotak ngeres. Memberikan ‘tontonan’ gratis yang kemudian mampu memicu timbulnya sahwat. Nah, gimana kalo sudah begini? Makanya dari sekian pelaku kriminal pemerkosaan dan perbuatan cabul, ketika ditanya kenapa mereka melakukan perbuatan itu, sebagian besar mereka mengaku karena habis menonton film donal bebek! (hehe..kamu tahu lah donal bebek itu film apaan? Ya film kartun! Hehehe). Nah tuh, bener kan? Jadi, ketika seseorang itu merelakan dirinya untuk mengumbar aurat, maka sama artinya memberikan “inspirasi” kepada lawan jenisnya untuk “berimajinasi”, yang kemudian sangat rentan dilakukan pemenuhan alias “ekspresi”. Hmm, maka jangan salahkan kalo ekspresi itu sampe dilampiaskan dengan cara memperkosa. Hiii, ngeri euy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;The real terrorist&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati! Ini jaman adalah jamannya teroris! Kalo teroris yang diberitakan di TV-TV adalah orang yang menggunakan bom, maka baru-baru ini diketahui komplotan teroris baru. The real terrorist!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini penting. Kamu saya beritahu sekarang ini agar segera pasang kuda-kuda, agar selalu waspada. Beneran lho, bahkan saking bahayanya sampe-sampe belum banyak yang bisa mengendus pengaruh kejahatannya. Baiklah, catat baik-baik. Bahwa teroris sekarang ini ciri-cirinya bukan lagi pake Mobil Tank, tapi pake Tank Top! Pake Tank Top, bro!! Tank Top!! Seru banget, eh, parah banget kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat muda muslim, sebenarnya kata “teroris” ini merupakan kata yang bermakna umum. Intinya usaha untuk menciptakan ketakutan, atau sesuatu yang berbau mengancam. Sedangkan kata “teroris” itu sendiri adalah si pelaku teror. Ketika kamu SMS lawan jenis kamu, “Dalam waktu 1 x 24 jam kamu harus mau jadi gebetan gue! Kalau tidak, gue nangis sehari semalam!!”, nah itu sudah berbau teror namanya. Atau, kamu nentengin golok di pasar-pasar sembari sesumbar dengan suara lantang, “Lo gak tau siapa gue?! Nih KTP gue, nama gue Mamat!!! Siapa gak setor uang keamanan ke gue, gue tebas leher elo!”, hmm…termasuk juga daftar teroris itu. Lebih-lebih para pejabat yang memakan uang rakyatnya, wah…itu sih malah gembongnya teroris!  Jadi bukan setiap orang islam yang berjenggot, bergamis, dan celana setengah betis yang mesti identik dengan kata “Teroris”. Itu mah stigmatisasi atau propaganda orang Barat dan konco-konconya untuk memecah belah umat islam. Betul itu! Padahal mereka sendiri –yakni Amrik dan sekutunya- yang justru jadi teroris dengan membantai kaum muslimin di negeri-negeri muslim. Yah, dalam posisi begini berarti pas banget ama lantunan lagunya Iwan Fals,  “…maling teriak maling. Sembunyi balik dinding…”. Sorak-sorak: Huuu!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungannya aurat dengan teroris? Uhuk, uhuk! Sory batuk. Begini, coba perhatikan akibat-akibat dari “eksploitasi” aurat sekarang ini, bahwa karena hal inilah banyak teman-teman remaja kita yang terhambat produktifitasnya. Mikirnya ngeres mulu sih, akhirnya susah konsentrasi ke pelajaran. Mau buka LKS Matematika aja yang muncul malah rumus-rumus ciuman pertama. Buka buku Biologi malah yang muncul gambar “xxx” (Keterangan: itu yang xxx artinya gambar kodok! Hehehe…sensor ah!). Gaswat banget kan? Belum lagi nanti imbasnya kepada Moral atawa Akhlak. Terlihat banget kok orang-orang yang hoby melototin aurat (idih, bilangnya hoby?). Jangankan mau menghafal Al-Quran, rumus-rumus Hukum Newton dalam pelajaran Fisika jadi amblas. Maka akhirnya, Kaum muslimin sekarang ini menjadi lemah karena generasi-generasinya dijajah pikirannya dengan “tradisi” umbar aurat. Lebih tepatnya: Diteror dengan tayangan-tayangan aurat! Astaghfirullah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sobat muslim, sebenarnya tidak hanya kita merasa terteror dengan maraknya aurat dimana-mana, kita juga merasa diperkosa! (Wataw! Apalagi ini? Masak iya sih?). Ya iyya lah…masak iya iya dong, mulan aja jamilah bukan jamidong. Maksudnya begini sayang, kamu tahu orang yang diperkosa itu kan merasa dipaksa-paksa. Aslinya tidak bersedia tetapi tetap aja ditodong agar mau melayani. Lha, kita itu hampir sama posisinya dengan orang yang diperkosa itu. Di jaman sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) ini, dengan seabreg objek-objek sahwat yang sengaja dibiarkan bergentayangan ini, kita yang sudah mulai paham tentang islam merasa terganggu, merasa dipaksa-paksa untuk melakukan maksiat. Tadinya saat berdzikir di masjid kita mau bertobat, nentengin tasbih sambil nangis-nangis, eeh sesudah keluar masjid baru aja pake sendal jepit sebelah sudah dijejali tontonan yang berbau sahwat. Akhirnya bubar grak lagi kan? Hmm, dasar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyalahkan diri kita sendiri yang mudah tergoda memang sudah mesti, tapi bagaimana dengan aurat-aurat yang bergentayangan itu? Apa kita nggak boleh menyalahkan mereka yang mengumbar sahwatnya, sementara mereka telah “memperkosa” keimanan kita? Nggak bisa gitu dong, kagak adil alias njomplang, brur! Ibarat kita kalo rumahnya dimaling, kita mau gebukin itu maling malah kita yang terkena pasal kekerasan dalam rumah tangga. Waduh! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, seharusnya perkara ini justru harus diperhatikan betul. Negara wajib mengontrol masyarakatnya agar tidak boleh mempertontonkan auratnya. Atau melarang beredarnya media-media yang mempertontonkan aurat. Bukan karena apa-apa, apalagi sok suci bin sok islami, tapi setidaknya ini dapat melindungi masyarakat dari meningkatnya angka kriminalitas perbuatan asusila. Dan khususnya bagi generasi muda pikirannya akan lebih terjaga, nggak horni mulu. Toh ini juga dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menghargai diri manusia supaya tidak mengobral apalagi sampe berniat cuci gudang auratnya. Jaim (jaga imej) dong! Emangnya barang apaan, diobral-obral?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah sobat muslim, jadi jangan hanya berpikir kaum perempuan aja yang biasa jadi korban pemerkosaan, kaum laki-laki juga demikian, setidaknya “pemerkosaan” iman. Makanya bagi kamu yang laki-laki, kalo pas datang di sekolah, di kampus, atau di Mall-Mall kamu ketemu ama perempuan-perempuan yang berpakaian mini, maka segeralah lari ke satpam sembari teriak sekeras-kerasnya, “Tolooong!! Saya diperkosaaaa!!!” Hehehe.. Berani nggak? Terus terang saya sendiri masih pikir-pikir untuk melakukan aksi nekat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-2778827399738532241?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/2778827399738532241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/11/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/2778827399738532241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/2778827399738532241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/11/blog-post.html' title='AURA AURAT'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-7842322263430959385</id><published>2009-10-25T20:30:00.000-07:00</published><updated>2010-04-11T03:08:50.404-07:00</updated><title type='text'>Bukan Makhluk Statis</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUa7WbFJHI/AAAAAAAAANI/oaD4hdHmVg0/s1600-h/20090313191536.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUa7WbFJHI/AAAAAAAAANI/oaD4hdHmVg0/s200/20090313191536.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396749335407174770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, kita hadir dan hidup di dunia ini bukan karena kehendak kita sendiri. Kita hadir dan hidup di dunia ini karena kehendak Allah SWT. Jika Allah berkehendak, bisa saja kita hadir di dunia ini menjadi sebutir  batu jalanan, sehelai rumput di hutan, atau seekor burung di atas dahan. Maka betapa hampa makna kehidupan ini jika Allah takdirkan kita manjadi benda-benda tersebut. Sebab sebutir batu di jalanan menderita sepanjang hari disepak-sepak orang yang lalu lalang. Sehelai rumput di hutan hanya menunggu dirinya dimamah binatang. Manakala seekor burung di dahan mautnya di ujung bidikan senapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika Allah mantaktdirkan sebutir batu, sehelai rumput, dan seekor burung bisa menjadi sangat mulia dan bernilai. Bukankah batu di lantai mihrab masjid tempat Imam bersujud dan menangis sumbernya sama dengan batu di jalanan, dari sungai atau dari gunung? Bukankah batu mulia yang menjadi dinding banguanan Ka’bah, kiblat manusia sejagad, adalah batu gunung biasa yang sama dengan batu manapun di dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah sehelai rumput yang dimakan oleh kuda-kuda para pejuang Islam. Alangkah mulianya rumput itu. Sebab dengannya kuda-kuda tersebut menjadi kuat untuk mengantarkan para pejuang berdakwah dan berjihad ke negeri-negeri yang jauh. Padahal rumput yang di makan kuda-kuda pejuang itu sama dengan rumput manapun di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat pula burung Hud-Hud yang terbang ribuan kilo meter untuk meneliti kehidupan ratu Balqis dan melaporkannya kepada Nabi Sulaiman a.s. Bukankah tadinya ia hanya seekor burung biasa yang bersarang di atas dahan? Namun setelah ia bergerak dan berjuang, ratu Balqis serta seluruh rakyatnya meninggalkan kemusyrikan dan menyembah Allah SWT. Allah memuliakan Hud-Hud dengan mencantumkan namanya dalam al-Quran dan dibaca oleh umat Islam hingga akhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik batu, rumput, atau burung, semuanya tidak punya hak pilih dalam menjalani kehidupana di dunia. Jika takdir Allah menetapkan sebutir batu menjadi batu jalanan, maka begitulah selama-lamanya. Batu itu tidak akan bisa berusaha meningkatkan kualitas diri agar kelak menjadi Hajar Aswad. Sebaliknya Hajar Aswad juga tidak mungkin melakukan keburukan sehingga jatuh derajatnya menjadi batu jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun masih berada dalam koridor Qadha’ dan Qadar Allah, manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang memiliki kemampuan untuk bergerak dan beraktivitas. Gerak dan kreativitas manusia itulah yang disebut dengan amal atau usaha. Jika baik amalnya, manusia berkesempatan untuk sampai kepada derajat yang mulia, meski tadinya durjana. Sebaliknya jika buruk amalnya, maka manusia yang paling mulia pun akan jatuh derajatnya kepada kehinaan dan kedurjanaan. Inilah perbedaan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu, rumput, dan burung bukanlah makhluk yang dinyatakan Allah sebagai mulia. Justru makhluk yang disahkan Allah memiliki kemuliaan adalah kita, manusia. Firmannya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(QS. Al-Isra’ : 70)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya lagi dan lagi, kita tidak mau menginsafi bahwa kemuliaan manusia itu sangat tergantung kepada sejauh mana ia menjalankan kehendak dan perintah Allah SWT. Manusia bukan batu, bukan rumput, dan bukan burung yang hidupnya statis. Manusia adalah makhluk yang Allah berikan kesempatan untuk berbuat dan memilih.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(QS. At-Tin : 4-5)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mematuhi perintah dan kehendak Allah, manusia bisa lebih hina dari batu, rumput, dan burung. Bahkan manusia yang durjana sebaiknya memilih mati sebagai sebutir batu, sehelai rumput, atau seekor burung. Sebab mati sebagai manusia, ia harus mempertanggung-jawabkan seluruh perbuatannya dalam hari perhitungan yang akan menyeretnya kemudian ke dalam neraka. Sementara batu, rumput dan burung terbebas dari itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika manusia benar-benar mematuhi kodrat penciptaan dirinya untuk menyembah Allah dan memenuhi kehendak-Nya selama berada di dunia, jika manusia benar-benar memegang teguh nilai keimanan dan menjaga hati nuraninya dari dosa dan kemaksiatan, maka ia akan berbahagia dalam keridhoan Allah dan bersenang-senang dalam syurga-Nya. Namun jika ia memilih untuk mengabaikan hakikat penciptaannya sebagai manusia, mengingkari kehendak Allah dan menuruti hawa nafsunya, maka ia akan dibakar api neraka selama-lamanya. Selama-lamanya. &lt;strong&gt;[Dikutip dan disadur dari Buku “My Dad My Pious Dad”]&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-7842322263430959385?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/7842322263430959385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/10/bukan-makhluk-statis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7842322263430959385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7842322263430959385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/10/bukan-makhluk-statis.html' title='Bukan Makhluk Statis'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUa7WbFJHI/AAAAAAAAANI/oaD4hdHmVg0/s72-c/20090313191536.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-6902074779528070843</id><published>2009-07-22T02:38:00.000-07:00</published><updated>2009-07-22T02:44:52.858-07:00</updated><title type='text'>InspirAction</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SmbfJV7HfaI/AAAAAAAAAMI/NKQ_aGVAo4Y/s1600-h/ahsan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 328px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SmbfJV7HfaI/AAAAAAAAAMI/NKQ_aGVAo4Y/s400/ahsan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361217758028070306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prolog: Get your inspiration!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua orang mempunyai peta hidup. Malah, kebanyakan menjalani kehidupan dengan mengalir, apa adanya, katanya. Padahal, jika sang waktu diibaratkan sebagai sungai, dan kita hanya nurut membuntut pada arus sungai tersebut, maka kita tak ubahnya seperti kotoran. Tak berpendirian. Tak mengerti arti masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu cerita yang cukup menggelitik saya waktu lalu. Adalah Jamil Azzaini, seorang Inspirator Sukses Mulia yang hidupnya penuh dengan target dan rencana secara tertulis. Satu waktu ia pernah menulis sebuah proposal, untuk kemudian ditujukan kepada Tuhan. Pikir-pikir, orang ini kok rada-rada gila. (Hush! Jangan bercanda). Lha, saya serius!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala rencana, harapan, dan cita-cita telah tertulis lengkap dalam proposal. Ketika ia pergi haji ke tanah suci, serta merta proposal itu masuk dalam daftar barang terpenting untuk dibawa ke tanah suci. Benar-benar aneh dan nyeleneh, bukan? Dan jangan ditanya, ketika ia sampai di Makkah, di depan Ka’bah tepatnya. Ketika ia thowaf dan berdoa, ia malah mengacung-acungkan proposalnya tinggi-tinggi ketika para Jamaah yang lain komat-kamit berdoa dengan menghabiskan waktu berlama-lama. Apa yang dilakukan Jamil Azzaini ini, ternyata cukup berucap singkat, ”Ya Allah, kabulkanlah semua harapan yang saya tulis di proposal ini.” Hahaha, Anda boleh tertawa sepuasnya!&lt;br /&gt;Hmm, salahkah kelakuan Jamil Azzaini diatas? Ah, saya kira tidak juga. Malah, dengan proposalnya itu saya yakin jalan hidupnya lebih terkonsep rapi daripada para Jamaah haji yang lainnya. Nah, barangkali Anda setuju dengan Jamil Azzaini, meski terasa geli, tapi boleh juga cara itu untuk dicoba. Terus terang saja, saya sendiri belum berani untuk segila itu. Hahaha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain ladang lain belalang. Mungkin demikian kita berkelit. Jamil Azzaini sudah tentu mempunyai seabreg pengalaman dan wawasan, hingga dengan mudah ia membuat konsep hidup. Tertulis pula. Sementara di antara kita masih banyak yang kebingungan dengan tujuan hidupnya sendiri. Alih-alih membuat peta jalan, tempat tujuannya saja masih tidak terpikirkan. Saya mau kemana? Harus bagaimana? Masih terlalu sulit untuk dijawab!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi maklum-maklum saja, wajar-wajar saja, karena manusia biasanya tidak bisa menghindari teknik ATM alias Amati-Tiru-Modifikasi. Namun demikian, teknik ATM tidak akan terlaksana kalau-kalau tidak ada yang ditiru. Ah, jangankan meniru dan memodifikasi konsep hidup orang sukses, Figur orang sukses yang akan kita tiru saja masih juga belum kita temukan. Saya tahu tidak semua orang begitu. Tapi yakinlah, jumlah mereka mayoritas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal menemukan figur, tidak ada cara lain selain memperluas skala silaturrahim dengan memperbanyak kenalan, serta memperluas wawasan. Dan kalau ada kesempatan, jangan segan-segan pula untuk mengenalkan diri kepada orang-orang besar! Siapa tahu, kita akan mendapat imbas kesuksesannya karena mereka tak hanya menyambut, tapi juga membantu memberikan jalan menuju sukses. Tidak ada salahnya kita melakukan itu, kenyataan membuktikan 90% berhasil setelah mengamalkannya. Hei, Anda berani, tidak? Maaf-maaf saja, kalau Anda masih ragu-ragu, jangan harap Anda akan meraih perubahan besar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Get your inspiration! Mencari inspirasi jelas wajib kita lakukan, tidak bisa ditawar-tawar, tidak bisa ditunda-tunda. Semakin banyak wawasan dan orang yang kita kenal, kita dapat menggali inspirasi dengan memilah dan memilih mana diantara jalan hidup positif yang baik untuk kita tiru. Tidak cukup itu, kita bahkan menang satu langkah karena bebas memodifikasi atau mengombinasi setelah teliti mencermati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei saudara penulis, ini tulisan kok nyuruh nyontek, sih? Hahaha, ini berbeda dengan menyontek waktu ulangan di sekolah. Meski saya tergolong manusia paling membenci contek-menyontek, tapi tidak bisa saya pungkiri, saat-saat sekolah dulu adalah sulit bagi saya terlepas dari aktivitas itu. Hahaha, buka kartu ceritanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke laptop. Sekali lagi, mencari inspirasi itu penting, sangat penting malah! Ini untuk merangsang otak kanan menjadi kreatif. Karena mengonsep jalan hidup itu butuh otak-otak kreatif. Asal Anda tahu, saya menulis tulisan ini saja untuk menggugah emosi dan otak kanan Anda. Setidak-tidaknya, saya berharap Anda dapat mengambil manfaat dari tulisan ini untuk menjalani kehidupan dengan kreatif. Bagaimana pendapat Anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-6902074779528070843?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/6902074779528070843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/07/inspiraction.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/6902074779528070843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/6902074779528070843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/07/inspiraction.html' title='InspirAction'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SmbfJV7HfaI/AAAAAAAAAMI/NKQ_aGVAo4Y/s72-c/ahsan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-4235408249915056728</id><published>2009-07-10T00:22:00.000-07:00</published><updated>2009-11-10T20:26:52.316-08:00</updated><title type='text'>Heart</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Slbs05ONV7I/AAAAAAAAAKE/PGvMf4zC10Y/s1600-h/a5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 89px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Slbs05ONV7I/AAAAAAAAAKE/PGvMf4zC10Y/s200/a5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356729200261552050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, seorang Dosen IAIN ingin membuat terobosan pemikiran Islam. Ia berusaha mengopinikan ijtihadnya yang terkesan sangat berani dengan mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;”HARAM MENIKAH DENGAN AKHWAT SEKAMPUS!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak para mahasiswa pun melayangkan protes. Dan dengan serta merta Dosen tersebut dicap dengan sebutan SESAT!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah suasana kampus semakin tidak terkendali karena kemarahan banyak pihak, akhirnya Si Dosen tersebut dipanggil oleh pihak Rektorat untuk dimintai pertanggung jawaban atas ijtihad ngawurnya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, massa demonstrasi di depan gedung rektorat sudah tak sabaran. Membentangkan spanduk berisi kemarahan-kemarahan karena ulah Si Dosen. Tak lupa orasi-orasi mereka: ”Aliran sesat agen Barat! Keparat!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di waktu yang sama, di dalam gedung rektorat masih berlangsung diskusi antara Rektor dengan Si Dosen.&lt;br /&gt;”Tolong Pak Dosen, jangan bikin ulah lagi. IAIN kita ini, sudah terkenal sesat. Tolong jangan dibikin tambah sesat lagi.” Keluh Rektor.&lt;br /&gt;”Lho, apa yang saya katakan ini memang benar, Pak Rektor. Bahwa menikah dengan wanita sekampus itu hukumnya HARAM!!!” Si Dosen mempertahankan argumen.&lt;br /&gt;”Kalau begitu, apa dalilnya?”&lt;br /&gt;”Tidak usah pake dalil! Sudah jelas-jelas haram kok!” Si Dosen berkelit.&lt;br /&gt;”Kok begitu? Itu artinya ngawur!” Bantah Sang Rektor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Si Dosen berdiri dari duduknya. Dengan memasang wajah merah padam, tangannya mulai menunjuk hidung Sang Rektor, ”Anda yang ngawur, Anda yang sesat!”, Kontan Sang Rektor terbelalak. Melongo, tak bisa berkata-kata. Dan Si Dosen itu melanjutkan, ”Apakah Pak Rektor sudah pikun, menikah dengan dua istri saja sudah repot. Apalagi menikah dengan wanita sekampus!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahaha, Dosen edan! Bicara soal menikah (dini), rasa-rasanya sudah menjadi barang yang aneh alias tabu. Tetapi di sisi lain, ”godaan-godaan” datang memberondong dan bertubi-tubi. Tak terhitung mereka yang tergoda, tak terkecuali yang tergabung dalam komunitas Ikhwah. Wajar-wajar saja, karena mereka memiliki hati. Dan saya yakin, yang tersulit bagi Syabab (pemuda) adalah soal menjaga hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak solusi yang ditawarkan di buku-buku bacaan. Diantaranya: Berpuasa, memperbanyak kegiatan positif, dan sebagainya. Namun pertanyaannya, apakah solusi itu benar-benar solutif..tif..tif..? Bisa menghadang segala bentuk godaan hati? Jawabannya, belum tentu. Malah, salah seorang teman saya sering mengeluh. Sebab, kuwatir puasanya batal gara-gara matanya masih saja jelalatan. Hahaha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, saya tidak bergurau! Puasa, meski diperintahkan oleh Rasulullah SAW kepada para pemuda jika belum siap menikah, namun hal tersebut tidak serta merta akan menangkis godaan, tapi lebih bertujuan untuk mengalihkan perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dong? Hmm, baiklah, baiklah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebagai Ketua DPP Partai PJRI (Partai Jomblo Raya Indonesia), akan memberikan dua solusi: Pertama, bergabunglah bersama Partai PJRI. Kami akan memberikan bukti, bukan cuma janji, berupa petuah-petuah sakti seputar jomblo kepada kalian. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;To be Hight Quality Jomblo!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Langsung menikah. Percayalah, solusi yang kedua ini terbukti paling efektif menangkis godaan. Setidaknya, akan membuat hati menjadi aman. Sudahlah, sudahlah, percaya saja. Menikah? Go..go..go..!! (Halah, yang nulis saja belum menikah kok! Hahaha, sabar... Masih ikhtiar!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-4235408249915056728?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/4235408249915056728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/07/heart-bab-9.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/4235408249915056728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/4235408249915056728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/07/heart-bab-9.html' title='Heart'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Slbs05ONV7I/AAAAAAAAAKE/PGvMf4zC10Y/s72-c/a5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-5422846548369599562</id><published>2009-07-09T23:59:00.000-07:00</published><updated>2009-11-10T20:27:43.719-08:00</updated><title type='text'>Curhat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SlbrMLKf1tI/AAAAAAAAAJ8/6xQP5dL4clc/s1600-h/a4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 137px; height: 86px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SlbrMLKf1tI/AAAAAAAAAJ8/6xQP5dL4clc/s200/a4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356727401191560914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, salah seorang remaja SMA mengirimkan e-mail kepada saya:&lt;br /&gt;”Dokter cinta yang terkasih. Beberapa waktu lalu, setelah saya menghadiri Bedah Buku dokter, saya langsung bertekad memutuskan hubungan saya dengan pacar saya. Habis...saya selalu tekor dok! Hehehe, tidak ding. Kamsudnya saya sudah mulai faham bahwa hubungan itu salah menurut Islam. Saya khilaf, dan saya mau tobat. Sekarang saya mau mendalami Agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi di saat saya bertekad demikian, adaaa aja yang mencoba menggoda-goda saya. Dua minggu kemarin seorang teman lama saya –sebut saja Bambang-  ngajak-ngajak saya cari cewek. Katanya, hidup garing tanpa pujaan hati. Yang menyedihkan, si Bambang ini selalu membujuk saya. Bahkan pake datang setiap hari kerumah saya. Akhirnya, nggak tahu kenapa tiba-tiba tiga hari kemarin saya menyanggupi si Bambang untuk cari cewek.&lt;br /&gt;”Ya ampun! Saya kan udah nggak mau pacaran lagi, tapi kenapa saya menyanggupi si Bambang?! Uh, saya bener-bener kepepet! Saya ngerasa nggak enak sama teman saya itu. Untung saja, sampai sekarang saya nggak pernah ketemu sama dia lagi. Untung! Tapi gimana kalau tiba-tiba dia neror saya pake sms dok? Waduh! Gimana kalau dia datang ke rumah? Terus gimana lagi cara menangkal teman saya itu kalau saya ketemu dia di jalan? Gimanaaaaa....? Bisa gilaaaaaaaaaa....!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Oukeih... Begini dik Jono (ini pasti bukan nama kamu yang sebenarnya, maka gapapa ditulis disini ya?). Dilihat dari mail yang adik layangkan, terasa ada semacam ketakutan berlebih terhadap teman Dik Jono –si Bambang-.  Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan jika adik memiliki trik untuk membalikkan ketakutan itu. Jadi, justru kamu lah yang harus nakut-nakutin dia. Ini bukan berarti kamu harus mulai latihan sumo atau belajar santet karena mungkin dia juga sudah dibekali keterampilan sumo en ilmu santet supaya lebih pede ngajakin orang untuk cari pacar (hehe..nggak nyambung yah?). Tenang saja, kamu cukup mengikuti saran dokter berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jika dia sms ngajak ketemuan, ajak dia ketemuan di tempat yang dianggap sepi. Misalnya di kamar, di kebun, atau bisa juga di kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kalo udah ketemuan terus dia mulai ngajak lagi cari pacar, Dik Jono harus memandang wajah dia dengan pandangan yang mesra (di sini agak butuh latihan supaya bener-bener  kelihatan mesra). Jika dia menyadari tatapan mesra tersebut dan kemudian berhenti bicara, maka kamu harus buru-buru menunduk tersipu malu. Jangan lupa bibir Dik Jono juga harus dibuat meyakinkan rasa malu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jika dia mulai bicara membujuk kamu lagi, cobalah kamu sedikit merengsek mendekati dia dan duduk menempel di samping dia. Jika dia kembali menghentikan bicaranya gara-gara rengsekan kamu tadi, maka ulangilah acting menunduk malu tadi (jangan lupa bibirnya tetep dipake, jangan ditinggal di toilet! Di sini peran bibir dan mata yang terkesan malu tapi mesra sangat menentukan acting tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jika dia melanjutkan kembali bicaranya, maka sekarang giliran tengan Dik Jono yang bekerja. Mulailah perlahan-lahan meletakkan telapak tangan Dik Jono di atas paha dia bagian dalam. Ga peduli segede apapun dosa yang Dik Jono punya. Tapi tolong waktu itu wajah Dik Jono  harus kelihatan tanpa dosa. Jika dia langsung menghentikan bicaranya, dan malah bergeser tempat duduk menghindar dari Dik Jono, ulangi lagi acting menunduk malu tadi (tetep, mata juga bibir harus kompak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sekarang, giliran Dik Jono yang ngomong. Mulailah cerita begini, ”Mas Bambang... kemaren-kemaren kan saya kost sekamar ama Rudi... Kalo ada Rudi...saya ngerasa aman... Tidur juga anget... Sekarang, saya dan Rudi sudah tidak se-kost lagi semenjak liburan semester lalu. Mau ga mas Bambang nge-kost berdua ama saya? Plis...! Mau ya mas?”. Pas ngomong “plis...!” letakkan kembali tangan kamu (kali ini kedua-duanya) ke paha dia sembari digoyang dikit. Kamu harus bener-bener kelihatan merajuk waktu minta dia tinggal se-kost berdua ama kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dia mungkin bakal melongo ngeliat apa yang kamu lakukan. Tapi kamu harus melanjutkan serangan. Segeralah mendekati dia lagi dan duduk di samping dia. Sandarkan kepala kamu di bahu dia sambil bilang: ”aku kesepian mas...! Waktu aku ketemu mas Bambang kemaren, aku ngerasa ada getaran yang ga biasa... Sepertinya aku menemukan apa yang aku cari selama ini...”. Kamu ngomong kayak gitu sembari menatap kosong ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kalo dia langsung lari keluar kamar kamu, berarti resep dokter berhasil. Tapi kalo dia malah memeluk en membelai kamu, sebaiknya kamu segera teriak: ”Tolong...! Ada orang yang mau homoin sayaaaaa...! Toloooong...! Tolooooong!”. Teriaklah sekeras yang kamu bisa supaya tetangga-tetangga pada denger. Hehe... kapok-kapok tuh si Bambang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dik Jono, saya salut dengan adik. Sudah berani bertekad meninggalkan pacaran. Selamat! Adik sudah terhindar dari satu aktivitas haram. Kalaupun adik masih digoda oleh teman, diajak-ajak untuk melakukan maksiat, maka katakan dengan tegas, ”TIDAK!”. Jangan ragu-ragu untuk mengatakan dan mempertahankan kebenaran. Katakan bahwa kamu sudah tobat, dan mulai mendalami Islam. Jangan hiraukan kalau adik dibilang sok suci, balikkan aja dengan berkata: dari pada sok najis! Hehe.. Lebih-lebih kalau adik bisa ngajak teman-temannya untuk mendalami Islam pula. Tambah keren tuh...&lt;br /&gt;Okeh, gitu aja ya dik.. mudah-mudahan ada manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disunting dg artikel dokter DJ OM edisi 23&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-5422846548369599562?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/5422846548369599562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/07/curhat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/5422846548369599562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/5422846548369599562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/07/curhat.html' title='Curhat'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SlbrMLKf1tI/AAAAAAAAAJ8/6xQP5dL4clc/s72-c/a4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-8327772791787996538</id><published>2009-07-09T23:53:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T23:59:27.127-07:00</updated><title type='text'>Pacaran, WAJIB!</title><content type='html'>Dasar gilaaaa!! Di saat saya sudah berbusa-busa mendeklarasikan gerakan anti pacaran alias GAP di acara-acara training dan bedah buku. Tangan saya juga sudah cape nulisnya tentang haramnya pacaran. Eh, ternyata seminggu kemarin ada yang SMS saya. Ngakunya sih dari pembaca buku saya. Tapi anehnya, SMS ini lain dari yang lain. Isinya berbeda dengan SMS-SMS yang biasa saya terima dari pembaca buku saya. Karena SMS yang satu ini, bermaksud sesumbar! Busyet!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baca awal kalimatnya. Waduh! SMS ini provokatif sekali! Betapa tidak, terlihat di layar HP saya sebuah tulisan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PACARAN DALAM ISLAM, HUKUMNYA WAJIB!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hhh, Berani sekali dia sesumbar dengan ide ngawur begitu. Berdusta atas nama Agama pula? Hmm, neraka benget tuh! Nah, SMS tidak berhenti di situ. Kali ini lebih provokatif, berisi ajakan atau himbauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SO, MARI KITA PACARAN!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apyuuuunn!! Neraka loooohhhh!!! (ingat, saat membaca ”loh”, jangan lupa bibirnya maju dikit. Lima centi lah!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sejenak setelah itu, saya terbelalak, mataku melotot. Ternyata apa yang dikatakan anak ini memang benar adanya. Justru saya yang salah! Semenjak kejadian itu, saya lantas ikutan berpendapat bahwa pacaran itu...Wajib! (Nah lho?). Hmm... pantesan aja, ternyata di bawah kalimat tadi masih ada penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P – elajari &lt;br /&gt;A – l-Qur’an &lt;br /&gt;C – intai&lt;br /&gt;A – llah &amp;&lt;br /&gt;R – asulullah&lt;br /&gt;A – mar Ma’ruf&lt;br /&gt;N – ahi Mungkar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe, PEACE! Trimakasih buat +62899553141xx atas SMSnya. Semangat!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-8327772791787996538?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/8327772791787996538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/07/pacaran-wajib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/8327772791787996538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/8327772791787996538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/07/pacaran-wajib.html' title='Pacaran, WAJIB!'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-6735978478135983585</id><published>2009-06-27T03:24:00.001-07:00</published><updated>2009-11-10T20:28:33.525-08:00</updated><title type='text'>Rentan berbohong</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkjAUWY2ZMI/AAAAAAAAAJY/YWesWlT7OgQ/s1600-h/aaa.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 119px; height: 111px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkjAUWY2ZMI/AAAAAAAAAJY/YWesWlT7OgQ/s200/aaa.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352739612969559234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, orang yang pacaran itu cenderung nggak memiliki rasa aman. Selalu ada yang berusaha disembunyikan. Apalagi jika saja mereka sudah berani melakukan hal-hal yang macam-macam. Iya, hampir selalu ada aksi membohongi. Baik bohong kepada orang tuanya sebab doi habis memberikan hadiah yang mahal kepada gebetannya hasil dibelinya dari uang SPP, sampai berbohong karena habis melakukan hal yang aneh-aneh dengan pacarnya. Dan tentu, tidak ketinggalan pula pasti ada kebohongan alias gombal kepada pasangannya. Nah, yang ini jelas karena menjaga privasi, atau karena selingkuh? Ah, pokoknya gitu deh. Selalu merasa panik jika rahasianya terancam terbongkar. Dan akhirnya, sangat rawan untuk berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung saya punya rekan yang cerdik mengerjain seseorang. Namanya Ita. Ia pandai sekali ber-action di depan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya,&lt;br /&gt;Waktu itu Ita baru masuk SMU, masa-masa pubernya bikin dia centil dan suka ngerjain orang. Kali ini dia mendapat kata-kata baru buat ngerjain orang.&lt;br /&gt;Hari pertama, dia nelepon teman sekelasnya:&lt;br /&gt;"Rin, gue udah tau semuanya tentang itu..."&lt;br /&gt;"Hah.. Apa? Elu udah tahu semuanya???" Suara disana terdengar lemas."Ta, tolong elu jangan bilang-bilang sama Indri kalo gue udah berani jalan ama cowoknya ya Ta. Gue ada voucher makan di HokBen, elu jangan bilang-bilang yah. Sori gue cuma bisa ngasih itu doang."&lt;br /&gt;"Okelah, gue sih terima aja, lu kan temen gue."&lt;br /&gt;Begitu telepon ditutup, Ita langsung teriak girang, "Wah, oke juga nih, gue dapet voucher HokBen !! Coba gue praktekin lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Ita masuk kamar kakaknya dan langsung bicara pelan didekat kuping kakaknya tersebut yang lagi tiduran.&lt;br /&gt;"Kak, gue udah tau semuanya. Ternyata gitu ya, Kak."&lt;br /&gt;Kontan Kakaknya langsung bangun, mengambil sebuah kunci dan berbisik pada Ita, "Ta, lu boleh pake mobil sebulan penuh, plus gue kasih bensinnya. Tapi jangan bilang Papa kalo gue pacaran, yah!!!"&lt;br /&gt;"Beres!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ita benar-benar girang, kali ini giliran dia mencegat Papanya yang baru pulang kerja. "Pah,." Ita mengejar Papanya yang cuek bebek. "Pah, Ita mau ngomong."&lt;br /&gt;"Ada apa sih, Ta ?!! Papa capek nih..."&lt;br /&gt;"Ita udah tau semuanya, Pah..."&lt;br /&gt;Mendadak Papanya celingukan, mengeluarkan HP dan menelepon seseorang, "Ta, Credit Card kamu udah Papa aktifkan lagi. Tapi...”, Papanya mendekat dan membisiki telinga Ita, ”...Jangan pernah bilang Mama soal si Ijah."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-6735978478135983585?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/6735978478135983585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/rentan-berbohong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/6735978478135983585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/6735978478135983585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/rentan-berbohong.html' title='Rentan berbohong'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkjAUWY2ZMI/AAAAAAAAAJY/YWesWlT7OgQ/s72-c/aaa.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-1277926952880417584</id><published>2009-06-27T03:23:00.000-07:00</published><updated>2009-11-10T20:30:14.986-08:00</updated><title type='text'>SMS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Ski-9qDKvHI/AAAAAAAAAJQ/2kUF5S1w60c/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 110px; height: 132px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Ski-9qDKvHI/AAAAAAAAAJQ/2kUF5S1w60c/s200/images.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352738123598707826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jojoba. Mungkin itu adalah kata yang sering nempel di wajahku. Pasalnya, mulai dari lahir sampai kuliah sekarang aku gak punya pacar. Status yang katanya kebanyakakn orang memalukan. Mulanya aku tak peduli. Tapi setelah aku lihat temen-temen yang punya pacar, mereka jauh lebih bahagia dari pada aku. Ada yang ditempatin buat curhat, ada yang diajak ngobrol, ada yang nganterin, pokoknya bisa dijadikan soulmate lah. Mungkin itu beberapa alasan yang sering aku dengar dari temen-temen. Dan sepanjang yang aku amati memang demikian adanya. Hatikupun tergugah. Pokoknya Februari ini, sebelum hari Valentine, aku harus mendaparkan cowok. Bagaimanapun caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telunit...telunit, HP bututku berbunyi. Aku harap ada SMS nyasar dari cowok ganteng, kaya, pengertian dan soleh diseberang sana. (ngimpi kali ya, mana ada cowok soleh yang mau pacaran?). Kubuka SMS di HP ku. Comer yang tak kukenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali ku jumpa denganmu&lt;br /&gt;Tak bisa kulupakan wajah itu&lt;br /&gt;Wajah yang penuh keteduhan&lt;br /&gt;Hariku semakin bergetar&lt;br /&gt;Kala kau ulurkan tanganmu dan berkata&lt;br /&gt;”Pak, Sak welase (kasihani saya) Pak, belum makan dua hari...”&lt;br /&gt;He3x...PEACE!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang ajar, siapa neh orang. Kukira emang ada cowok yang bener-bener mau naksir aku. Kutekan keypad delete &gt; YES. Huh...a bad day. Aku pulang dengan hati yang agak dongkol. Apa kau yang harus nembak duluan ya? Tapi aku kan cewek? Kayaknya aku harus ngerubah penampilan deh. Cowok kampus biasanya suka ama cewek yang feminin, lembut, ngerawat diri and smart. Tapi apa kata dunia nanti kalo aku berdandan seperti itu. Jangankan pakai bedak en lipstik, mandi aja aku jarang. Habis,... praktikum di ITS membuatku tak sempat mandi. (sorri ini alasan). Tapi demi dapet cowok, aku musti berbenah. Pasti kali ini aku bakalan dapet. Secepat kilat kuhampiri cermin. Kupandangi wajahku. Gak terlalu jelek walaupun kurang strategis. Otak? Gak bodo-bodo amat kok. Ya..kayaknya hanya penampilan yang harus aku rubah. Tomorrow, yap... tomorrow will be unforgotable day for me!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya.................&lt;br /&gt;Gila!! Nih sandal apa bangku seh? Hak-nya tinggi banget, kakiku kaku-kaku. Rok ini lagi, aduuh..... ribet amat. Eh...tuh dia temen-temen, aku harus pasang senyum 227. 2 meter ke kiri, 2 meter ke kanan, tahan selama 7 detik 7 menit 7 jam 7 hari 7 malam. Pokoknya smile everytime lah. Seperti disambar petir di siang bolong, laksana badai diteriknya matahari, temen-temen melongo ngliat perubahanku. Ahh..pasti mereka terpesona. Paling tidak... ada lah yang nyantol satu dua orang (he3...pede amat). Smile ku terus mengembang. Sampai gigiku garing. Hari terus berjalan dan juga ikut tercengan melihat perubahanku.&lt;br /&gt;Aku kali ini makan siang di kantin. Biasanya aku gak pernah makan disini. Soalnya lumayan mahal. Bisa tekor aku nanti. Tapi sekali-kali gak papa lah soalnya anak kantin biasanya cakep-cakep siapa tahu ada yang nyantol satu dua tiga (jemuran kali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telunit...telunit........ ada SMS masuk. Moga memang bener-bener ada cowok yang suka ama aku. Valentine kuran 5 hari lagi. Aku harus berhasil. Kubuka SMS nya. Nomer yang tak kukenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari in kulihat wajahmu semakin bersinar.&lt;br /&gt;Deska, kamu tu: Cantik, cukup umur, kulitmu bagus, sehat...&lt;br /&gt;Tunggu aku tahun depan ya...?! Akan ku jemput kau…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh…tidaaak neh siapa ya, pasti dia salah satu temen sekampusku yang kesengsem ama penampilanku. Hariku jadi berbunga-bunga. Akhirnya dapet cowok juga. Oh..yes..yes..yes. SMS itu segera kubalas. Ku arahkan keypad ku ke bawah untuk menekan tombol proceed dan betapa terkejutnya aku ternyata SMS itu belum berakhir. Ada tambahan kalimat yang membuat ubun-ubunku menguap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...PANITIA KURBAN IDUL ADHA...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang ajaaarr! Aku menuju kasir. Membayar nasi rawon yang tidak aku habiskan karena bibirku udah nyonyor kena sambel. Sebel..sebel..sebel..!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dibajak dari tulisan Kana Sang Outlier; OpenMind Minimagz edisi 23.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-1277926952880417584?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/1277926952880417584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/sms-bab-6.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/1277926952880417584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/1277926952880417584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/sms-bab-6.html' title='SMS'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Ski-9qDKvHI/AAAAAAAAAJQ/2kUF5S1w60c/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-7500027374906932793</id><published>2009-06-27T03:22:00.000-07:00</published><updated>2009-11-10T20:31:09.333-08:00</updated><title type='text'>Respon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkjBtKLt5jI/AAAAAAAAAJg/3x8ZcHJB_O0/s1600-h/adg.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 114px; height: 112px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkjBtKLt5jI/AAAAAAAAAJg/3x8ZcHJB_O0/s200/adg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352741138701608498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja, semakin ruwet jadi cowok yang anti jomblo. Akibatnya, mau tidak mau ia harus mewajibkan dirinya mencari pasangan. Sampai-sampai ia rela mendapatkan apapun, eh, siapapun ceweknya, jika terpaksa susah nyarinya. Beberapa bulan yang lalu, kami mencoba meneliti diam-diam terhadap seorang cowok yang ceweknya suka rewel. Kami mencoba cari tahu tentang mereka (para cowok), dari berbagai macam model cowok tentunya. Ternyata, eh, ternyata, respon mereka berbeda-beda menanggapi ceweknya. Karena, eh, karena, ya jelas beda lah... wong orangnya juga beda-beda perasaan en wataknya.&lt;br /&gt;Nah, berikut respon cowok terhadap ceweknya yang suka menangis, yang telah berhasil kami rekam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cowok Cuek: “Biarin aja, nanti juga diam sendiri.”&lt;br /&gt;2. Cowok Naif: ”Beliin Permen sama balon.”&lt;br /&gt;3. Cowok Nggak sabaran: ”Hari geene masih nangis?”&lt;br /&gt;4. Cowok Sensitif: Ikutan Nangis.&lt;br /&gt;5. Cowok Pasrah: ”Terserah deh!”&lt;br /&gt;6. Cowok Idaman: ”Menangislah sepuasnya dipundakku.” Sambil tangannya melingkar melindungi wanita.&lt;br /&gt;7. Cowok Tajir: Beliin Mobil.&lt;br /&gt;8. Cowok Romantis: Bacain Puisi.&lt;br /&gt;9. Cowok Horni: Diajak ke tempat tidur.&lt;br /&gt;10. Cowok Bete: Dipeluk sambil dibisikin, ”Kita putus aja ya... cape' nih... kamu nangis mulu sih.”&lt;br /&gt;11. Cowok Narsis: Sibuk lagi ngambil foto diri sendiri.&lt;br /&gt;12. Cowok Dermawan: Ngeluarin recehan sembari bilang, ”May God Bless You...”&lt;br /&gt;13. Cowok Kritis: Nanya, ”ada apa nih? siapa? kenapa? dimana? kenapa? kok bisa sih? ya sudah... ambil positifnya aja.”&lt;br /&gt;14. Cowok tulalit: ”Kamu nangis atau bahagia sih? Nggak bisa bedainnya nih...”&lt;br /&gt;15. Cowok ahli Hipnotis: “Saya hitung 1,2,3 dihitungan ketiga anda melupakan semuanya... lupakan semuanya... lupakan...”&lt;br /&gt;16. Cowok Kejam: “Hehehehe... ini belum apa-apa sayang... nanti aku bisa bikin kamu tambah nangis sengsara meraung-raung... lebih parah lagi...”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-7500027374906932793?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/7500027374906932793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/respon-bab-5.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7500027374906932793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7500027374906932793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/respon-bab-5.html' title='Respon'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkjBtKLt5jI/AAAAAAAAAJg/3x8ZcHJB_O0/s72-c/adg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-2156146308543402648</id><published>2009-06-27T03:19:00.001-07:00</published><updated>2009-11-10T20:34:32.578-08:00</updated><title type='text'>Chat</title><content type='html'>Panglimadandut : “Abdi, cewe kamu mana, kok ga kelihatan di web cam?”&lt;br /&gt;Abdi                    : “Aduh, iya nih. Lupa.”&lt;br /&gt;Panglimadandut : “Kamsudnya?”&lt;br /&gt;Abdi                    : “Iya, aku lupa bawanya. Habis, doi suka ketinggalan kalo aku bawa kemana-mana. Sepertinya sih.. tadi ilang di warung. Ah, aku lupa!”&lt;br /&gt;Panglimadandut : “Dasar! Emangnya sendal, suka dibawa-bawa. Kapan nih dapat gebetan, dari dulu belum laku juga?”&lt;br /&gt;Abdi                    : “Tunggu aja tanggal mainnya.” (Saya ngetik sembari melampiaskan sedih-kesal dengan mencet tuts-tuts keyboard sekeras mungkin).&lt;br /&gt;Panglimadandut : “Mau tak carikan?”&lt;br /&gt;Abdi                    : “Ih, sory ya. Emangnya aku cowok ganteng apaan, pake dicarikan segala? Kamu kira aku sudah nggak laku apa?” (Kalian percaya kalau waktu itu saya laku? Sst.. sebenarnya saya laku. Laris manis malah. Tapi belum juga ada yang berani jujur dengan menyatakan cintanya padaku. Hahaha, kepedean dikit boleh dong?)&lt;br /&gt;Abdi                   : Buzz!!!&lt;br /&gt;Abdi                   : (Sambil marah-marah nih ceritanya) “Asal kamu tahu ya, aku ga mau gendaan, eh, pacaran. Dosa tau! Mo langsung kawin aja!”&lt;br /&gt;Panglimadandut : “Apa??? Langsung kawin? Dengan piaraan siapa?”&lt;br /&gt;Abdi                    : “Eh, salah!!! Nikah, dodol!”&lt;br /&gt;Panglimadandut : “Sudah ada calon?”&lt;br /&gt;Abdi                    : “Hehehe, belum.”&lt;br /&gt;Panglimadandut : “Kriteria kamu gimana?”&lt;br /&gt;Abdi                    : “Muslimah, sholehah, cantik, putih, kalem, pinter, kaya raya, anak tunggal, punya rumah pribadi, mobil pribadi, bla..bla..bla..”&lt;br /&gt;Panglimadandut : “Kok ada orang kayak kamu?”&lt;br /&gt;Abdi                    : “Kenapa?”&lt;br /&gt;Panglimadandut : “Edan!”&lt;br /&gt;Abdi                    : “Hehehe, becanda. Maksudnya, kriteria wanita yang kucari itu harus seperti sendal jepit.”&lt;br /&gt;Panglimadandut  : “Wah, wah... sadis tuh... Biar mudah diinjak-injak?”&lt;br /&gt;Abdi                    : ”Yee.. gini-gini anti kekerasan, tau! Maksudnya, cari yang mudah dan murah, tapi dipakenya nyaman banget. Hmm, setidaknya kriteria yang sesuai dengan Hadits Nabi lah. Agama yang utama.”&lt;br /&gt;Panglimadandut : “Eh, udahan ya?”&lt;br /&gt;Abdi                    : “Kenapa, cuma bawa uang dikit?”&lt;br /&gt;Panglimadandut : “Yee…”&lt;br /&gt;Abdi                    : “Trus kenapa?”&lt;br /&gt;Panglimadandut : “Takut ketularan edan!”&lt;br /&gt;Abdi                    : “Yee…”&lt;br /&gt;Panglimadandut : ”Ya udah, tak doakan cepet...”&lt;br /&gt;Abdi                    : ”Amin... Maksudnya doa cepet ketemu jodoh, kan?”&lt;br /&gt;Panglimadandut : ”Bukan! Cepat...sembuh. Hahaha!”&lt;br /&gt;Abdi                    : ”Huh! Menyebalkan. Wis, bubar, bubar!”&lt;br /&gt;Panglimadandut : ”Hoho.. sory becanda. Wasslamlekom.”&lt;br /&gt;Abdi                    : “Kumsalam”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-2156146308543402648?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/2156146308543402648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/chat-bab-4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/2156146308543402648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/2156146308543402648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/chat-bab-4.html' title='Chat'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-6061581134926803111</id><published>2009-06-27T03:04:00.000-07:00</published><updated>2009-11-10T20:35:11.650-08:00</updated><title type='text'>Enak - Nggak enaknya jadi jomblo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkXx59S2FeI/AAAAAAAAAJI/WFnqlBZZclI/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 77px; height: 85px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkXx59S2FeI/AAAAAAAAAJI/WFnqlBZZclI/s200/images.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351949710208144866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Halah, judulnya saja langsung mengundang penasaran. Enak nggak sih? Yah, kalau menurut saya, jomblo itu memang asik kok (Saya menulis tulisan ini sambil menyeka linangan air mata. Hahaha! Tapi masih bisa ketawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya sempat menimbang-nimbang sebelum akhirnya saya memutuskan menjomblo saja daripada ikut kegiatan ekstra kulikuler pacaran. Antara enak-tidak enaknya jomblo. Dari riset yang saya lakukan, (lagi-lagi saya mengadakan penelitian. Cie..), tidak enaknya menjadi jomblo itu nampak sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu. Diejek teman dengan sebutan gay atau suka sesama jenis.&lt;br /&gt;Dua. Belum lagi kalau dibilang nggak laku.&lt;br /&gt;Tiga. Akibatnya, predikat jelek pun bisa nemplok di wajah kita.&lt;br /&gt;Empat. Itupun masih untung kalau mereka tidak nyindir dengan menyanyikan lagu “Cari jodoh”-nya Wali band.&lt;br /&gt;Lima. Kesepian tentu.&lt;br /&gt;Enam.Sengsara sudah pasti.&lt;br /&gt;Tujuh. Merana apalagi.&lt;br /&gt;Delapan. Manyun melihat orang lain saling berpasangan.&lt;br /&gt;Sembilan. Menangis nggak jelas di setiap malam Ahad (kedengarannya nggak enak, yah? Malam minggu deh. Hehehe.)&lt;br /&gt;Sepuluh. Siapa coba yang mendengarkan curhat kita?&lt;br /&gt;Sebelas. Siap-siap teriak: Huaaa…!!! Rasanya ingin bunuh diri! (Hahahah, ini biar terkesan dramatis aja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang giliran enaknya nih. Makanya jangan buru-buru sedih dulu, sebenarnya enak loh jadi jomblo! (Saya yakin ada yang nggak terima dengan pernyataan barusan. Hohoho!).&lt;br /&gt;1. Hidup bebas tanpa intervensi atau monitor orang lain.&lt;br /&gt;2. Hemat pangkal kaya (saya tidak bilang pelit, kan?)&lt;br /&gt;3. Nggak ada yang cemburu.&lt;br /&gt;4. Terhindar dari Toni (itu nama panggilannya, nama panjangnya: SyaiTONI-rojim. )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wadoh! Kok lebih banyak ruginya daripada untungnya? Ah, biarin! Suka-suka saya yang nulis dong. Tapi bener, yang lebih penting itu point 4 keuntungan atau enaknya jadi jomblo. Terhindar dari dosa. Wis, setuju aja!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-6061581134926803111?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/6061581134926803111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/enak-nggak-enaknya-jadi-jomblo-bab-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/6061581134926803111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/6061581134926803111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/enak-nggak-enaknya-jadi-jomblo-bab-3.html' title='Enak - Nggak enaknya jadi jomblo'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkXx59S2FeI/AAAAAAAAAJI/WFnqlBZZclI/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-5913431808153611494</id><published>2009-06-25T07:10:00.000-07:00</published><updated>2009-07-24T02:02:23.743-07:00</updated><title type='text'>KAMMI menjilat ludahnya sendiri (?)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkON84DFVuI/AAAAAAAAAI8/CqOfts3ndbs/s1600-h/Picture2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 105px; height: 130px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkON84DFVuI/AAAAAAAAAI8/CqOfts3ndbs/s200/Picture2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351276859223267042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KAMMI, atau yang biasa dikenal dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, tampaknya mengalami dilematis. Sekalipun mungkin, satu dua diantara mereka akan mengelak dikatakan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, maaf sebelumnya, jika judul pada tulisan ini terlalu menohok, dan terlalu vulgar. Atau, terkesan tidak berakhlak? Ah, maaf, maaf.&lt;br /&gt;Tapi saya punya alasan untuk menulis tulisan ini, setidaknya Kawan2 ikhwan-akhwat yang sudah berkali2 liqa' di Tarbiyah sangat mengerti dengan hadits "Ad-Diinu-Nashihah...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, sebelumnya saya pernah tak sengaja menyaksikan berita di TV tentang aksi/ masyirah/ demonstrasi Kawan2 KAMMI untuk memprotes SBY yang memilih Boediono sebagai Cawapres-nya. Neo-Liberal, tak pernah lepas melekat pada spanduk atau benner untuk sebuah nama Boediono. Barangkali mungkin, itu ditambah rasa kekesalan karena orang yang sodorkan sebagai cawapres dari PKS, Hidayat Nur Wahid, ternyata dimuntahkan oleh SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, aksi demonstrasi yang dilakukan oleh KAMMI ini, tidak dilakukan hanya satu dua kali. Tetapi sampai berkali-kali. Itu artinya, Boediono memang benar2 dianggap sebagai ancaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMUN, seiring berjalannya waktu, suasana mendadak menjadi berubah. Ini terjadi ketika PKS sesudah ditolak mentah2 oleh SBY, PKS menepati janjinya untuk tidak ngambek dan lari dari SBY. Alih2 PKS ngambek, malah PKS meneken kontrak untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat sebagai anggota pemenangan pasangan capres-cawapres SBY-Boediono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi KAMMI pun mendadak menjadi reda. Atau menghilang sama sekali? Ah, ternyata itu benar. Tak ada lagi suara lantang KAMMI untuk seorang Boediono Neo-Liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini rasanya KAMMI menjadi dilema, antara mendukung dan bughat (menentang) keputusan 'pawangnya', PKS. Karena mau tidak mau memang keadaan telah menuntut dua reaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau KAMMI sudah berani menjadi "anak durhaka" dengan menentang keputusan PKS, itu artinya KAMMI sudah menjadi "pengkhianat". Tetapi jika KAMMI tetap mendukung walaupun tahu itu pahit, (atau malah dikira manis?), maka sungguh benar judul pada tulisan ini. KAMMI TELAH MENJILAT LUDAHNYA SENDIRI.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-5913431808153611494?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/5913431808153611494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/kammi-menjilat-ludahnya-sendiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/5913431808153611494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/5913431808153611494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/kammi-menjilat-ludahnya-sendiri.html' title='KAMMI menjilat ludahnya sendiri (?)'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkON84DFVuI/AAAAAAAAAI8/CqOfts3ndbs/s72-c/Picture2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-1499034311058268291</id><published>2009-06-25T06:35:00.000-07:00</published><updated>2009-06-29T06:30:10.119-07:00</updated><title type='text'>Pilihan Kata Kang Abik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkOEr81FEVI/AAAAAAAAAIc/eEEsLdcQH1Y/s1600-h/Picture1.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkOEr81FEVI/AAAAAAAAAIc/eEEsLdcQH1Y/s200/Picture1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351266672844280146" /&gt;&lt;/a&gt; Bukan bermaksud apa2, karena saya tak pernah tahu isi hati seseorang. Saya hanya mau menanyakan 2 pilihan kata Kang Abik (Panggilan akrab Habiburrahman el-Shirazy):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Istilah Kafir Dzimmi untuk wanita non-muslim Amerika yang telah melancong di negara mesir (Novel AAC)&lt;br /&gt;2. Definisi Cinta yang mungkin dihiperbola hingga keluar istilah (kurang lebih bunyinya), "... Cinta mampu merubah Iblis menjadi Malaikat..." (Novel KCB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun hal tersebut merupakan keseleo tangan (ini karena ada istilah keseleo lidah), novel yang sudah dicetak ulang  puluhan kali itu, yang sudah mendapat berbagai pujian dan penghargaan, hingga tertulis di depan covernya kata "fenomenal", "spektakuler", dsb, kenapa kata-kata yang "bermasalah" tersebut, tidak hendak direvisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya saya terlalu lugu untuk mengkritisi sastra, maka permintaan maaf saya tak terhingga kepada orang yang bersangkutan, berikut para penggemarnya. Terlepas dari itu semua, atas hal-hal yang positif dalam novel-novel tersebut, patut kita sambut dengan luar biasa gembira. Karena mungkin, hasil karya pada saat ini, di zaman yang fana ini, sangat sulit ditemukan suasana syar'i, dan nilai moralitas yang sesuai dengan tuntunan Nabi. Wallahu a'lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-1499034311058268291?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/1499034311058268291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/pilihan-kata-kang-abik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/1499034311058268291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/1499034311058268291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/pilihan-kata-kang-abik.html' title='Pilihan Kata Kang Abik'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SkOEr81FEVI/AAAAAAAAAIc/eEEsLdcQH1Y/s72-c/Picture1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-757315202043521650</id><published>2009-06-09T15:45:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T00:00:53.165-07:00</updated><title type='text'>Aura Aurat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si9ZhjqXobI/AAAAAAAAAIA/ZVfYNfnCpTA/s1600-h/aaa2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 144px; height: 145px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si9ZhjqXobI/AAAAAAAAAIA/ZVfYNfnCpTA/s200/aaa2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345589715755573682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;Buka mata lebar-lebar! Dan terbelalak tontonan-tontonan ”sahwat” yang berserakan. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi, dengan sangat mudah kita bisa mendapatkan tayangan-tayangan tak senonoh itu. Malah salah seorang teman saya berseloroh, ”Dimana kalian berpijak, di sana ada sahwat”. Hahaha! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Inilah dunia. Internet kurang sedap tanpa desktop Gairah cinta. Acara televisi juga kurang sreg tanpa Film gelora asmara. Majalah-koran tak segan menampilkan gambar kambing terbuka. Namun janganlah ditanya, karena ini memang 'surga dunia'. Atas nama seni rupa, kebebasan dan hak asasi manusia ini lantas dilindungi oleh Negara. Anda tahu kenapa? Jawabannya, karena kehidupan telah dipisahkan dari aturan Agama. Sekularisme!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Tak dapat kita pungkiri, ”perusakan moral” itu banyak kita dapati pada gambar-gambar iklan, di internet, VCD, dan tentu tidak ketinggalan pula televisi. Cukup itu? Oh, tentu tidak. Bahkan, di kehidupan nyata pun tidak mau kalah. Ah, tidaklah perlu saya beri contoh, Anda tentu sudah paham maksud saya.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Saya, adalah dilahirkan di pelosok desa. Yang dalam hal berpakaian, lebih khusus bagi perawan desanya, kebanyakan masih memakai pakaian yang terkesan sopan. Mereka sepertinya masih malu-malu untuk memamerkan properti “aurat” pribadinya. Tapi itu dulu, waktu saya masih ingusan. Sekarang, jelaslah berbeda. Paling tidak, 80% sudah berubah memakai pakaian “modern”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Kini saya sudah dewasa, sudah kuliah, di kota besar pula, tepatnya di Surabaya. Nah, bukan Surabaya namanya kalau perempuan-perempuan mudanya tidak berani berpakaian ala sundel bolong. Diakui atau tidak, memang saban hari itulah pemandangan yang ada. Hampir di segala tempat: di kampus, di pusat perbelanjaan, di pasar rakyat, di angkot, di terminal, di tempat-tempat hiburan, bahkan di jalan depan kontrakan saya, sangat mudah dijumpai aura-aura berbau sahwat. Seakan kita ini dipaksa untuk maksiat.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Seorang yang merasa tertuduh barangkali akan berkata, ”Lho, itu kan yang salah yang otaknya suka ngeres!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Wahai kawanku...&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Apa yang engkau katakan itu memang benar. Benar adanya namun tidak kah engkau sadar, bahwa otak ngeres itu setidaknya dipicu oleh adanya medium dan stimulus, yang ngeres pula? Tidak kah engkau juga tahu, hampir seluruh introgasi polisi yang menanyakan remaja belasan tahun kenapa mereka berbuat cabul, maka serta merta mereka mengaku disebabkan sering melihat tayangan-tayangan porno. Sekali lagi, tayangan porno, bukan film sinchan!&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Oleh karena itu kawanku... pertanyaan saya ini tolong dijawab, salahkah saya jika harus menuduh tukang umbar aurat sebagai satu penyebab kerusakan moral?&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Terlepas dari itu semua, sekali lagi inilah realitas. Bahkan saya yakin, di tempat-tempat lain setali tiga uang. Artinya, sama saja. Terlebih di kota-kota besar yang lain. Lha, terus apa urgensinya pembahasan ini bagi kita? Hmm, ini bukan hanya masalah urgensi atau tidak. Karena setidaknya, dengan realitas seperti diatas, kita harusnya paham, bahwa sudah seharusnya kita pasang kuda-kuda. Hayo, jangan ngeres lagi! Maksud saya, kita harus siap siaga, bisa menjaga diri, agar hati kita tidak terkotori oleh tayangan-tayangan yang kurang senonoh itu. Lebih-lebih, jangan sampai kita terjerumus lebih parah karenanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Jauh sebelum kita dilahirkan, sekitar 15 Abad silam, Allah SWT sudah wanti-wanti, agar para hambanya selalu menjaga diri dari godaan-godaan sahwat,&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;“Katakanlah pada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya...” &lt;/em&gt;(QS. An-Nur : 30)&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Saya kira, ayat ini sudah sangat jelas, yaitu perintah untuk selalu menjaga diri dari fitnah “sahwat” kepada setiap orang yang beriman, yang di KTP-nya tercatat beragama Islam. Tapi masalahnya, seperti yang dikeluhkan oleh teman saya waktu lalu, yaitu di jaman sekarang ini, yang sedang hot-hotnya dibicarakan goyang ngebor ini, bagaimana cara kita untuk menahan/menundukkan pandangan? Sementara di sekeliling kita, hampir di setiap tempat dan waktu, kita harus berhadapan atau bercampur baur dengan hal semacam itu. Maka tak bisa di-elakkan pula teman saya itupun pernah komplain, “Apa saat di angkot, saat mengendarai kendaraan, dan saat belanja di pasar, harus tetap Ghadhul bashar (menundukkan pandangan)? Lha, apa jadinya kalau begitu?” Lantas dia melanjutkan, “Bisa-bisa saat di angkot malah nyasar, saat mengendarai kendaraan motornya nyosor pagar tetangga, saat belanja pakaian di pasar, eh, nyasar di toko bangunan! Lha, kalau begitu, konsep Ghadhul bashar ini bisa berbahaya sekali.” Hahaha, terang saja saya langsung terpingkal-pingkal mendengarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Mungkin tidak hanya teman saya yang berpendapat seperti itu, jangan-jangan Anda pun tak berpendapat berbeda. Mari kita jujur-jujuran saja, saya bertanya kepada Anda, apakah para pengemban dakwah, yang terkenal dengan semangat dakwahnya yang menggerutu, bisa menjamin dirinya akan ”tahan” dengan adanya godaan-godaan yang menggoda iman itu? Jawabannya, tentu bisa. Akan tetapi... yakinlah, tidak sedikit dari mereka yang tergoda. Akhi, Ukhti, saya tidak berbohong, kan?&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;”Hei saudara penulis, yang biasa matanya keranjingan kan cowok. Jadi jangan disamakan dengan kaum Hawa dong!” Hahaha. Sabar, sabar. Kalau tidak merasa mbok ya nggak usah tersinggung. Tapi terus terang saja, sejauh yang saya ketahui, tidak sedikit juga perempuan yang tak jauh berbeda dengan realitas diatas. Sudah banyak bukti kok. Apa minta dituliskan juga? Ah, kiranya kurang sopan jika banyak saya beberkan disini. Hehehe...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Sudahlah Kawan. Jangan berbelit, jangan berkelit. Ini hanya satu diantara kasus yang ada, yang sekali lagi menuntut kita untuk bisa sadar diri. Sadar, bahwa inilah sebuah realitas yang sengaja menantang perang Iman kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Nah, pertanyaannya, sejauh manakah Anda siap perang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-757315202043521650?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/757315202043521650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/aura-aurat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/757315202043521650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/757315202043521650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/aura-aurat.html' title='Aura Aurat'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si9ZhjqXobI/AAAAAAAAAIA/ZVfYNfnCpTA/s72-c/aaa2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-9047925510447311185</id><published>2009-06-09T06:36:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T06:40:16.488-07:00</updated><title type='text'>Azab-azab Cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si5mHneqPLI/AAAAAAAAAGc/SgVtVkJbRXI/s1600-h/aac1.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si5mHneqPLI/AAAAAAAAAGc/SgVtVkJbRXI/s400/aac1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345322088778054834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si5l7DB602I/AAAAAAAAAGU/ho42FvBlEx8/s1600-h/aac2.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si5l7DB602I/AAAAAAAAAGU/ho42FvBlEx8/s400/aac2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345321872835400546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-9047925510447311185?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/9047925510447311185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/azab-azab-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/9047925510447311185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/9047925510447311185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/azab-azab-cinta.html' title='Azab-azab Cinta'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si5mHneqPLI/AAAAAAAAAGc/SgVtVkJbRXI/s72-c/aac1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-7601321455149590721</id><published>2009-06-09T06:30:00.000-07:00</published><updated>2009-11-10T20:33:55.150-08:00</updated><title type='text'>Riset</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si7sVOVX_CI/AAAAAAAAAHI/BCdYzlHGh_Y/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 111px; height: 119px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si7sVOVX_CI/AAAAAAAAAHI/BCdYzlHGh_Y/s200/2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345469657104514082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Wajah rata, hidung pesek, bodi kurang strategis, kulit hitam bersisik, ditambah kantong bolong tidak selalu menjadi ukuran seseorang bernasib jadi jomblo. Tapi dalam kenyataannya, penampilan memang sangat diperlukan untuk menaklukkan gebetan. Setidaknya untuk jaman sekarang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Begitulah opini pada umumnya. Terbukti ketika saya melakukan riset kepada beberapa responden dengan tema “Cowok ganteng Vs Cowok jelek”, hasilnya sungguh mengagetkan. Hampir semuanya berpendapat cowok jelek itu susah lakunya. Satu dua responden ada sih yang menyanggah alasan itu, tapi tetap dengan argumen yang tidak sedap. Mereka mengatakan, “Buktinya ada juga yang mau dengan cowok jelek, setidaknya dengan alasan kasian. Kagak tega ngeliat wajah melasnya. Bunuh diri malah jadi berabe. Huahaha”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah beberapa contoh celotehan responden yang sempat saya tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok ganteng pendiam&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Woow, cool banget...&lt;br /&gt;Kalo cowok jelek pendiam&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: ih kuper...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok ganteng jomblo&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Pasti dia perfeksionis&lt;br /&gt;Kalo cowok jelek jomblo&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Sudah jelas...kagak laku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok ganteng berbuat jahat&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Nobody's perfect&lt;br /&gt;Kalo cowok jelek berbuat jahat&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Pantes...tampangnya kriminal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok ganteng nolongin cewe yang diganggu preman&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Wuih jantan...kayak di filem-filem&lt;br /&gt;Kalo cowok jelek nolongin cewe yang diganggu preman&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Pasti premannya temennya dia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok ganteng dapet cewek cantik&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Klop...serasi banget...&lt;br /&gt;Kalo cowok jelek dapet cewek cantik&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Pasti main dukun...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok ganteng diputusin cewek&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Jangan sedih, khan masih ada aku...&lt;br /&gt;Kalo cowok jelek diputusin cewek&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: ...(terdiam, tapi telunjuknya meliuk-liuk dari atas ke bawah, kasiaaan deh loh..)...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok ganteng ngaku indo&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Emang mirip-mirip bule sih...&lt;br /&gt;Kalo cowok jelek ngaku indo&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Pasti ibunya Jawa bapaknya robot...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok ganteng penyayang binatang&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Perasaannya halus...penuh cinta kasih&lt;br /&gt;Kalo cowok jelek penyayang binatang&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Sesama keluarga emang harus menyayangi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok ganteng bawa BMW&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Matching...keren luar dalem&lt;br /&gt;Kalo cowok jelek bawa BMW&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Mas, majikannya mana?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok ganteng males difoto&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Pasti takut fotonya kesebar-sebar&lt;br /&gt;Kalo cowok jelek males difoto&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Nggak tega ngeliat hasil cetakannya ya?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok ganteng naek motor gede&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Wah kayak lorenzo lamas...bikin lemas...&lt;br /&gt;Kalo cowok jelek naek motor gede&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Awas!! Mandragade lewat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok ganteng nuangin air ke gelas cewek&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Ini baru cowok gentlemen&lt;br /&gt;Kalo cowok jelek nuangin air ke gelas cewek&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Naluri pembantu, emang gitu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok ganteng bersedih hati&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Let me be your shoulder to cry on&lt;br /&gt;Kalo cowok jelek bersedih hati&lt;br /&gt;Cewek-cewek bilang: Cengeng amat!!...laki-laki bukan sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok ganteng baca tulisan ini&lt;br /&gt;Langsung ngaca sambil senyum-senyum kecil, lalu berkata, "Life is beautifull"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo cowok jelek baca tulisan ini,&lt;br /&gt;Frustasi, ngambil tali jemuran, trus triak sekeras-kerasnya,&lt;br /&gt;"HIDUP INI KEJAAAAMMM....!!!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-7601321455149590721?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/7601321455149590721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/wajah-rata-hidung-pesek-bodi-kurang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7601321455149590721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7601321455149590721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/wajah-rata-hidung-pesek-bodi-kurang.html' title='Riset'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si7sVOVX_CI/AAAAAAAAAHI/BCdYzlHGh_Y/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-2724154508322911759</id><published>2009-06-09T06:26:00.000-07:00</published><updated>2009-11-10T20:36:42.876-08:00</updated><title type='text'>PJRI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si7tk_sYZdI/AAAAAAAAAHo/aTJCwP0R1mc/s1600-h/4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si7tk_sYZdI/AAAAAAAAAHo/aTJCwP0R1mc/s200/4.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345471027564013010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebuah Pengantar...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Tidak sedikit yang bertanya kepada saya, “Judulnya kok berbau politik banget sih?”. Sebenarnya ada asal-muasalnya. Pertama, sejujurnya saya mau sesumbar. Paling tidak kepada para pemimpin partai di negeri ini. Hei, saya serius! Awalnya dalam hati saya bicara, “emangnya hanya orang yang berduit yang bisa mendirikan partai? Nih, saya juga bisa. PJRI, alias Partai Jomblo Raya Indonesia!”. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kedua, saya turut bersedih hati serta prihatin karena banyak dari teman saya yang nggak laku-laku. Parahnya, baru-baru ini mereka selalu mengiringi radio tape dan berharap request lagu “cari jodoh”-nya wali diputarkan tiga kali sehari. Katanya, biar pas seperti anjuran dokter untuk menenggak obat stresnya. Waduh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, tidak Cuma stres! Tapi ada yang sampai nekat memotong (maaf) kemaluannya sendiri. Beberapa hari yang lalu (Mei 2009), sempat diberitakan di TV. Kronologinya, si entong ini (bukan nama sebenarnya), ditolak dua kali oleh cewek yang diincarnya, -yang terakhir anak seorang dokter-. Dan beberapa minggu setelah itu dia mengalami stres, depresi hebat. Hingga akhirnya dia nekat mengambil pisau di dapur, dan… simsalabim, adakadabra!&lt;br /&gt;Stop! Jangan bersedih. Belum laku bukan berarti kamu jelek, kecuali kalo memang pada dasarnya kamu jelek. Belum laku juga bukan berarti nggak bakalan nggak merasakan manisnya cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah bersedih, kawan. Inilah saudaramu, datang dengan membawa secercah harapan baru. Partai Jomblo Raya Indonesia; PJRI. Partai untuk menuntut persamaan hak kebahagiaan kaum jomblo, Partai yang mainstream geraknya underground kepada para remaja, dan inilah Partai idaman seluruh umat yang belum laku!!! (kedengarannya nggak enak yah? Hehehe).&lt;br /&gt;Yah, apapun komentar kalian terserah. Saya nggak mau pusing. Saya saja membuat tulisan ini berkat kejombloan saya. Yup, bagi saya, jomblo bisa menambah kreatif, produktif, inovatif, namun tetap positif. Sempat ada yang bertanya, ini namanya novel atao apa sih? Saya jawab saja, embuh! Yah, apapun jadinya yang penting asoy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya juga enggan, tapi karena merasa dituntut dengan banyaknya yang menanyakan karya baru, maka beginilah jadinya. Bismillah, saya harap bisa menghibur para jomblo di seluruh pelosok Nusantara.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-2724154508322911759?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/2724154508322911759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/pjri-partai-jomblo-raya-indonesia-bab-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/2724154508322911759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/2724154508322911759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/pjri-partai-jomblo-raya-indonesia-bab-1.html' title='PJRI'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si7tk_sYZdI/AAAAAAAAAHo/aTJCwP0R1mc/s72-c/4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-5391840887646480914</id><published>2009-06-09T06:23:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T16:11:18.370-07:00</updated><title type='text'>Menikmati Badai</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si7sATgJNnI/AAAAAAAAAHA/ZkbDSFij5Zs/s1600-h/1.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 143px; height: 107px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si7sATgJNnI/AAAAAAAAAHA/ZkbDSFij5Zs/s200/1.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345469297714607730" /&gt;&lt;/a&gt;Anda boleh mengerutkan kedua alis mata membaca judul di atas. Anda boleh heran, tapi saya tidak. Karena bagaimanapun, setuju atau tidak, kita harus percaya bahwa setiap orang pasti akan menghadapi badai ujian. Berat ataupun ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, hidup itu tak selamanya cerah. Kadang gembira, kadang merana. Kadang indah, kadang pula terasa hampa. Maka sebabnya, tidak tepat bagi kita untuk berlarut-larut dalam kesedihan. Karena memang, itu sudah menjadi Ketentuan. Hanya mungkin, kita belum tahu jalan menuju keluar. Atau mungkin, kita tidak terlalu tahan untuk bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah kakek saya, yang bisa terbilang S3 alias Sudah Sangat Sepuh! Di mata saya, yang paling menggelitik adalah masalah kesehatannya. Kakek saya ini sehari-hari tampak sehat-sehat saja. Tanpa tongkat, tanpa kacamata. Yah, siapapun maklum, panjang umur dan bugar sekaligus sungguh bukan perkara gampang. Memang, kakek menyimpan “penyakit tua”, tetapi tampaknya dia berhasil me-manage-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang-orang yang berusia di atas 50 tahun, penyakit pada beberapa organ tubuh adalah sesuatu yang lumrah dan alamiah. Katakanlah, sakit jantung, asam urat, diabetes dan lain-lain. Mau dihilangkan, ah mana mungkin? Adalah masuk akal hidup bersama penyakit tersebut. Realistis sajalah! Maksudnya, me-menage penyakit itu agar tidak bertambah parah. That’s right! Bayangkan jika kakek merasa khawatir sepanjang hari. Bisa jadi, kesehatannya malah semakin memburuk. Pasti itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih kakek saya mengeluh dengan penyakitnya, justru kakek menikmati hari tuanya. Menikmati penyakit? Ah, agak lucu mendengarnya. Tapi kenapa tidak, nyatanya kakek bisa.&lt;br /&gt;Untuk menikmati badai, baiknya kita belajar dari orang Filipina. Di sana, badai adalah fenomena alam yang rutin terjadi. Namun demikian, masyarakat Filipina betah-betah saja tinggal di negaranya. Mereka tidak pernah merasa terusik. Jangan heran jika akan terjadi badai, masyarakat Filipina malah kalem dan adem-ayem. Aneh? Hm, tidak juga. Ternyata mereka mampu berdamai dengan badai. Bagi mereka, adalah mustahil untuk menyingkirkan badai. Setidak-tidaknya dengan teknologi saat ini. yah, sekali lagi, badai adalah suatu fenomena alam yang rutin terjadi di wilayah subtropis seperti Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mau tidak mau, apa yang dapat dilakukan ialah hidup bersama badai. Dalam artian lebih jauh, meminimalkan dampak dari badai tersebut. Persis seperti Jepang dengan gempa buminya.&lt;br /&gt;Anda sekarang sedang menghadapi masalah. Adalah konyol jika kita lari dari masalah tersebut. Yakinlah, tidak manjadi hilang masalah itu, malah justru akan menemukan masalah yang baru. Mari kita belajar menikmati apapun yang menimpa kita seperti kita menikmati siang dan malam. Karena bagaimanapun, siapapun orangnya, di muka bumi ini, mau tidak mau pasti akan menemukan masalah. Tidak akan menjadi kesalahan fatal bagi kita untuk bersabar, dan justru akan mendapatkan kekuatan baru dengan menikmati masalah sebagai proses pendewasaan. Bagaimana pendapat Anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-5391840887646480914?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/5391840887646480914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/menikmati-badai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/5391840887646480914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/5391840887646480914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/menikmati-badai.html' title='Menikmati Badai'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si7sATgJNnI/AAAAAAAAAHA/ZkbDSFij5Zs/s72-c/1.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-7339289508272817388</id><published>2009-06-09T06:16:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T07:18:11.381-07:00</updated><title type='text'>3 Rumus menghadapi masalah</title><content type='html'>&lt;span&gt;&lt;span&gt;”Solusi kongkritnya?”. Seperti itulah kira-kira model pertanyaan yang sering saya terima dari teman-teman saya ketika mereka sedang ada masalah. Saya sendiri sebenarnya merasa kurang nyaman dijadikan tempat curhat, mengingat saya sendiri kadangkala sedang banyak masalah.&lt;br /&gt;Siapa yang tidak pernah berhadapan dengan masalah dalam hidup ini? Terus terang saja, sampai detik ini saya belum pernah menjumpai orang yang tidak pernah merasa punya masalah. Malah, saya berani mengatakan bahwa sejak kita dilahirkan, itu sama halnya kita mulai dihadapkan dengan masalah. Dunia adalah tempat ujian bagi para hamba, diuji dengan berbagai masalah. Betul begitu, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk menghadapi masalah, menurut saya cara mengatasinya mudah saja. Cuma masalahnya, apakah Anda yakin dengan rumus yang akan saya tunjukkan ini? 3 rumus yang sederhana, tanpa berbelit, tanpa berkelit. Namun jangan kaget dan jangan tertawa, karena siapapun sebenarnya sudah paham dengan rumus saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, saya tidak akan berlama-lama. Karena sekarang sudah pukul 01.20 dini hari, dan saya sudah mengantuk, maka sebaiknya saya to the point saja. Lagian saya tahu Anda juga tidak sabar untuk mengetahui rumus ”keramat” ini. Simaklah baik-baik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3 Rumus menghadapi masalah:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Hadapilah kenyataan!&lt;br /&gt;Kedua, jangan lupa rumus yang pertama.&lt;br /&gt;Ketiga, ingatlah rumus yang kedua.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-7339289508272817388?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/7339289508272817388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/3-rumus-menghadapi-masalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7339289508272817388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7339289508272817388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/3-rumus-menghadapi-masalah.html' title='3 Rumus menghadapi masalah'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7082285535193046146.post-7853151053239668621</id><published>2009-06-09T05:53:00.001-07:00</published><updated>2009-06-09T16:16:17.893-07:00</updated><title type='text'>Kesurupan Cinta (edisi revisi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si7tOUbxTwI/AAAAAAAAAHg/dktJ7VQ9Fvk/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 141px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si7tOUbxTwI/AAAAAAAAAHg/dktJ7VQ9Fvk/s200/3.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345470637994495746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Alhamdulillah sudah dibedah di:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aula Depag Bojonegoro (sekitar 300 peserta)&lt;br /&gt;2. Pendopo kecamatan Babat (sekitar 200 peserta)&lt;br /&gt;3. SMA N 1 Babat (sekitar 500 peserta)&lt;br /&gt;5. UNISLA (Diliput televisi daerah: Citra TV - Sekitar 100 peserta)&lt;br /&gt;6. UNISDA Lamongan (sekitar 100 peserta)&lt;br /&gt;7. SMP N 1 Laren (sekitar 50 peserta)&lt;br /&gt;8. STIKES Muhammadiyah lamongan : kamis, 12 Feb 2009. Pukul 09.00 WIB.&lt;br /&gt;9. SMA Negeri 3 Tuban : Sabtu, 14 Feb 2009. Pukul 09.00 WIB.&lt;br /&gt;10. Gedung PWRI Tuban : Ahad, 15 Feb 2009 Pukul 08.00 WIB.&lt;br /&gt;11. SMP Megeri 3 Bojonegoro: Ahad, 22 Feb 2009&lt;br /&gt;12. Mojokerto: Sabtu, 09 Mei 2009.&lt;br /&gt;13. ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk EO, bisa menghubungi:&lt;br /&gt;* Wil LA dan sekitarnya:&lt;/span&gt;&lt;span&gt; 08179379170 Ust.Ahmad Hasanan Mustaqbal [Pengasuh Islamuda organizer]&lt;br /&gt;* Wil Sby dan sekitarnya: 08813165633 M. Aris [Sekjen GEMA Pembebasan IAIN Sby]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7082285535193046146-7853151053239668621?l=ahsanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/feeds/7853151053239668621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/kesurupan-cinta-edisi-revisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7853151053239668621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7082285535193046146/posts/default/7853151053239668621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahsanhakim.blogspot.com/2009/06/kesurupan-cinta-edisi-revisi.html' title='Kesurupan Cinta (edisi revisi)'/><author><name>Ahsan Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17377576621961444247</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/SuUgKqDXBmI/AAAAAAAAANQ/H1UtQwpqkvc/S220/5089_1046864946813_1681353746_84881_155175_s.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_v9wX-8olUvY/Si7tOUbxTwI/AAAAAAAAAHg/dktJ7VQ9Fvk/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
